Bukti Allah SWT Maha Kuasa, Manusia sok Kuasa

Bukti Allah SWT Maha Kuasa, Manusia sok Kuasa

RanahRiau.com- Kurang lebih sebulan Propinsi Riau khususnya kabupaten Bengkalis, Siak, Rokan Hilir dan sekitarnya di selimuti asap karena adanya kebakaran hutan dan lahan. Data BNPB dan BPBD propinsi Riau. Data dari BNPB Propinsi Riau per tanggal 27 Februari 2019 sudah ada 1.136 Ha lahan yang terbakar. Ada yang mengatakan bahwa kebakaran terjadi karena dibakar tapi ada juga yang mengatakan karena terbakar sendiri karena musim panas yang berkepanjangan. Apapun alasan kebakaran, yang jelas asap sudah menyelimuti kabupaten Bengkalis dan sekitarnya. Dampak langsung yang dirasakan adalah sekolah sudah diliburkan, aktivitas masyarakat sudah terganggu dan mengalami sakit ISPA pertanggal 27 februari sebanyak 2.448 orang. Banyak sudah upaya dilakukan dan biaya dikeluarkan untuk mengurangi asap baik yang oleh pemerintah ataupun masyarakat, dan nyatanya asap masih tetap eksis.

Manusia sok kuasa

Bencana asap yang terjadi dipulau sumatera dan ditempat lainnya di Indonesia sebenarnya sudah menjadi langganan setiap tahunnya. Kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di pulau Sumatera menjadi langganan semenjak hutan di pulau ini sudah habis ditebangi. Akibat penebangan yang banyak (illegal logging) tanah di sekitar hutan menjadi mudah dikenai langsung matahari dan tentunya lahan tersebut akan menjadi panas, dan apabila sudah panas tentunya akan mudah sekali terbakar. Hutan yang ada dimuka bumi ini sebenarnya terbentuk sudah beribu-ribu tahun yang lampau. Artinya tanah di lokasi disekitar hutan tidak murni tanah tapi sudah bercampur dengan akar dan kayu. Apabila kayu-kayu yang ada di hutan ditebangi, tentunya tidak akan ada lagi penahan panasnya matahari menuju bumi. Dan inilah yang menyebabkan hutan dan lahan akan mudah terbakar dan menyebar dan akan sulit untuk dipadamkan.

Musim kemarau adalah musim yang ditunggu oleh masyarakat, pemilik lahan atau perusahaan untuk membuka lahan dengan cara membakar yang dianggap mudah dan murah. Masyarakat dan perusahaan tersebut “menganggap” bahwa api yang terbakar akan dapat dipadamkan dengan cara menyiramkan air, selesai. Ternyata anggapan tersebut salah besar. Manusia tidak kuasa memadamkan api. Manusia lupa bahwa sifat api kalau sudah membakar sesuatu dalam jumlah yang banyak akan sulit untuk mati apalagi yang dibakar adalah sesuatu yang sangat mudah terbakar. Dan manusia juga lupa bahwa karakteristik hutan dan lahan yang dibakar adalah gambut. Karakteristik gambut adalah tanah yang bercampur dengan akar dan kayu yang banyak berada dibawah yang kedalamannya bisa mencapai 5 – 10 meter dibawah tanah. Keadaan tersebut apabila dikenai oleh api tentunya akan sulit untuk dipadamkan karena api berada dibawah tanah. Dipermukaan bisa saja tidak ada api tapi dibawah api masih membara.  

Keadaan tersebut diatas dianggap manusia adalah hal yang biasa dan bukan merupakan pengrusakan (QS Al Baqarah: 11) dan akan mudah untuk diatasi dengan cara menyiramkan air. Dan ternyata air yang disiramkan manusia tidak jua memadamkan api, dan sudah sudah banyak cara lain yang dilakukan seperti menjatuhkan air dari atas dalam jumlah yang sangat banyak, menyiramkan garam supaya hujan turun, memadamkan api dilokasi kebakaran dan memakai alat berat dengan cara menggali dan membalikkan titik-titik api yang terbakar. Dibutuhkan banyak hari, tenaga, alat, dan biaya untuk memadamkan api, tapi sekali lagi asap masih tetap ada dan malah bertambah banyak.

Ternyata kekuasaan yang dimiliki manusia tidak bisa menguasai dan mengalahkan api. Kekuasaan manusia ternyata sangat terbatas, kekuasaan manusia ternyata hanya secuil (QS Al Isra’ : 85) kekuasaan manusia ternyata anggapan, dan ternyata manusia hanya sok kuasa. Sok kuasanya manusia telah  membawa  kesengsaraan pada dirinya sendiri dan orang lain. Sok kuasanya manusia membuat manusia menjadi pekak dan tuli dari peringatan Allah SWT (QS Al Anfal: 22). Sok kuasanya manusia menjadikan manusia menjadi sombong (QS Al Israa’: 37), sok kuasanya manusia menjadikan manusia lain ikut menderita (QS Al Maidah: 32, QS Asy Syua’ara 183) dan sok kuasanya manusia menjadikan manusia lupa (atau memang melupakan) bahwa air, tanah, api, kayu dan segala yang ada di alam jagat raya ini adalah ciptaan Allah SWT dan Allah yang mengatur dan yang bisa menguasainya (QS Al Ahqaaf:33. QS Ibrahim 19, 42).

Allah SWT Maha Kuasa

Asap yang berada di lokasi atau sekitar kebakaran karena ulah manusia sepertinya dengan kemahakuasaan-Nya, Allah SWT sengaja biarkan asap menyelimuti daerah  dengan tidak menurunkan hujan (QS.Al An’m: 17, QS Ibrahim: 42).  Padahal hanya hujan satu-satunya cara untuk mengatasi bencana kebakaran dan asap. Seolah—olah Allah SWT bertanya dan menggertak manusia yang sok kuasa, “cobalah padamkan api dan hilangkan asap tersebut hai manusia, kalau kamu bisa”. Sekali lagi manusia tidak bisa dan tidak kuasa.  Hanya Allah yang mampu menurunkan hujan dan menghilangkan asap. (QS Fushilat: 39, Az Zumar: 21, An Nahl 10-11, QS An Naml: 60, QS Ar Rum 46-49).

Hujan yang turun dan membuat udara menjadi cerah telah menghilangkan usaha dan jasa yang dilakukan banyak pihak untuk memadamkan api. Walaupun berhari-hari dan dengan banyak usaha yang telah dilakukan tidak akan dapat menghilangkan asap.  Hujan yang diturunkan Allah SWT setiap tahun berisi 45 miliar liter kubik air yang menguap dari lautan dan air yang menguap tersebut dibawa angin melintasi daratan dalam bentuk awan. Dengan cara seperti itu manusia tidak akan sanggup melakukannya walaupun dengan mengerahkan seluruh teknologi modern.  Hal ini dinyatakan Allah SWT  dalam QS A l Waqiah ayat 68-70 “maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang yang menurunkannya dari awan ataukan Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur”.  

Dan hebatnya lagi kekuasaan Allah SWT  tentang hujan yang turun berada dalam takaran yang tepat (QS Az Zukhruf: 11). Takaran adalah yang berhubungan dengan kecepatan turunnya air, sifat air dan banyaknya air (QS An Nahl 10-11, QS Al Waqiah 68-78, QS Al Mursalat: 27, QS Al Furqon 28),  Allah SWT juga mengatur batas ketinggian minimum awan hujan. Seadainya Allah SWT  tidak atur takaran tersebut maka setiap hujan bumi akan hancur.

Manusia yang sok kuasa seharusnya sadar sesadar-sadarnya bahwa Allah SWT yang maha kuasa atas segala-galanya (QS Al Baqarah 107). Terjadinya kerusakan dimuka ini adalah ulah tangan manusia itu sendiri (QS. Al Qashash: 83, Ar Ruum: 41), dan melakukan penebangan hutan dan membakar bukan perbaikan hidup (QS Al Baqarah 11). Dan hal ini telah terbukti sekarang banyak pihak yang mengalami kerugiaan dalam segala hal. Apabila hal ini tidak juga berubah, seperti doa yang sering dipanjtakan kepada Allah SWT (QS Yunus: 12) maka bersiap-siaplah, Allah akan menunjukkan kemahakuasaan-Nya dengan menunjukkan azab dan hukuman dalam bentuk yang lebih berat (QS Al Maidah 33).

Wallahualam bishawab.



Penulis : Dr. Harmaini, S.Psi., M.Si. Dosen Fak. Psikologi UIN SUSKA Riau, Ketua LP2M PWM Riau Dan pemerhati masalah sosial

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :