PLN Untung Triliunan, Rakyat Meranti Hidup dalam Kegelapan, Fitriadi: Dimana Keadilan Energi?

PLN Untung Triliunan, Rakyat Meranti Hidup dalam Kegelapan, Fitriadi: Dimana Keadilan Energi?

MERANTI, RANAHRIAU.COM — Ketika malam turun di Kepulauan Meranti, gelap bukan hanya milik langit — tapi juga milik pelayanan PLN. Pemadaman listrik yang terus berulang kini menjelma menjadi “bencana sunyi” bagi pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup pada aliran daya yang kian tak pasti.

UMKM Tersandera di Tengah Gelap

Dari kedai kopi hingga pedagang sate pinggir jalan, semua merasakan pahitnya hidup tanpa listrik. Mesin espresso mendadak mati, kulkas berhenti berdengung, pelanggan bubar, dan omzet pun lenyap dalam hitungan menit.

“Kadang belum sempat pesan kopi, lampu sudah mati. Mesin berhenti, pelanggan kabur, kerugian tak bisa dihitung,” keluh salah seorang pelaku usaha di Selat Panjang, Kamis (24/10/2025).

Pemadaman yang tak berkesudahan membuat pelaku UMKM terjepit di antara dua pilihan pahit: bertahan dalam gelap, atau menutup usaha lebih cepat. Bukan karena kehabisan bahan baku, tapi karena PLN memadamkan harapan mereka.

Ritual Gelap yang Tak Pernah Usai

Warga menyebut pemadaman bergilir di Meranti sudah seperti ritual bulanan — datang tanpa aba-aba, pergi tanpa permintaan maaf.

“Jadwalnya tidak pasti, alasannya selalu pemeliharaan jaringan. Tapi kok tiap bulan begini terus?” ujar seorang pedagang kopi di Tebing Tinggi dengan nada kesal.

Lebih parah lagi, banyak warga mengeluhkan kerusakan alat elektronik akibat pemadaman mendadak. Dari kulkas, pendingin, hingga mesin dapur — semuanya rusak tanpa ganti rugi. PLN diam, rakyat meradang.

HIPMI Meranti: “PLN Untung Triliunan, Pelayanan Babak Belur!”

Bendahara Umum HIPMI Kepulauan Meranti, Fitriadi Mirtha (Adi Dikopi), tak lagi bisa menahan kekesalannya. Ia menuding PLN gagal total menjaga keandalan listrik di daerah kepulauan.

“Banyak pelaku usaha, terutama di sektor kuliner, kehilangan omzet besar. Ini bukan sekadar rugi uang, tapi semangat dagang yang padam. PLN untung triliunan di 2025, tapi pelayanan ke masyarakat? Babak belur,” ujarnya tajam.

Menurutnya, laporan ke pusat layanan PLN 123 hanya berakhir dengan nada mesin otomatis, tanpa solusi nyata.

“Tarif naik 50%, tapi lampu malah makin sering padam. Ini ironi, dan rakyat sudah muak,” tegasnya.

Ekonomi Daerah Ikut Mati Lampu

Fitriadi menegaskan, UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah. Ketika listrik tak stabil, maka ekonomi pun ikut limbung.

“Kalau listrik tidak segera dibenahi, jangan harap investor mau datang ke Meranti. Pengusaha kecil pun satu per satu bisa tumbang,” katanya.

Data HIPMI mencatat, kerugian pelaku UMKM akibat pemadaman listrik di Meranti tahun ini mencapai miliaran rupiah, terutama di sektor kuliner malam yang kehilangan pelanggan akibat minim penerangan dan pendingin.

Gelapnya Pelayanan, Gelapnya Kepercayaan

Kritik terhadap PLN kini menjelma jadi kemarahan publik. Warga menilai perusahaan raksasa energi itu telah kehilangan empati terhadap penderitaan masyarakat.

Dengan keuntungan besar tiap tahun, pertanyaan menggantung di udara:"Ke mana sebenarnya uang rakyat itu mengalir, kalau bukan untuk menyalakan listrik di rumah kami?”

PLN Tak Sekadar Padamkan Lampu — Tapi Juga Padamkan Harapan

Pemadaman listrik di Kepulauan Meranti bukan lagi persoalan teknis. Ini adalah soal keadilan pelayanan publik.

Di saat pemerintah terus bicara soal digitalisasi dan ekonomi kreatif, rakyat justru berjuang menyalakan lilin demi bertahan hidup.

PLN boleh mencari seribu alasan teknis. Tapi bagi masyarakat, hanya satu kenyataan yang terasa:

Setiap kali lampu padam, ekonomi ikut Gelap

Dan jika situasi ini terus dibiarkan, yang padam berikutnya bukan hanya listrik — tapi juga kepercayaan rakyat.

 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :