Menakar kriteria caleg yang merakyat
RanahRiau.com- Sorak sorai gumaman janji tak bertanggung jawab menyeruak kepermukaaan, mewarnai pesta Demokrasi di Indonesia pada tanggal 17 April 2019 kelak. Tinggal menunggu hitungan menit, hari, hingga bulan untuk pergantian besar, dari tingkat Eksekutif (Presiden beserta Kabinetnya) sampai Legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat).
Beribu janji terus terucap bak api berkobar tak menentu ke 4 penjuru mata angin, ditambah hiasan jalanan dengan tiang-tiang bambunya, yang terus mengkotori jalur hijau Ibukota dan sekitarnya.
Dua periode telah berlalu dipimpin oleh sosok tak tegas dalam pengambil keputusan, macam “kucing dalam karung”, beserta kroninya (Kerabatnya). Lihat partai besar yang berkuasa pada 2 periode, dengan tagline (Berantas Korupsi). Pada kenyataannya di dalam proses kehidupan, merekalah yang mengerogoti serta menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kekecewaan terus muncul dari setiap raut wajah pribumi yang selalu tertindas dan tak terwakilkan nasibnya. Mereka hanya dituntut serta dipaksa untuk ikut dan mengakui akan adanya pemimpin baru yang “pro” kepada rakyatnya, apakah harus seperti ini terus faktanya…..??? Tentu rakyat bisa melihat dan juga mulai kritis akan apa yang dialaminya pada tahun-tahun sebelumnya.
Beribu janji terus terucap bak api berkobar tak menentu ke 4 penjuru mata angin, ditambah hiasan jalanan dengan tiang-tiang bambunya, yang terus mengkotori jalur hijau Ibukota dan sekitarnya.
Dua periode telah berlalu dipimpin oleh sosok tak tegas dalam pengambil keputusan, macam “kucing dalam karung”, beserta kroninya (Kerabatnya). Lihat partai besar yang berkuasa pada 2 periode, dengan tagline (Berantas Korupsi). Pada kenyataannya di dalam proses kehidupan, merekalah yang mengerogoti serta menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kekecewaan terus muncul dari setiap raut wajah pribumi yang selalu tertindas dan tak terwakilkan nasibnya. Mereka hanya dituntut serta dipaksa untuk ikut dan mengakui akan adanya pemimpin baru yang “pro” kepada rakyatnya, apakah harus seperti ini terus faktanya…..??? Tentu rakyat bisa melihat dan juga mulai kritis akan apa yang dialaminya pada tahun-tahun sebelumnya.
Di dalam Teori Kepemimpinan Global terdapat 3 mitos yang berkembang dalam masyarakat yaitu, the birthright, the for all seasons, dan the intensity. The Birthright adalah tipe pemimpin yang dilahirkan sebagaimana halnya dengan yang terjadi pada para pemimpin dengan sistem kerajaan ortodoks ataupun pemerintahan yang absolut. Bapaknya raja maka anaknya akan menjadi raja berikutnya. Mitos ini masih dianut di beberapa negara seperti Korea Utara, Thailand, Inggris dan lain-lain.
Lalu mitos the for all seasons, yang menyebutkan pemimpin terlahir dari suatu situasi yang akhirnya membawa dia menjadi pemimpin yang paling pantas dalam lingkungannya. Sebagaimana halnya dengan Presiden Soekarno dari Indonesia maupun Napoleon Bonaparte dari Perancis. Meskipun masing-masing pemimpin tentunya tidak selalu tepat dalam setiap situasi yang dihadapi dalam perjalanan kepemimpinannya sehingga mempengaruhi buruknya kebijakan yang diambil dalam menghadapi situasi yang berbeda-beda.
Selanjutnya, mitos yang terakhir adalah The intensity atau biasa juga disebut pemimpin yang tegas dan keras. Pemimpin-pemimpin ini rata-rata banyak berasal dari kalangan militer yang memang terkenal dengan sistemnya yang ketat dan disiplin serta absolut sehingga segala sesuatunya terlaksana secara rigid dan teratur. Kepemimpinan dengan cara ini cenderung berhasil namun hanya dalam lingkungan militer namun apabila dihadapkan dengan lingkungan umum maupun sipil, teori ini dapat menyebabkan keterpaksaan dari para pembantu dibawahnya sehingga justru akan menghasilkan keadaan yang kontra-produktif.
Pemimpin yang seperti apa yang akan dipilih jika masyarakat sudah terlalu gerah dan lelah melihat apa yang telah terjadi dalam setiap kali pemilihan Legislatif bahkas Eksekutif. Mereka yakin, sampai sejauh ini tak ada yang dapat mewakili hati nurani mereka bahkan kesejahteraan mereka sedikitpun.
Bukan dengan cara membagikan sejadah atau sembako untuk kemakmuran rakyat, melainkan fakta dalam proses menjalani tahun tersebut. Tentu mereka akan memilih, tapi siapa yang akan dipilih jika pemimpinnya tak ada sedikitpun yang mencerminkan sikap kebudayaan Timur yang kental akan lemah lembutnya Nusantara?
Masyarakat membutuhkan sosok tegas dan hangat bagi dirinya, bukan sosok yang “gemulai” bak “Putri Salju” yang takut akan panasnya matahari. Mereka bukan butuh janji, karena bagi mereka janji dapat lenyap bagaikan kertas terbakar dalam tumpukan sampah di kobaran api.
Jika memang Negeri ini harus baik dan merangkul rakyatnya, tentu seperti “Harapan adalah impian yang terbangun” (Aristoteles).
Jika memang Negeri ini harus baik dan merangkul rakyatnya, tentu seperti “Harapan adalah impian yang terbangun” (Aristoteles).
Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP, Pemerhati Sosial Budaya, Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau, Wartawan di RanahRiau.com, dan Majalah Property dan Bisnis, Sahabat Ombudsman Riau. Diskusi, kritik dan saran silakan ke nomor WA 085263905088 atau email ke ranahriaumedia@gmail.com


Komentar Via Facebook :