Penerbitan Obligasi dan Problematikanya pada PT. Sarana Multigriya Finansial

Penerbitan Obligasi dan Problematikanya pada PT. Sarana Multigriya Finansial

RANAHRIAU.COM- Pembahasan kali ini tentang Obligasi yang ada di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pembiayaan property yaitu PT. Sarana Multigriya Finansial (SMF). Perusahaan ini menerbitkan obligasi senilai Rp 1 triliun pada akhir September.

Pelepasan obligasi ini merupakan tahap kedua dari tiga tahap pelepasan obligasi berkelanjutan yang akan diterbitkan perusahaan pada tahun ini dengan total nilai Rp 2,5 triliun hingga akhir tahun. "Kira-kira akhir bulan depan kami akan masuk pasar untuk terbitkan obligasi tahap kedua. Sebelumnya kami telah lempar Rp 500 miliar terlebih dahulu pada bulan Juni lalu," jelas Direktur Utama SMF Raharjo Adisusanto di Jakarta, Kamis (06/08). 

Meski telah mengagendakan waktu peluncuran, Raharjo mengaku bahwa pelepasan obligasi tahap ke II ini bisa mundur dari jadwal guna menyocokkan bunga kupon yang diinginkan perusahaan, dengan ekspetasi yang muncul pasar. Selain masalah bunga kupon, perusahaan juga melihat antusiasme pasar terlebih dahulu sebagai salah satu faktor penentu. "Namun sebelum masuk pasar kembali, kami juga lihat appetite market seperti apa dan berapa besar bunga yang diinginkan. Rata-rata kalau kami minta sesuatu bisa oversubscribed, biasanya sampai empat kali tergantung pricing dan tenornya," jelas Raharjo. 

Sebagai informasi, obligasi yang telah dan akan dilempar perusahaan sebanyak tiga tahap tersebut rencananya akan terbagi dalam dua jenis. Jenis pertama, ialah obligasi memiliki tenor selama 1 tahun dengan bunga kupon berada di kisaran 8,16 persen hingga 8,6 persen. Sedangkan untuk surat utang yang memiliki tenor tiga tahun, bunga kupon yang ditawarkan perusahaan adalah sebesar 8,5 persen hingga 9,25 persen.

Lebih lanjut, Raharjo mengatakan jika bunga dan tenor yang ditawarkan perusahaan tak memenuhi keinginan pasar hingga waktu yang diinginkan, maka SMF akan menggunakan ekuitasnya terlebih dahulu untuk sumber pembiayaan perusahaan untuk disalurkan ke debitur sebagai pengganti dana obligasi yang tertunda tersebut. Di mana saat ini posisi ekuitas perusahaan per 30 Juni 2015 adalah Rp 4,09 triliun, atau 42,5 persen lebih besar dibandingkan angka periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,87 triliun.

“Kami pakai ekuitas dulu, kalau nanti bunganya mendukung, kami replace ekuitas kami dengan menggunakan obligasi, Jadi sistem likuiditas kami memang begitu, bridging dulu dengan ekuitas baru tutupi dengan obligasi," tambah Raharjo. Asal tahu, hingga Semester I 2015 utang obligasi perusahaan tercatat pada angka Rp 4,73 triliun. Adapun surat utang perusahaan yang jatuh tempo pada semester II nanti, dikatakan Raharjo, berkisar di angka Rp 1 triliun.

 Andalkan PMN Selain mengandalkan obligasi, SMF juga mengandalkan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk menyalurkan pembiayaan. Diakui Raharjo, hingga sekarang PMN yang dijanjikan pemerintah belum cair padahal perusahaan menginginkan uang itu sebagai sentimen positif bagi produk Efek Beragun Aset - Surat Partisipasi (EBA-SP) yang bekerjasama dengan PT Bank Tabungan Negara (BTN) dengan nilai Rp 2 triliun pada bulan ini. 

"Katanya sih kuartal III ini mau turun, tapi kami butuh secepatnya sih untuk mendukung pasar EBA SP," terangnya. Untuk tahun depan, Raharjo pun mengatakan perusahaannya masih membutuhkan PMN namun ia tak meminta tambahan nilai suntikan dana tersebut. Dengan kata lain, SMF menginginkan PMN sebesar Rp 1 triliun pada tahun depan, sama seperti nilai PMN di tahun ini. “Kami butuh PMN karena ingin mendukung program sejuta rumah, tapi kami lihat juga kemampuan pemerintah dan melihat ekspansi bisnis yang akan kami lakukan kedepannya, jadi mungkin kami tak akan minta PMN lebih dari Rp 1 triliun," tambahnya.

Dari pernyataan dan kejadian diatas, Menurut kami menggunakan ekuitas untuk dana obligasi apabila bunga dan tenor yang ditawarkan tidak sesuai dengan keinginan pasar merupakan langkah yang cukup berani yang diambil oleh SMF. Walaupun ekuitas perusahaan mengalami kenaikan yang sangat pesat, tetapi menurut kami memakai ekuitas untuk dana obligasi cukup berisiko. Memakai ekuitas sebesar 1 triliun dari 4,09 triliun ekuitas untuk dana obligasi memang harus dilakukan, dikarenakan kreditur harus segera menyerahkan obligasi kepada debitur.

Maka dari itu, SMF meminta bantuan dana dari PMN untuk menutup dana obligasi yang mereka pakai dari ekuitas. Tetapi hal ini memang harus dilakukan agar tidak terjadi kerugian. Namun sangat ditakutkan, apabila dana dari PMN tidak cair, dan obligasi dengan tenor yang cukup panjang dalam kurun waktu 1 dan 3 tahun, mau tidak mau PMN harus bersabar menunggu debitur membayar kembali obligasinya. Apalagi, SMF akan segera menerbitkan dana obligasi periode ketiganya.

Pembagian tenor dalam kurun waktu 1 dan 3 tahun merupakan langkah bijak yang diambil oleh SMF, suku bunga tenor 3 tahun cukup tinggi dan bisa meningkatkan laba bagi SMF. Tetapi, SMF harus jeli terhadap pencatatan utangnya dan kelengkapan identitas debitur, karena 3 tahun merupakan waktu yang cukup panjang untuk debitur membayarkan utangnya.
 Ditakutkan, debitur tidak bertanggung jawab atas utangnya.

Demikian penjelasan dari kami, semoga bermanfaat.

Penulis : Siti Zahra Darmayati Ginting dan Tari Ade, Keduanya merupakan Mahasiswi dari Universitas Muhammadiyah Riau 
Fakultas Ekonomi dan Bisnis 
Angkatan 2019.
 

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :