DONGENG DAN NARASI KEMULIAAN MANUSIA
RANAHRIAU.COM-Salah satu persoalan kemanusiaan yang melanda manusia modern adalah hilangnya empati dan solidaritas sosial.
Berkembangnya cara berproduksi ekonomi manusia modern yang mengedepankan pendekatan antroposentris belaka, berakibat pada luluhlantaknya dimensi imanen dalam jiwa manusia. Dimensi itu adalah rasa kemanusiaan.
Orientasi pembangunan yang selalu mengejar profit,acapkali harus menempuh jalan hitam dengan merusak lingkungan, bahkan menghancurkan peradaban. Cerita nyata invasi Amerika Serikat ke Timur Tengah awal 2000-an dengan bala tentara sekutunya, merusak rasa kemanusiaan yang mestinya menjadi tali pengikat penghuni planet bumi. Namun manusia sebagai penafsir zaman, sering terjebak pada adagium realisme politik, homo homini lupus, siapa yang kuat akan menguasai yang lemah, karena manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
Di sisi lain, kecerdasan otak manusia mencipta teknologi, tak semerta merta menghilangkan dampak negatif bagi anak-anak. Tekonolgi internet misalnya, mampu menghubungkan jarak yang jauh menjadi “dekat”. Di detik yang sama, kita dapat menyaksikan pertandingan sepak bola, dan juga pidato pemimpin Israel yang menghendaki musnahnya orang Palestina, atau pidato Trump yang hendak mengusir kaum imigran dari Amerika. Begitulah majunya teknologi, membuat pengetahuan dan informasi cepat bergulir. Namun majunya teknologi, seperti internet dapat pula digunakan anak-anak tanpa filter. Akibatnya anak-anak dapat dengan bebas mengakses fitur-fitur yang tidak baik. Belum lagi anak-anak terpenjara oleh jeruji permainan daring (game online), yang acapkali mereka harus menomorduakan pendidikan, dan ruang-ruang sosial lainnya.
Cerita tentang tragedi kemanusiaan seperti perang, dan brutalitas teknologi, salah satunya adalah karena fakirnya imajinasi tentang nilai-nilai kebaikan (virtues) dalam benak manusia. Rendahnya imajinasi tentang nilai kebajikan, berdampak pada pudarnya kemampuan manusia untuk membuat narasi tentang apa yang dipandang baik, dan apa yang dianggap buruk. Syahdan, hilangnya imajinasi dan narasi tentang virtues tersebut, salah satunya menjadi bencana tsunami bagi kehidupan anak-anak.
Setiap manusia dewasa hakikatnya adalah kelanjutan dari kisah anak-anak yang mereka terima sejak kecil. Pendidikan yang diterima di waktu masih sebagai anak-anak, berhubungan kuat dengan pembentukan moralitas manusia di saat telah dewasa. Sehingga, kehendak baik untuk mewujudkan manusia dewasa yang berhati mulia, harus ditanam sejak manusia menginjak usia anak-anak. Apa yang mereka terima, akan direkam, dan ketika dewasa rekaman itu muncul kembali. Demikian anak-anak mendapati masa usia emas (golden age).
Kisah tentang nilai-nilai, disampaikan oleh orang tua kepada anak-anak melalui banyak cara, salah satunya adalah dongeng. Dongeng adalah khazanah kesusastraan yang lahir dari para pendahulu kita. Dongeng itu merupakan cara menyampaikan suatu cerita yang bersifat oral (lisan) kepada anak-anak. Dahulu ketika saya masih anak-anak, Ibu adalah tokoh sentral dalam melakukan transfer pengetahuan. Saya termasuk anak-anak yang menikmati cerita dongeng. Di situ, saya menjadi tahu, bahwa setelah saya menjadi dewasa, dan memiliki anak-anak, orang tualah, aktor paling berpengaruh dalam meletakkan fondasi kepribadian anak-anak.
Hari ini, 28 November 2019, diperingati hari dongeng nasional. Sebagai sebuah kebudayaan bangsa, dongeng biasanya menceritakan kisah kehidupan yang mengandung sifat baik dan sifat tidak baik. Apakah itu cerita manusia, atau cerita hewan. Dalam cerita itu terdapat peran dan sifat kepribadian aktor-aktor dalam cerita. Setidaknya dalam satu peristiwa mendongeng, terdapat beberapa nilai kebaikan : (1) membangun imajinasi anak-anak untuk berpikir kreatif; (2) memberikan keteladanan tentang kepribadian manusia; (3) memberi informasi pengetahuan (kognitif); dan (4) membuat hubungan emosional yang lebih dekat antara orang tua dan anak.
“Makna mendongeng adalah agar adik-adik semua senang dan mencintai cerita, buku, dari cerita–cerita itu lah kita menciptakan imajinasi di dalam otak. Kemampuan dalam berpikir dan membayangkan hal–hal di otak kita adalah kunci kesuksesan di masa depan,” demikian ujar Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan termuda.
Saya sependapat dengan apa yang disampaikan Nadiem. Dongeng akan membangun imajinasi. Imajinasi kreatif dalam otak manusia merupakan pengembangan dari otak kanan. Barangkali pembangunan kehidupan manusia modern yang terlalu antroposentris, dipengaruhi oleh dominasi otak kiri. Sehingga sudah saatnya otak kanan memimpin. Otak kanan menawarkan kreatifitas, seni, kesusastraan, dan solidaritas. Dan dongeng merupakan media efektif dalam membangun otak kanan.
Melalui dongeng, anak-anak akan diperkenalkan tentang narasi ragam sifat dan kepribadian manusia. Dan pendongeng yang baik akan memberi penegasan tentang kepribadian apa yang mesti kita teladankan. Menjadi orang baik pada hakikatnya adalah pilihan wajib yang mesti dilakukan oleh manusia. Dan menjadi orang baik saat ini, diperlukan dalam ruang-ruang politik, ekonomi, bisnis, pemerintahan, dan hubungan internasional.
Merebaknya krisis kemanusian di planet bumi yang kita tinggali, barangkali karena hilangnya dongeng dalam kehidupan anak-anak. Maka dalam momentum peringatan hari dongeng nasional, mari kita hidupkan kembali dongeng di rumah-rumah kita. Wahai ibu-ibu yang mulia, dimana terdapat nama asmaul husna, (Rahim, kasih sayang) dalam dirimu, kembalilah mendongeng. Ceritakanlah kisah-kisah kenabian, kisah kepahlawanan, kisah tentang manusia baik dalam sejarah, sehingga kelak, anak-anak yang telah tumbuh dewasa akan mengenang pesan muliamu, bahwa menjadi orang baik adalah kemuliaan manusia.
Penulis : Nugroho Noto Susanto, Penikmat Dongeng Ibu


Komentar Via Facebook :