Dampak COVID-19, Warga Kesal dan Keluhkan Pemotongan BLT-DD

Dampak COVID-19, Warga Kesal dan Keluhkan Pemotongan BLT-DD

Ditengah pandemi virus corona yang tengah melanda Negeri, kebijakan pemerintah Pusat dan Daerah mengambil kebijakan demi kelangsungan hidup masyarakat.


BENGKALIS, RANAHRIAU.COM - Berbagai bantuan disalurkan pihak pemerintah dan pihak swasta dengan berbagai sebutan "berbagi bersama" turut menjadi viral di pemberitan, baik media cetak maupun media online. Warning agar semua pihak untuk mengawal untuk tidak terjadinya penyimpangan dalam penyaluran bantuan imbas Covid-19. 

Tidak hanya di tingkat pusat bahkan sampai ketingkat Desa, bahkan seluruh instasi di tegaskan oleh kepala Negara "Presiden" untuk mengawasi bantuan yang disalurkan kepada penerima yang berhak. Namun, himbauan dari pemerintah tersebut masih saja ada oknum perangkat Desa yang berani menantang alis melakukan pemotongan bantuan imbas Covid-19 di maksud.

Kepala Desa (Kades) Dusun Teluk Ondan, Desa papal, Kecamatan Bantan M. Ali diduga, kuat telah memotong bantuan langsung tunai (BLT) yang bersumber dari Dana Desa (DD) tahun 2020, yang telah terealisai tahap pertama.

Jumlah penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD), di Dusun Teluk Ondan ini sebanyak 32 Kepala Keluarga (KK). Saya adalah termasuk penerima, namun bantuan sebesar 600 ribu tersebut tidak seutuhnya kami terima melainkan di potong oleh dusun, dengan alasan kesepakatan sebelum dana tersebut di berikan.

"Saya sudah sampaikan waktu rapat di rumah Kepala dusun (Kadus), kalau uangnya tidak cukup 600 ribu, saya tidak mau tanda tangan, karena hanya saya yang membantah yang lain tidak. Mau tak mau saya ikut ajalah, dan bantuan sebesar 600 ribu hanya saya terima sebesar 430.000," ucap warga yang tak ingin disebut namanya.

Semua penerima BLT di Dusun Teluk Ondan ini di potong oleh pak Dusun, Rt dan Rw semua tau, di kemanakan duit pemotongan itu kita tidak tau, yang jelas 32 KK penerima rata-rata di potong mencapai 200 ribu.

Yang paling sedih lagi pak, lanjut warga tersebut, ada di Dusun ini namanya Muhni namanya keluar sebagai penerima BLT, kemudian Pak Muhni hanya menanda tangani tapi tidak menerima satu sen pun dengan alasan Pak Dusun waktu itu, pak Muhni sudah dapat bantuan lain.

"Sementara, uang yang 600 ribu tadi di ambil sama Pak Dusun, artinya Pak Muhni hanya atas nama dan tanda tangan, tapi uangnya diambil orang lain," sebut warga yang namanya tidak ingin dipublikasikan.

Kepala Desa Teluk Papal di hubungi via selulernya 3 Juni 2020 saat dihubungi tidak aktif. Dan selanjutnya, Sekdes dihubungi via whatsApp (WA) nya dan meminta nomor Kadus dimaksud tidak dibalas.

Di tempat terpisah, Desa kembung luar, Kecamatan Bantan, pemotongan Bantuan Sosial Tunai (BST) yang di lakukan oleh Kepala Dusun Sungai Limau juga terjadi kepada 12 penerima dengan nilai pemotongan 100 ribu per Kepala Keluarga (KK).

Saat di konfirmasi Kepala Desa Kembung luar Kecamatan Bantan via selulernya 3 Juni 2020 menjelaskan, terkait pemotongan yang diduga dilakukan salah satu Dusun itu sudah di kembalikan kepada 12 KK penerima pak.

Hal itu dilakukan hanya bertujuan untuk membantu masyarakat yang lain yang sama sekali tidak mendapat bantuan. Setelah nama masyarakat tersebut terdata sebagai penerima bantuan dari Provinsi, maka kami sarankan kepada Dusun agar dana pemotongan penerima BST itu di serahkan kembali sepenuh nya, dan tidak perlu di potong. 

"Karena masyarakat yang belum mendapat bantuan sama sekali sudah terdata penerima bantuan dari provinsi," sebut kades.

Kita sudah luruskan informasi yang berkembang itu, dan masyarakat kita juga sudah paham kebijakan yang dilakukan Dusun. Pada intinya bukan untuk niat kepentingan pribadi, sebagaimana hal tersebut dapat nikmati secara bersama dan tidak lagi memilah antara si A dan si B karena imbas Covid-19 ini, bukan hanya keluarga tertentu, melainkan semua masyarakat. (rls)

Editor : Eriz
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT :