September kelabu di Bumi Lancang Kuning

September kelabu di Bumi Lancang Kuning

RANAHRIAU.COM- September kembali mengulang cerita, masih dalam keheningan pagi yang menanti mentari. Terdengar  kicauan burung yang tak seperti biasanya di bumi lancang kuning ini. Pagi demi pagi kicauan itu tak semerdu sebelumnya, burung-burung terkepung pekatnya asap yang menyerupai awan kala mendung menghampiri. Hamparan surga tak lagi tampak di langit biru lancang kuning. Yang terlihat hanya sang mentari yang bercahaya tapi tak mampu menyinari.

Dulu segar udara bumi lancing kuning, kini berbahaya sudah rasanya jika terhirup, dulu tinggi pohon-pohonnya, lebat hutannya hingga menjadi paru-paru dunia, tapi kini habis sudah semuanya tanpa tersisa namun menyiksa. Keindahan alam kini hanya sebuah fiksi, yang tak lagi ramah ia kini. Kian hari kian rusak, semakin bernafas semakin sesak.  Alam memudar manusia tak pernah sadar, hutan di bakar kabut pekat menyebar, pemimpin negri  menari-nari tak ayal rakyat perlahan mati. 

Badan dan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total luas hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2019 mencapai 328.724 hektare. Adapun kebakaran hutan dan lahan terbesar salah satunya berada di Provinsi Riau. "Luas lahan terbakar yaitu mencapai 49.266 hektare," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Agus Wibowo di Jakarta, Jumat (19/9).
Tandus alam ku, serakah pemimpin ku, menjajah dan menjarah hutan lewat korporasi itu. Kemana kami mengadu jika pemimpin ku diam membisu, tak ayal mereka katakan sedang berusaha memperbaiki situasi. 

Mahasiswa beraksi menyampaikan aspirasi bahwa pekatnya asap sudah menyelimuti bumi lancing kuning ini, namun disambut dengan beringas oleh yang katanya pelindung masyarakat. Tak akan mendidih jiwa mahasiswa jika pemimpin negri tak serakah, tak akan turun kejalanan mahasiswa jika pemimpin negri mampu mengatasi karhutla. Bersatunya mahasiswa akibat ulah pemimpin yang serakah.

September mengandung duka, bayi tak berdosa meregang nyawa, anak-anak yang sekarang ke sekolah justru berdiam diri di rumah, tak dapat menghirup udara segar seperti biasa. Bermain bagi mereka kini hanya kenangan tak tersisa. 
Akibat korporasi Rakyat kini tak terlindungi tapi justru di zalimi, apakabar pemimpin ku, lihatlah rakyat mu yang tak berdaya akan udara mematikan ini, kau tutup mata rakyat mu tutup usia, kau makan suap hingga rakyat mu memakan pekatnya kabut asap.

Wahai pemimpin negri, kau yang cendikiawan berpribadi rakyat mu ingin kau peduli tapi kenapa kau jadi racun di negri sendiri. Katanya rakyat dilindungi nyatanya korporasi sering terjadi, apa tunggu seluruh rakyat innalillahi baru kau akan peduli.

Wahai bapak bapak pemimpin negri, rakyat mu butuh menghirup udara bersih bukan menghirup polusi, akankah kejadian ini menjadi makanan rakyat mu setiap hari bahkan setiap tahunnya? Sebegitukah hausnya diri mu akan rupiah-rupiah hadiah korporasi hingga rakyat kau zalimi. Cabutlah izin para penghianat negri, hukumlah mereka atau murka rakyat mu yang mengadili.
Rakyat mu menagih janji ketika kau berkata “izinkan aku memimpin negri ini” yang nyatanya janji itu kau ingkari. Lindungilah lingkungan jangan sebatas angan-angan, jangan kau tunggu tuhan campur tangan hingga kau pun akan kehilangan.  


Penulis : Rahma Illahi Mevha
KABID KADER DPD IMM RIAU

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :