"Asap" Kado Pahit Milad Provinsi Riau???

"Asap" Kado Pahit Milad Provinsi Riau???

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM - Tepat 62 tahun yang lalu pada 09 Agustus provinsi Riau terbentuk. Pembentukan Provinsi Riau memerlukan waktu paling kurang 6 tahun, Yaitu dari tahun 1952 sampai 1958. Usaha membentuk Provinsi ini, dengan melepaskan diri dari provinsi Sumatera Tengah (yang meliputi Sumatera Barat, Jambi dan Riau) dilakukan di tingkat DPR pusat oleh Ma’rifat Marjani, dengan dukungan penuh dari seluruh masyarakat Riau.

Provinsi Riau sebagai negeri tanah Melayu ini hadir dengan mewariskan bahasa Melayu yang menjadi bahasa induk negeri ini.  Provinsi Riau ini merupakan gabungan dari sejumlah kerajaan Melayu yang pernah berdiri di tanah ini, di antaranya ialah kerajaan Inderagiri, Kerajaan Siak, Kerajaan Pelalawan  Kerajaan Riau-Lingga, dan banyak lagi kerajaan-kerajaan kecil lainnya, seperti Tambusai, Rantau Binuang Sakti, Rambah, Kampar dan Kandis (Rantau Kuantan). 

Menjadi provinsi baru pada masa awal kemerdekaan itu bukan hanya tentang mampu melepaskan diri dari provinsi Sumatera Tengah. Namun, Ikhtiar yang tak kenal lelah dari para tokoh pejuang agar dapat tumbuh dan berkembang diatas sumber daya yang dimiliki sendiri.

Salah satu dari sumber daya itu adalah letak geografis Provinsi Riau, terbentang dengan luas wilayah 87.023,66 km2 dengan menyimpan kekayaan alam yang melimpah ruah. Kekayaan alam yang di miliki provinsi Riau sungguh luar biasa. Bak perumpamaan, negeri lancang kuning ini seolah berada diantara lahan minyak. Diatas minyak dari hasil pertanian dan dibawah minyak dari hasil minyak bumi. Kekayaan alam yang mengiurkan para penggila kenikmatan dunia.

Setelah puluhan tahun, hasil minyak dari perut bumi itu dikeruk tanpa ampun. Rimba yang menjadi tanah daratan dan penyeimbang alam, mulai diretas menjadi lahan industri. Lahan industri yang mengeruk kekayaan bumi demi kepentingan sekelompok orang. Lahan industri tersebut hadir dengan memberi kesempatan kerja masyarakat sekitar. Masyarakat yang belum tahu apa-apa tersebutlah yang terkadang menjadi senjata untuk terus menerus melebarkan lahan hingga industri tersebut maju. Sedangkan masyarakat adat dan penjaga alam pun diadu dengan para pemangku kepentingan. Tersisih dan dianggap seolah kaum primitif yang belum siap untuk maju. 

Sungguh disayangkan industri tersebut maju tanpa memperdulikan kerusakan alam. Rimba tempat hewan-hewan dan penyerap air ditebang, dibakar dan disulap jadi lahan yang menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi si pemilik modal, sementara pekerja hanya mendapat upah seadanya.

Dampak kerusakan alam ini telah menjadi PR bersama yang menyisakan musim ketiga di tanah Melayu ini. "Musim asap". Jika musim buah adalah hal yang menyenangkan akan limpahan hasil buah. Maka musim asap adalah musim paling menyedihkan dengan limpahan asap. 

Asap mencuri pemandangan langit biru nan indah. Asap mencuri udara bersih, udara yang menjadi kebutuhan utama mahluk hidup. Bahkan asap juga mencuri air bersih dengan gas monoksida yang dibawanya. Air yang menjadi sumber penghidupan semua.

Perhelatan suka cita Milad ke 62 provinsi ini  harus mendapat kado pahit bagi seluruh warga. Ya, kado pahit berupa asap yang telah berhasil mencuri hak paling hakiki yaitu hak untuk hidup dengan udara bebas. Pencuri udara bersih ini tidak hanya dapat dituntaskan dengan dzikir bersama memohon curahan hujan, pencuri udara bersih ini harus segera diselesaikan agar tidak selalu menjadi kado pahit dan musim ketiga untuk bumi lancang kuning ini kedepannya.

 

(Penulis Arma Winarni bekerja di Manajemen dan Tenaga Pengajar di Bimbingan belajar Salsabila Private, 
Alumni STKIP Aisyiyah jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ketua Bidang Organisasi PD Nasyiatul Aisyiyah Kota Pekanbaru, Wakil Ketua FTBM Prov Riau) 

 

 

Editor : Muhammad Saleh
Sumber : Arma Winarni
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT :