Alarm Merah di SD 108
Bocah Korban Bullying Tewas, Pengamat Pendidikan bongkar Kelalaian Sekolah: Kepsek harus dicopot
Foto: Ist
PEKANBARU , RANAHRIAU.COM- Kasus perundungan di SD 108 Bukit Raya bukan lagi sekadar tragedi. Ini tamparan keras untuk dunia pendidikan Pekanbaru—bahkan mungkin Indonesia.
Seorang siswa yang disebut sudah berulang kali menjadi korban bullying, akhirnya meninggal. Dan publik bertanya-tanya: di mana sekolah ketika semua ini terjadi?
Pemerhati Sosial Kota Pekanbaru, Rahmat Handayani, tak lagi berbasa-basi. Ia menuding sekolah lalai, lembek, dan gagal menjalankan fungsi pembinaan paling dasar.
“Korban ini sebelumnya sudah pernah dirundung. Tapi apa? Selesai dengan damai. Tanpa pembinaan. Tanpa tindakan konkret.” tegas Rahmat, menyindir tajam kultur “damai-damai saja” yang sering dijadikan alasan untuk menutup kasus.
Menurut Rahmat, pola ini bukan hanya keliru, ini berbahaya. Karena setiap kasus yang “didamaikan” tanpa pembinaan hanyalah menunggu waktu untuk meledak dan kali ini, ledakannya memakan korban jiwa.
Guru BK dan Kepsek Disorot: Mana Fungsinya?
Rahmat bahkan menuding dua elemen penting sekolah—Guru BK dan Kepala Sekolah—tak menunjukkan jejak kerja yang layak disebut pencegahan.
“Tak ada program pembinaan. Tak ada upaya konkret. Tak ada kegiatan yang dibuat khusus untuk mencegah bullying. Guru BK hanya ada di struktur, tapi tidak hadir dalam fungsi,” kritiknya pedas.
Dan Kepala Sekolah?, Rahmat menyebut tak ada kepemimpinan yang terlihat.
Solusi Rahmat: Edukasi 10 Menit yang Bisa Jadi Penyelamat
Ia mengusulkan langkah sederhana tapi tegas: setiap guru, tiap mata pelajaran, wajib memberi edukasi 10 menit tentang bahaya bullying dan pentingnya saling menghargai.
“Anak-anak harus dibiasakan paham nilai moral. Itu bisa dimulai di setiap kelas, setiap hari, dari semua guru,” tegasnya.
Desak Disdik: ‘Jangan Jadi Penonton! Copot Kepsek yang Lalai!’
Rahmat mendesak Dinas Pendidikan Pekanbaru turun tangan bukan sekadar membuat pernyataan, tapi memberikan sanksi nyata.
“Kadisdik harus tegas. Kalau Kepala Sekolah tak mampu membina, copot saja. Jangan menunggu korban berikutnya,” ujarnya tajam.
Gadget, “Guru Kedua” yang Tak Terbendung
Rahmat tak menutup mata soal tantangan zaman: gadget yang menjadi “guru kedua” dan membanjiri anak-anak dengan konten yang tak selalu sehat.
Namun ia menolak menjadikan itu sebagai alasan bagi sekolah untuk abai.
“Pengaruh gadget memang besar. Tapi itu bukan pembenaran bagi sekolah untuk melepas tanggung jawab. Justru karakter moral harus semakin diperkuat,” tekannya.
Pendidikan Sedang Krisis, dan Krisis Tak Bisa Dirawat Dengan Diam
Rahmat berharap kasus SD 108 ini menjadi alarm keras bagi seluruh sekolah di Pekanbaru.
Bahwa pengawasan bukan formalitas.
Pembinaan bukan pilihan. Bllying bukan sekadar masalah “anak-anak”.
Ini krisis moral dan krisis tidak pernah selesai dengan diam, palagi dengan “damai-damai saja”.
Jika dibiarkan, bukan tak mungkin tragedi SD 108 hanya menjadi pembuka dari daftar panjang korban berikutnya.


Komentar Via Facebook :