Abdul Wahid Dijebak? Drama di balik Operasi KPK di Riau yang Makin Panas!

Abdul Wahid Dijebak? Drama di balik Operasi KPK di Riau yang Makin Panas!

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Aroma permainan politik semakin menyengat di Riau. Di tengah gegap gempita pemberantasan korupsi, muncul desas-desus liar: “Apakah Gubernur Riau Abdul Wahid sebenarnya dijebak?”

Operasi KPK yang menjerat sang gubernur seolah membuka kotak Pandora penuh kepentingan. Sumber internal pemerintahan daerah berbisik ada “tangan-tangan halus” yang sejak lama mengincar kursi panas di Balai Serindit. Skenarionya rapi: jebakan terstruktur, sistematis, dan sangat politis.

Beberapa pejabat di lingkungan Pemprov Riau bahkan menyebut, sejak awal, Abdul Wahid sudah menjadi target politik, bukan semata hukum.

Wahid dikenal keras, sulit dikendalikan, dan sering menolak “jatah proyek” bagi kelompok tertentu. Dalam dunia politik lokal, sikap seperti itu adalah dosa besar—terlalu jujur di tengah rawa-rawa kekuasaan.

KPK memang punya reputasi tajam, tapi kali ini publik mencium aroma yang berbeda. Apakah ini operasi bersih-bersih atau operasi bersih-bersih lawan politik? Pertanyaannya menggantung di udara Pekanbaru yang penuh bisik-bisik gelap.

Di media sosial, narasi “jebakan kekuasaan” mulai viral. Warganet terbelah: ada yang menganggap KPK sebagai pahlawan, ada juga yang menilai Abdul Wahid hanyalah pion dalam permainan catur kekuasaan Jakarta–Riau.

Sumber lain mengaku sempat melihat dinamika aneh menjelang OTT. Ada pertemuan “diam-diam” sejumlah pejabat yang kini entah ke mana.

Semua terjadi beberapa hari sebelum KPK bergerak. “Kita nggak bodoh, bang. Ini bukan sekadar uang proyek, ini perang pengaruh,” ujar seorang ASN senior yang menolak disebut namanya.

Kini publik menunggu: apakah KPK mampu menjawab dugaan permainan ini dengan bukti konkret? Atau justru akan terjerumus dalam skenario besar yang dibuat untuk menjatuhkan satu nama?

Yang jelas, Riau kembali jadi panggung drama klasik: kekuasaan, uang, dan jebakan.
Dan seperti biasa, rakyat hanya jadi penonton—yang menanggung malu, sementara aktor-aktor besar masih bebas menulis naskah berikutnya. Kebenaran akan terungkap, tapi entah siapa yang berani membukanya.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :