Assoc Prof. Dr. H. Edyanus Herman Halim, SE, MS Sebut Perbanyak Razia Cegah Maksiat Sebut Perbanyak

Assoc Prof. Dr. H. Edyanus Herman Halim, SE, MS Sebut Perbanyak Razia Cegah Maksiat Sebut Perbanyak

Assoc. Prof. Dr. H. Edyanus Herman Halim, SE., MS

Menyorot Peristiwa viral seorang pejabat daerah tertangkap basah sedang berduaan didalam kamar hotel dengan wanita bukan istrinya di pekanbaru menuai banyak pendapat.

PEKANBARU, RANAHRIAU. COM - Pakar Ekonomi Assoc Prof. Dr. H. Edyanus Herman Halim, SE, MS menegaskan, sudah sepantasnya setiap hotel itu dilakukan razia, tidak pandang itu hotel berbintang ataupun hotel biasa.

"Sebaiknya memang razianya diperketat dan diintensifkan. Apakah itu terhadap hotel berbintang atau hotel lainnya. Berdasarkan pengalaman di negara Islam tidak akan berkurang orang menginap di hotel karena itu Justru akan semakin menambah geliat perekonomian karena sudah semakin terhindar dari maksiat dan dosa." Tegasnya kepada pewarta ranahriau.com, Senin (29/5/2023) di Pekanbaru. 

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau ini melanjutkan, ditanah melayu ini ada norma norma yang harus dijaga dan dihormati, terlebih melayu ini identik dengan ajaran islam yang melarang perzinahan.

Namun jika terjadi pelanggaran hal tersebut, dia menyebut, itu sudah memalukan dan harus ditindak. 

"Melayu itu identik dengan Islam, Jadi berzinah itu haram hukumnya dan harus dicegah. Apalagi itu jika dilakukan oleh pejabat negara dengan ASN, Selain melanggar ketentuan ketentuan Islam hal itu juga melanggar etika moral pejabat negara dan ASN. Kalau memang ada keperluan seharusnya tidak boleh hanya berduaan. Harusnya ada orang ketiga dan atau pintu dalam keadaan terbuka. Sangat memalukan Puak Melayu jika ada aparatur dan pejabat negara yg melakukan  perzinahan dan perbuatan maksiat lainnya," Imbuhnya.

Kata dia, Etika moral harus ditegakkan secara konsisten dan tegas, Ekonomi tidak akan terganggu oleh karena itu. Jika terganggu berarti usaha usaha  perhotelan di Riau selama ini hidup dari usaha maksiat.

"Saya rasa tidak seperti itu lah, usaha perhotelan masih akan dinamis walaupun ada razia pelaku maksiat ditingkatkan justru konsumen hotel akan merasa makin aman dan nyaman karena dia yakin di hotel tersebut tidak ada lagi perbuatan maksiat yang dilakukan dan atau disuburkan." Sebutnya. 

Pakar ekonomi inipun kembali menukas, peristiwa yang telah terjadi itu sebagai pelajaran berharga bagi calon calon pelaku maksiat di Riau.

"Mereka mereka sebaiknya  jika mau melakukan maksiat hendaknya di luar Riau," Tegas ia.

Ditambahkan lagi, Sepantasnya jika perilaku maksiat itu memang dilakukan, maka dengan kesadaran sendiri sebaiknya mundur dari jabatan yang diembannya dan berhenti sebagai ASN.

"Di negara negara yang memegang teguh etika moral jika melakukan kesalahan kecil saja mereka sudah mundur, seperti di Jepang dll. Kita prihatin dengan beberapa pengelola negeri ini yg tidak memegang teguh kaidah kaidah moral yang Islami dan resam adat melayu Riau. Dalam hukum adat tidak dibenarkan berduaan antara laki laki dan perempuan dalam satu kamar dalam keadaan tertutup. Apalagi dilarut malam. Apapun alasannya. Ada cara untuk terhindar atau menghindar dari perbuatan seperti itu. Kan ada security, house keeping, room service yg dapat membantu jika memang ada keperluan utk membantu," Jelasnya. 

Diakhir dirinya menekankan, Orang Riau itu beragama Islam. Bila ia taat menjalankan agamanya maka dia tidak akan pernah takut menginap di hotel meskipun di razia setiap malam karena dia tidak berbuat maksiat.

Saat bersamaan pewarta  meminta komentar secara lembaga adat Melayu  kepada Datuk seri Taufik ikram persoalan pejabat publik yang tertangkap razia di hotel berbintang, namun hingga berita ini ditayangkan belum ada respon.

 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :