Waspada Ancaman Superhero Fatigue dibalik banyaknya film Pahlawan Super

Waspada Ancaman Superhero Fatigue dibalik banyaknya film Pahlawan Super

karakter pahlawan super

RANAHRIAU.COM- Setiap film superhero menguasai layar, ada istilah yang selalu dimunculkan media dan para penonton, yaitu superhero fatigue. Superhero fatigue adalah kelelahan publik yang terlalu banyak terpapar oleh film-film superhero. Kelelahan ini tak hanya berkaitan dengan kuantitas film, tapi juga kualitas film superhero yang cenderung begitu-begitu saja.

Melihat ke belakang, istilah ini sempat ramai dibahas ketika Avengers beredar. Pada saat itu, Kevin Feige secara tegas menepis soal adanya superhero fatigue di kalangan penonton. Pemimpin Marvel Studios itu bahkan menyebut bahwa superhero fatigue tidak pernah terjadi.  

“Bukan hanya tidak ada superhero fatigue … kini kita bahkan tengah menikmati tahun tersukses sepanjang masa,” ucapnya kepada Variety pada Januari 2019, setelah berbagai rekor dipecahkan oleh Avengers: Infinity War.

Sebagai informasi, Avengers: Infinity War yang dirilis pada April 2018 memecahkan rekor-rekor seperti: film terlaris pada 2018, film superhero terlaris sepanjang masa, highest opening weekend gross, dan fastest to gross $1,5 billion.

Film lanjutannya, Avengers: Endgame, yang dirilis pada April 2019 lebih sukses lagi. Tak hanya memecahkan rekor-rekor Avengers: Infinity War, Avengers: Endgame  juga memecahkan rekor film terlaris sepanjang masa yang sebelumnya dipegang oleh Avatar (2009)—namun rekor ini kemudian direbut kembali setelah Avatar dirilis ulang di China pada 2021.

Dengan pencapaian fantastis tersebut, mungkin memang benar bahwa orang-orang tidak (atau belum) lelah akan film superhero. Namun, ke depannya situasi tampaknya akan berbeda, mengingat jumlah tayangan superhero makin lama kian berlimpah. 

Sebelumnya, mari kita lihat lagi Avengers: Infinity War, film yang pada disebut Kevin Feige sebagai bukti tidak adanya superhero fatigue. 

Avengers: Infinity War adalah film ke-3 Avengers sekaligus film ke-19 MCU. Perilisannya berselang 6 tahun dari Avengers pertama, dan 10 tahun dari Iron Man. 

Jika dipukul rata, pada masa itu, ada 2 film MCU per tahun sebelum Avengers: Infinity War. Jumlah itu tidaklah terlalu banyak, sehingga wajar jika orang tidak ‘lelah’. Namun, hari ini, situasinya berbeda. 

Fase 4 & 5 MCU berisikan begitu banyak film dan serial. Pada 2021 saja, tercatat total ada empat film yang rilis bioskop: Black Widow, Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, Eternals, dan Spider-Man: No Way Home. Itu pun belum termasuk serial yang dirilis secara streaming, seperti WandaVision, The Falcon and the Winter Soldier, Loki, What If…?, dan Hawkeye. 

Penonton pun tidak bisa semudah itu melewatkan salah satunya. Sebab, seperti biasanya, setiap film dan series memiliki andil terhadap apa yang terjadi di dunia MCU.

Persoalan multiverse, misalnya, tidak akan lengkap jika hanya dilihat di Spider-Man: No Way Home, tanpa menyaksikan juga WandaVision dan Loki.

Semesta superhero pun bukan hanya MCU; ada juga DCEU yang tak kalah ambisius memperlebar universe-nya.

Pada 2022 nanti, ada 4 film yang direncanakan tayang, yakni: Black Adam, The Flash, Aquaman and the Lost Kingdom, dan Batgirl. Tak hanya itu, mereka juga memiliki serial spinoff yang akan datang, yakni Peacemaker dan Gotham PD.

Dengan jajaran film dan series tersebut, boleh jadi gagasan superhero fatigue akan semakin relevan. Bahkan mungkin saat ini sebagian dari kita sudah merasakannya.

Charles Bramesco, kritikus film, pernah menyebut ada 10 tanda seseorang merasakan superhero fatigue dalam tulisannya di Rolling Stone. Tiga di antaranya adalah: 1) satu film dengan yang lainnya kian sulit dibedakan; 2) menonton jadi lebih terasa seperti keharusan; dan 3) muncul kesulitan untuk mengingat cerita tiap-tiap film.

Jadi, jika misalnya GanSis mempertanyakan hal-hal seperti: Kok ceritanya mirip ya? Adegan pukul-pukulan ini ada di film yang mana ya? Tokoh jahat (villain) di film superhero yang itu siapa ya? Harus nonton series-nya dulu ya? Mungkin GanSis sudah merasakan superhero fatigue. Bahkan, mungkin, Marvel sendiri menyadarinya. Bisa dilihat, belakangan ini Marvel melakukan beberapa “dobrakan” baru, salah satunya dengan menggandeng sutradara pemenang Oscar, Chloé Zhao, sebagai sutradara Eternals. 

Terpilihnya Chloé Zhao adalah sesuatu yang mengejutkan. Pasalnya, sutradara yang memenangkan Oscar lewat Nomadland ini terkenal dengan pendekatannya yang realis dan kerap menggunakan aktor-aktor orang biasa untuk menimbulkan kesan otentik.

Menyangkut dipilihnya Chloé Zhao, Ben Child, pengamat film, dalam tulisannya di The Guardian, bahkan menyebutnya sebagai sebuah pergeseran kuantum (quantum shift) untuk Marvel. 

Chloe Zhao disebutnya dapat menyuguhkan karya yang sederhana, jujur, dan realis. Dengan Chloe Zhao di bangku sutradara, dan kekhasan Eternals (yang berisikan superhero tuli dan gay pertama), boleh jadi penonton akan menemui kebaruan. 

Selain Eternals, Shang-Chi pun juga disebut memiliki beberapa kebaruan. Selain muatan budaya Asia-nya, Shang-Chi dianggap segar karena memberi porsi cerita yang besar untuk karakter pendukung, tidak menyiratkan romance antara superhero dan temannya, dan menampilkan pertarungan yang sarat akan akan seni bela diri sungguhan.

Kebaruan-kebaruan semacam itu mungkin nantinya akan menjadi solusi dari berlimpahnya film superhero. Jika ini dilakukan secara konsisten, mungkin  superhero fatigue bisa terhindari. 

Editor : Abdul
Sumber : hypeabis.id
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT :