Pantang Lintang Pukang
Pantang Lintang Pukang
Oleh: Wahyu Mualli Bone
Awal dan akhir yang tak luput tengah menjadi rujuk rukun runutnya melangkah.
Begitulah perkiraan harga kira-kira supaya terang gelap karsa dan karya kaya awal, tengah dan akhir.
Suka yang diawali gunung api benci menggiring lava panas ke rawa mengupas kulit batu satu persatu hingga ke intinya.
Pantang lintang pukang, kulit ke kulit mendedahkan mudah ke rumit, rumit ke mudah menggugah kerut dahi ke tumit.
Tanpa pamit, benci memanjat ujung roma meraba tanda baca hingga runut ranah benci terang sebab, bercahaya akibat. Begitu pun suka, sukar digarap ungkap.
Kepada benci bancuhlah baca terang gelap ayat.
Kepada suka tegakkan saka ke ujung dan setengah tiangnya. Agar
tawar, pahit, manis, asam, asin tak hambar bancuhnya.
Basah pun, panas menyerapnya
Kering pun, sejuk membasuhnya
Agar cengkrama air angin api tanah tak luput pancar cahaya sesuai sanggup sanggamnya.
Pekanbaru, 17 September 2024
Wahyu Mualli Bone, Dari kalangan generasi lelaki katanya, lengkap bernama Wahyu Mualli Bone. Dari perpaduan darah Bugis Jawa yang tumpah di Batang Duku, Bukit Batu - Bengkalis ini termasuk jera bergumam sekedar lisan lantas tulisan tuangannya. Memusatkan niat lalu ingat memanjat jagat.
Bangga dapat menyelamatkan akreditasi kampus UIN Suska Riau, dengan predikat sangat memuaskan lahir batin di jurusannya Pendidikan Bahasa Arab.
Bisa disapa Bone Mak Long, paduan nama belakang dan nama panggungnya. Bagian dari Community Pena Terbang (COMPETER) Indonesia.


Komentar Via Facebook :