Gelora dan Nafas Alam Merdeka
RANAHRIAU.COM- Partai politik di negara demokrasi sejatinya adalah bagian dari rakyat itu sendiri mengingat yang mengurus partai politik adalah rakyat. Hal ini sejalan dengan konsep dasar demokrasi yang menginginkan adanya tafsiran nyata dari pemaknaan dari, oleh dan untuk rakyat. Sehingga penting sekali bagaimana partai politik menjadi mesin efektif yang memberikan pendidikan politik bagi rakyat, memberikan pencerdasan politik untuk rakyat, memproduksi kebijakan yang pro rakyat dan berpihak kepada kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dengan bersandarkan kepada daulat rakyat, partai politik akan menjadi sandaran rakyat dalam mengupayakan keadilan dan memenangkan kesejahteraan lahir batin bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebagai upaya edukasi, partai politik di era modern dituntut banyak menciptakan narasi besar yang produktif demi kemajuan bangsa sehingga melahirkan politik transaksi gagasan bukan semata politik transaksional yang berbasiskan finansial semata. Dengan memproduksi narasi maka akan terlihat sejauhmana produktivitas politisi yang bernaung dalam partai politik untuk memenangkan ide, bukan menang otot apalagi semata soal urusan keuntungan finansial. Tanpa gagasan dalam tubuh partai politik, maka posisi partai politik sekedar menjadi hamba kekuasaan politik-ekonomi para oligarki yang menguntungkan segelintir elite partai dengan tujuan memperkaya dan meraih keuntungan pribadi. Jika itu terjadi maka rakyat sekedar menjadi komoditas omong kosong yang dicari ketika pemilu, lalu ditinggal pergi tanpa belas kasihan ketika kekuasaan sudah dalam genggaman.
Dalam usaha merubah persepsi negatif partai politik, kehadiran Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) berusaha memberikan warna baru dengan mengedepankan politik gagasan. Melalui kepemimpinan Anis Matta, Gelora mengajak masyarakat berfikir di alam kemerdekaan dengan membudayakan berfikir strategis terhadap masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara cermat Partai Gelora mengembangkan pembacaan atas kondisi lingkungan geostrategi dan geopolitik Indonesia yang mempunyai potensi menjadi lima besar dunia. Ini menjadi tawaran Gelora untuk mengedepankan politik gagasan dibandingkan politik transaksional yang diharapkan menjadi cara baru memahami politik Indonesia kini, besok dan masa depan.
Konteks visioner Partai Gelora tentu saja mengedepankan optimisme, cara berfikir produktif dan bagaimana politik menjadi adu tanding gagasan para politisi, membela gagasannya untuk dipertarungkan dan diuji dalam ruang publik yang serba bebas. Ini membuat partai ini mendorong komunikasi melalui media sosial sebagai pilihan mencerahkan publik, sehingga partai politik berisi kumpulan orang yang mengedepankan keilmuan dan keilmiahan yang mampu membawa rakyat Indonesia bicara diri dan masa depan bangsanya. Tidak sebatas membawa mimpi lima besar dunia, dalam konteks nasional Gelora juga mendukung gerakan mengatasi stunting dengan meluncurkan Gen-170. Sebuah upaya membangun manusia Indonesia yang sehat, kuat dan kecerdasan terbaik dengan rata-rata tinggi mencapai 170 cm yang kampanye nasional Gen-170 diikuti 1.700 ibu hamil seluruh Indonesia.
Gagasan menarik lainnya, kemerdekaan Indonesia yang dirayakan sebentar lagi harus mampu mendorong Indonesia bisa menjadi kekuatan superpower baru dunia dengan adanya empat perspektif, yakni peluang, kemauan, jarak dan waktu. Peluang menjadi negara super power baru berangkat dari realitas sejarah Islam dan Barat, serta sejarah dunia modern dimana Indonesia bisa menjadi penengah konflik geopolitik dunia untuk kemudian menyejajarkan diri dengan kekuataan politik dunia lainnya. Ini didukung kemauan bangsa Indonesia yang pelan tapi pasti akan merubah budaya gimmick menjadi kebiasaan bermimpi besar dan menjemput prestasi hebat. Sepanjang sejarah, ada rentang jarak yang terukur bagaimana Indonesia mengalami keterbelakangan dan kebodohan, kemudian mengalami masa penjajahan, menjemput alam kemerdekaan dan sekarang waktunya menyadarkan bangsa untuk melewati jarak panjangnya dan berhasil menjemput kesuksesan khususnya menyambut puncak bonus demografi 2045. Sedangkan waktu itu bicara momentum, dimana bangsa Indonesia tidak selalu terbang rendah, padahal langit di atas semakin tinggi, yang berarti sudah waktunya bangsa Indonesia menjemput kekuasaan sebagai bangsa besar yang disegani dalam pergaulan internasionalnya.
Penulis : Muhammad Aderman, Tokoh Muda Dumai


Komentar Via Facebook :