Pencuri Udara Bersih
Arma Winarni
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM - Bernafas adalah kebutuhan paling mendasar untuk dapat bertahan hidup bagi manusia. Bernafas juga merupakan salah satu ciri dari mahluk hidup, bukan saja manusia, tumbuhan dan hewan pun bernafas dengan caranya masing-masing. Anugerah dari yang Maha kuasa untuk dapat bernafas dengan sesuatu yang tak tampak, tak berbentuk tapi dapat dirasa berupa udara.
Kegiatan bernafas kadang tidak disadari bagi manusia. Padahal setiap saat manusia bernafas. Paru-paru yang merupakan alat pernafasan bagi manusia merupakan bagian dari organ tubuh yang berfungsi untuk melakukan respirasi atau pertukaran oksigen yang terkandung di dalam udara yang masuk ke dalam darah dan karbondioksida yang dibuang melalui mulut atau hidung. Paru-paru manusia terdiri dari dua bagian dimana setiap bagiannya memiliki fungsi yang saling menyeimbangkan.
Dalam proses bernafas ada unsur penting yaitu udara. Udara terdiri dari 3 unsur utama, yaitu udara kering, uap air, dan aerosol.Kandungan udara kering adalah 78,09% nitrogen, 20,95% oksigen, 0,93% argon, 0,04% karbon dioksida, dan gas-gas lain yang terdiri dari neon, helium, metana, kripton, hidrogen, xenon, ozon, radon. (Wikipedia). Udara adalah senyawa yang tak tampak tapi dapat dirasakan. Udara yang ada seperti tidak ada terkadang membuat lupa betapa kita membutuhkannya. Udara yang baik bagi kesehatan adalah udara yang bebas dari polusi.
Kondisi udara yang belakangan ini terjadi, dimana udara berkabut asap yang tebal adalah udara yang mengandung racun. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui laman resminya www.bmkg.go.id menempatkan kualitas udara Kota Pekanbaru, Riau dengan kategori berbahaya. Udara yang menjadi kebutuhan pokok untuk bernafas hadir dengan membawa bibit penyakit, yang dapat menyebabkan ISPA (Infeksi saluran pernapasan akut). Korban ISPA dari dampak udara yang kotor ini semakin bertambah.
Kebakaran hutan dan lahan sebagai penyumbang terbesar dari kotornya udara serta kabut asap ini menjadi sorotan publik. Kabut asap yang hadir seperti musim ketiga di kota ini bak momentum untuk menyadarkan kita bagaimana hutan yang menjadi paru-paru dunia itu mulai tergerus akibat keserakahan manusia. Konfrontasi penguasa lahan dan pemangku kebijakan tidak kunjung menemukan jalan keluar untuk mengurangi kerusakan alam ini. Seluruh masyarakat menjadi korban. Roda perekonomian, pendidikan dan lainnya terganggu akibat dari kabut asap ini.
Terlepas dari kerusakan alam akibat kebakaran lahan dan hutan pada dasarnya hampir setiap hari polusi tersebut dicicil sedikit-demi sedikit. Jikalau pembakaran hutan adalah investor besar pencuri udara bersih. Ada beberapa hal yang kerap kita lakukan berperan sebagai investor kecil sebagai pencuri udara bersih ini salah satunya adalah perokok "si ahli hisap".
Saat semua sorotan dan hujatan datang untuk sang perusak hutan kita seolah lupa pada pencuri kecil udara bersih yang hampir setiap hari hadir disekitar kita. Sama halnya dengan si pencuri besar yang mengakibatkan asap dan udara kotor yang telah memakan korban jiwa, pencuri kecil udara bersih ini pun selalu menyumbangkan korban jiwa yang terus bertambah setiap tahunnya. Regulasi tentang kawasan bebas asap rokok pun belum efektif untuk mengurangi korban si ahli hisap ini.
Selain dari para pencuri udara bersih di atas, tanpa sadar banyak tindakan yang tanpa sengaja juga menyumbang kerusakan atmosfer udara. Kegiatan pertanian yang menggunakan pestisida dan pupuk- pupuk kimia di dalamnya terdapat amonia dan juga NH3 yang sangat berbahaya bagi atmosfer Bumi. amonia dan zat-zat tersebut dapat menyebabkan bronkitis, yakni gangguan pada paru- paru. Banyak juga aktivitas rumah tangga yang dapat menyebabkan terjadinya polusi udara. Beberapa aktivitas rumah tangga yang berperan dalam penciptaan polusi udara adalah pembakaran sampah dan pengecatan rumah. Sampah merupakan bahan yang mengandung banyak zat kimia berbahaya, apabila sampah ini dibakar maka asapnya akan kemana- mana dan mencemari udara.
Ditengah bencana akan asap hingga menyebabkan keterbatasan udara bersih, hendaknya menjadi titik untuk saling berintropeksi jika pencemaran udara ini bukan hanya tanggung jawab pihak terkait saja. Ini adalah tanggung jawab bersama. Mengkritisi pemangku kebijakan dan pengguna lahan memang perlu untuk saling mengingatkan tapi jangan sampai hujatan itu membuat kita lupa mengambil peran sebagai khalifah penjaga alam. Alam ini milik kita , mari kita jaga bersama, untuk masa depan kita.
(Penulis Arma Winarni bekerja di Manajemen dan Tenaga Pengajar di Bimbingan belajar Salsabila Private. Alumni STKIP Aisyiyah jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ketua Bidang Organisasi PD Nasyiatul Aisyiyah Kota Pekanbaru, Wakil Ketua FTBM Prov Riau)


Komentar Via Facebook :