Skandal Senyap Minyak Siak: Marwah Sultan Terancam Terkubur di balik Kerugian BSP

Skandal Senyap Minyak Siak: Marwah Sultan Terancam Terkubur di balik Kerugian BSP

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Di tepian Sungai Siak, sejarah pernah tegap berdiri. Namun hari ini, di tanah yang dulu menjadi pusat kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura, bau harum masa lalu tergantikan oleh aroma getir: perusahaan kebanggaan daerah, PT Bumi Siak Pusako (BSP), merosot tajam hingga nyaris tersungkur.

Yang membuatnya lebih menyakitkan:
suara protes justru datang dari darah biru Kesultanan sendiri.

Zuriat Sultan Angkat Suara: “BSP Itu Marwah! Jangan Dipermalukan!

H. Tengku Syed Muhammad Amin, keturunan Sultan Syarif Kasim II, melepaskan pernyataan yang lebih mirip tamparan publik:

“BSP adalah marwah Siak. Bukan sekadar perusahaan minyak.”

Nada Tengku Amin tidak bergetar ia mengeras. Kalimat-kalimatnya membawa aroma sejarah yang sedang dipertaruhkan.
Sebab dari kacamata zuriat Sultan, BSP bukan entitas bisnis. BSP adalah warisan, legitimasi, dan wibawa Siak di mata Indonesia.

Dan ketika BSP runtuh—marwah ikut dikubur.

Poduksi Runtuh Drastis: Dari 8.000 ke 2.000 BPH — Ada Apa?

Mari bicara data, bukan dongeng: 2002–2022: BSP berjalan dengan relatif stabil.

Selepas mengambil alih penuh 2022: kurva produksi rontok. Dulu: 8.000 barel per hari. Sekarang: sekitar 2.000 barel per hari.


Turun lebih dari setengah — dan tidak ada yang menjelaskan secara meyakinkan ke publik.

Yang lebih parah: Distribusi dari pipa turun kelas ke truk!

Biaya membengkak. Efisiensi ambruk. Seolah BSP sedang berjalan mundur ke era kolonial.

Dua Peringatan SKK Migas: Alarm Keras yang Seperti Diabaikan

SKK Migas, lembaga teknis yang jarang “berteriak”, kali ini sampai dua kali memberi ultimatum:

1. Status Darurat (Maret 2024) – tekanan tinggi di sumur.

2. Surat Slow Response (Juni 2024) – BSP dianggap lamban dalam penanganan.

Bahasa birokrasi ini sebenarnya punya makna yang tidak perlu ditafsirkan ulang:

“BSP sedang kacau.”

Dan jika ini berlanjut, wewenang pengelolaan bisa saja dicabut.
Untuk Siak, itu bukan sekadar kerugian — itu penghinaan historis.

"Sumur Ini Tanah Sultan.” Zuriat Mengingatkan Sejarah yang Dilupakan

Tengku Amin menegaskan bahwa ladang minyak bukan tanah kosong. Ia bagian dari jejak panjang Kesultanan:

Pada 1930-an, Sultan Syarif Kasim II sendiri yang membuka izin pertama kepada perusahaan Belanda NPPM.

Energi Siak adalah legacy, bukan bonus.

BSP adalah simbol modern dari ikhtiar Sultan.


Namun apa yang terjadi hari ini? Zuriat Sultan tidak melihat kontribusi nyata. Tidak untuk Siak. Tidak untuk keluarga besar Kesultanan.

Yang terlihat justru:

Kerugian

Kebocoran kinerja

Ancaman pencabutan pengelolaan

Dan hilangnya kehormatan daerah

"Kalau minyak habis, wajar. Tapi marwah jangan ikut habis.” Inilah kalimat yang menghantam paling keras.

Tengku Amin seolah ingin mengatakan:

“Kalian boleh gagal sebagai manajer, tapi jangan seret nama Siak ikut jatuh.”

Ini bukan lagi kritik.
Ini seruan dari pewaris sejarah, penanda bahwa BSP telah menyentuh garis merah.

Masa Depan BSP: Bangkit atau Dimatikan?

Pertanyaannya hari ini lebih brutal: Apakah pemerintah daerah sadar bahwa BSP sudah di bibir jurang?

Apakah para pengelola berani membuka data, bukan sekadar menutup lubang dengan konferensi pers manis?

Apakah rakyat Siak rela jika ladang minyak yang dulu dititipkan Sultan kini berpindah kendali akibat kelalaian?


Dan yang paling menohok: apakah marwah Kesultanan Siak sedang dipertaruhkan oleh tangan-tangan yang tak paham sejarah?

Jangan Biarkan Ini Jadi “Skandal Minyak Siak”

Sejarah tidak memberikan ruang bagi mereka yang ikut merusaknya.
Dan hari ini, suara zuriat Sultan menggema lebih keras daripada suara mesin pompa minyak.

“Jangan biarkan BSP menjadi catatan kegagalan.”

Jika suara ini tidak didengar, jangan salahkan sejarah ketika ia menulis bab baru yang memalukan tentang Siak:
kisah tentang bagaimana sebuah kerajaan besar kalah bukan oleh penjajah,
tapi oleh kelalaiannya sendiri.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :