DR.Elviriadi: selagi dibebani izin, Gambut sumatera tetap Terbakar

DR.Elviriadi: selagi dibebani izin, Gambut sumatera tetap Terbakar

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Berlarutnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau maupun Sumatera pada umumnya, dapat disebabkan oleh alih fungsi ekosistem gambut. Kesimpulan itu disampaikan pakar lingkungan DR.Elviriadi kepada wartawan RanahRiau.com melalui pesan Whatsappnya, Jumat (09/08/2019).

"Ya, jelaslah, Allah SWT menciptakan alam ini sudah sedemikian teratur. Gambut itu untuk pengaturan air dimusim kemarau dan hujan, bile di gobel (utak atik) melalui perijinan, maka terjadilah petaka asap ini", ujarnya.

Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Riau ini memaparkan, ada 3 (tiga) sejarah gambut di Riau sehingga berasap terus. Pertama, sejarah Hak  Pengelolaan Hutan (HPH) tahun 80-an yg menjadi pintu masuk perusakan hutan tanah Melayu. Berlanjut Hutan Tanaman Industri (HTI) rona ekosistem Riau berubah drastis. Musibah banjir dan kekeringan ekstrim terjadi. Suku asli dan pribumi tergusur dari tanah sendiri.

Kedua, sejarah penggundulan pohon pohon ditanah gambut sehingga sifat biogeokimia dan struktur tanahnya terdegradasi. Permukaan gambut jadi turun (subsiden) sehingga air laut mudah masuk ke pulau Meranti. Ketiga, pengeringan gambut melalui kanal raksasa yang memudahkan gambut terbakar.

Ketua Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI ini menyampaikan, "Intinya, selagi dibebani izin, gambut dan Karhutla akan tetap ada sepanjang tahun tahun mendatang", pungkasnya.

Putra Selatpanjang yang sudah keliling benua untuk membicarakan gambut ini, mengatakan, "Sayangnye, alam dah rusak gini, orang Melayu dikampung juge yang disalahkan. Banyak ladang padi terbengkalai karena larangan bakar, padahal teknik membakar orang Melayu ada tata cara yang bijak bestari", ujarnya mengakhiri pembicaraan.

Editor : Hafiz
Komentar Via Facebook :