ANTARA HAM DAN KAM

ANTARA HAM DAN KAM

RanahRiau.com- Oh ibu dan ayah selama pagi,

ku pergi sekolah sampaikan nanti,
selamat belajar nak penuh semangat,
rajinlah belajar tentu kau dapat,
hormati gurumu sayangi teman,
itulah tandanya kau murid budiman.
 
Ini adalah bait lagu lama yang dapat  mencerminkan bagaimana seharusnya menjadi orang tua (wali murid), menjadi murid dan menjadi guru. Menjadi apapun dalam kehidupan ini sebenarnya adalah sebuah eko sistim. Satu sistim akan saling bergantung dengan sistim yang lain. Anak membutuhkan orang tua, orang tua membutuhkan guru, guru membutuhkan murid dan murid membutuhkan guru, serta guru membutuhkan orang tua untuk berinteraksi tentang perkembangan murid, begitulah sebuah ekosistim berjalan. Apabila satu sistim ini terganggu maka keseluruhan sistim akan ikut terganggu. Kasus pemukulan oleh guru pada anak muridnya berarti ada sistim yang terganggu yaitu sistim antara guru dengan murid atau sebaliknya yang tidak jalan atau terganggu, misal murid tidak mengindahkan perintah atau pentujuk guru. Sistim ini akan semakin bermasalah kalau terjadi berulang kali dan akan menggangu pada sistim yang lain misal orang tua murid.

Dilema Guru

Menjadi guru di zaman globalisasi susah-susah gampang. Di satu sisi guru dituntut meningkatkan kualitas dirinya baik dari jenjang pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan teknologi, disisi lain guru juga dituntut untuk peka terhadap perkembangan tuntutan kemanusiaan yaitu masalah HAM (hak asasi manusia) dalam hal ini guru dituntut mempunyai kemampuan kepribadian yang mencakup kemampuan kepribadian dalam sosial kemasyarakatan, kemampuan-kemampuan itu sangat penting demi keberhasilan tugas dan fungsinya sejalan dengan tugas dan fungsi sekolah sebagai suatu sistem sosial.

Banyak contoh dan kasus terjadinya pemukulan oleh guru kepada muridnya. Kita anggap kejadian-kejadian tersebut benar adanya. Namun tindakan guru tersebut tentu ada penjelasan-penjelasan mengapa si anak “dipukul” oleh guru. Penjelasan-penjelasan tersebut bisa kita lihat dari kondisi psikologis guru pada saat itu (misal cemas, tertekan karena faktor keluarga atau tuntutan pekerjaaan). Bisa juga kejadian tersebut dipicu oleh faktor dari si-anak yang menurut guru sudah diluar batas kewajaran. Atau rentetan kondisi hubungn guru dengan murid dimana murid sudah beberapa kali melakukan pelanggaran-pelanggaran atau hal lainnya yang berhubungan dengan apa seharusnya dan bagaimana kenyataannya. Kondisi-kondisi ini akan mudah memunculkan kemarahan. Kemarahan dirasakan ketika secara pribadi hasil negatif diatribusikan pada faktor-faktor yang dapat dikendalikan orang lain. Dengan demikian, kemarahan sering dikonseptualisasikan sebagai suatu emosi yang dibangkitkan oleh tindakan-tindakan orang lain.

Disinilah dilema seorang guru. Guru harus sabar, tabah, santun, ramah dan cerdas. Ini adalah kondisi ideal yang mana kondisi ini sulit untuk seratus persen ada pada seorang guru. Kenapa sulit?, karena pekerjaan guru adalah mengajar dan mendidik peserta didik yang masih anak,-anak, atau remaja, berasal dari kelas dan golongan yang berbeda, berasal dari adat kebiasaan yang berbeda, dan berhadapan dengan anak yang tidak sama tingkat keceradasan emosi dan intelektualnya ditambah lagi tuntutan dari kondisi tidak tahu harus tahu. Mensinergikan keadaan tersebut dengan kapasitas diri dan realita tidaklah mudah.

Walaupun demikian adanya, bukan berarti guru berlindung dengan keadaan dan kondisi tersebut. Usaha untuk mengembangkan kapasitas dan kualitas diri perlu terus dilakukan secara kontinyu.

HAM atau KAM

Kasus pemukulan, mencubit dan menjewer atau hukuman fisik lainnya oleh guru kepada siswa pada zaman ini sering kita dengar dari media atau orang lain. Sebenarnya peristiwa ini sudah sering terjadi sejak zaman dulu. Namun hal itu tidak muncul karena zaman dulu media penyampai pesan tidaklah banyak. Menurut orang zaman sekarang kekerasan terhadap sisiwa tidak boleh terjadi apapun alasannya. Masalahanya adalah mengapa  kekerasan oleh guru dianggap melanggar HAM. Menurut hemat saya, disini ada pergeseran tentang makna HAM (Hak Asasi Manusia) dan KAM (Kewajiban Asasi Manusia).
 
Benarkah guru memberikan sanksi atau hukuman pada murid melanggar HAM?. Seperti yang kita bahas sebelumnya suatu perilaku muncul seharusnya ada penjelasan-penjelasan. Kalau orang tua murid dan murid merasa HAM-nya dilanggar bagaimana dengan HAM guru itu sendiri?. Guru yang dianggap remeh oleh murid dengan tidak mengerjakan tugas-tugas sekolah, berkata dan berbuat tidak sopan atau tidak tertib di sekolah dan dilakukan berulang kali, apakah ini tidak melanggar HAM guru?. Seharusnya sebelum seseorang menuntut haknya lebih arif bijaksana melakukan kewajiban masing-masing dengan sendirinya hak masing akan terjaga.

Dampak guru memberikan sanksi pada murid yang telah melakukan pelanggaran dan beretika buruk dan dianggap melanggar HAM adalah dikemudian hari bisa jadi guru tidak peduli lagi dan membiarkan sikap dan perilaku buruk muridnya, akhirnya sulit membentuk pendidikan yang berkarakter di sekolah. Pembiaran ini bisa terjadi karena guru takut melanggar HAM.

Ilustrasi yang dapat memberikan pemahaman tentang mendahulukan kewajiban adalah, seorang anak untuk dapat hidup baik dikemudian hari adalah harus belajar. Dalam belajar anak-anak tersebut harus melakukan dan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Kemudian anak tersebut juga harus melakukan pengembangan diri untuk dapat lebih baik untuk yang akan datang. Seterusnya anak tersebut dituntut harus berperilaku baik seperti hormat dan patuh pada orang tua dan guru serta sayang pada teman. Apabila hal ini saja dilakukan oleh anak, maka kecil kemungkinan terjadi pelanggaran HAM oleh orang lain terhadap siswa. Begitu juga kewajiban pada orang tua dan guru. Menghakimi seseorang karena seseorang tersebut telah melanggar HAM, apakah pada saat kita balik menghakimi orang tersebut kita tidak melanggar HAM orang tersebut. Guru menjewer murid salah satu alasanya adalah karena murid telah melanggar HAM guru yaitu dilecehkan. Orang tua murid melabrak atau melaporkan guru ke polisi alasanya adalah karena menurut orang tua guru telah melanggar HAM anaknya. Kalau dilihat mata rantai tersebut tidak ada yang benar, karena masing-masing menuntut HAM-nya sedangkan kewajiban tidak atau belum dilaksanakan. Menuntut Hak sementara kewajiban belum dilaksanakan adalah suatu sikap yang tidak sportif.

Sinergi Antara Guru dan Orang Tua Murid

Banyak sudah teori tentang pendidikan dan tentang sekolah, namun dari seluruh teori selalu menyimpulkan bahwa pendidikan yang utama adalah pendidikan dalam keluarga. Perilaku seseorang diluar keluarga (lingkungan sosial: misal sekolah) adalah cerminan Pendidikan dalam keluarga. Bagaimana keadaan si anak di sekolah apakah cerdas dan berakhlak baik dimulai bagaimana orang tua melakukannya di dalam keluarga. Banyak ilmuwan pendidikan berpendapat bahwa pendidikan keluarga adalah menyemai benih. Benih yang ditanamakan tumbuh baik dan benar kalau perlakuan kepada benih tersebut juga baik dan benar. Pendidikan sekolah tinggal menggali dan mengembangkan benih yang sudah disemai oleh keluarga. Diantara banyak benih yang harus disemai pada anak diantaranya adalah perilaku bertanggungjawab pada tindakan dan kejadian yang menimpanya dan memberikan bentuk tindakan yang terhormat pada orang lain.

Mengandalkan pendidikan sekolah untuk membentuk anak didik tentu sulit. Dari segi waktu, pendidikan di sekolah paling lama 8 – 9 jam, berarti ada sekitar 15 – 16 jam waktu anak berada di luar sekolah yaitu di rumah.Waktu tersebut akan maksimal seperti disekolah kalau orang tua memfungsikan dirinya sebagai orang tua yang tidak hanya sebagai Bapak dan Ibu yang bekerja mencukupi kebutuhan pokok anak tapi juga berfungsi sebagai pendidik. Orang tua sebagai pendidik adalah bentuk sinergisitas  untuk memaksimalkan program pendidikan untuk anak. Banyak sekali terjadi sekarang seolah-olah orang tua murid adalah pihak pemakai jasa dan Guru sebagai penjual tenaga. Hubungan dengan guru pengajar anak-anaknya di sekolah dianggap seperti hubungan profesional antara seorang yang pengin punya rumah dan mempekerjakan tukang bangunan Materi-materi pendidikan dirumah hanya perlu pola pembiasaan yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Pola pembiasaan ini konsistensi antara satu tindakan dengan tindakan berikutnya dan konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Contoh pola pembiasaan adalah, anak diminta untuk belajar, orang tua seharusnya menemani anaknya untuk belajar, anak diminta tidak boleh berbohong orang tua seharusnya juga tidak berbohong, anak dilarang keluar rumah pada waktu jam belajar, orang tua seharusnya juga tidak keluar rumah, begitu seterusnya.

Sebanarnya niat memasukkan anak ke sekolah itu tak hanya untuk meraih prestasi akademik semata,  namun juga diharapkan pendidikan moral dan kepribadian anak untuk bekal kelak ketika bermasyarakat. Namun ketika dalam prakteknya ilmu dan pengajaran yang didapat di sekolah baik guru dan orang tua tak mencontohkan bentuk akhlak pekerti santun terhadap orang yang mengajar,  atau seperti bait lagu diawal tulisan ini, maka rasanya sulit sekali akan menuai tujuan kesuskesan ilmu akademik dan non akademiknya. Ini perlu diperhatikan karena kita semua seringkali lupa bahwa pendidikan itu tentang manusia, bukan hanya soal prasarana dan fasilitas.
 
 
 
Penulis : Dr. Harmaini,S.Psi.,M.Si. Dosen fakultas Psikologi UIN SUSKA Riau, dan pemerhati masalah sosial
  

Editor : Hafiz
Komentar Via Facebook :