Resep cerdas Mengolah Menu Lezat Demokrasi

Resep cerdas Mengolah Menu Lezat Demokrasi

RanahRiau.com- Di negara demokrasi, melibatkan rakyat dalam setiap pengambilan kebijakan negara adalah sebuah keniscayaan. Rakyat perlu dimintai pendapat, saran, masukan, bahkan kritik atas sebuah kebijakan, karena hakikatnya kebijakan itu pada akhirnya terkait dengan kehidupan rakyat. Maka, akan sangat paradoks ketika rakyat yang bahkan menjadi elemen penting yang mengantarkan seseorang menjadi pemimpin tertinggi dalam negara demokrasi tetapi suara-suara kritis mereka tidak didengar, kalau tidak malah dianggap sebagai rongrongan.

Pemimpin Hebat

Pemimpin hebat selalu melihat dirinya dalam dimensi yang luas. Dirinya sebagai individu dan dirinya sebagai makhluk sosial yang kebetulan tengah berposisi sebagai pemimpin. Dalam posisi dirinya sebagai individu, ia adalah penguasa bagi dirinya sendiri. Nabi menyebutnya ‘pemimpin diri sendiri’ yang akan mempertanggungjawabkan diri yang ia pimpin. Pemimpin bagi diri sendiri meniscayakan perlunya kemampuan untuk mengendalikan diri dari keinginan-keinginan negatif yang membuat dirinya ‘hina’. Hina karena dalam perspektif kemanusiaan perbuatan itu tidak selaras dengan nurani dan akal sehat, serta bertentangan dengan norma-norma, seperti agama, hukum, atau adat istiadat. Alquran menyebutnya dengan istilah ‘menzalimi diri sendiri’.

Sementara dalam posisinya sebagai makhluk sosial yang kebetulan tengah menyandang status sebagai pemimpin, ia memiliki tanggung jawab yang cakupannya lebih luas, karena akan bersentuhan dengan jaring-jaring sosial atau sistem-sistem yang mengikat dirinya dan orang lain sekaligus. Dalam konteks ini, pemimpin tidak lagi semata-mata sebagai individu diri sendiri, tapi individu yang dimiliki oleh orang lain, menjadi bagian dari mereka yang dengan demikian meniscayakan sikap terbuka, legawa, arif, bijaksana, dan memiliki daya tahan—fisik dan mental—yang kuat. Sebuah pepatah mengatakan semakin tinggi akan makin kencang anginnya. Filosofi padi yang makin matang makin menunduk mengajarkan pemimpin untuk tetap melihat ke bawah, pada orang-orang yang dipimpinnya.

Kemampuan seorang pemimpin dalam memosisikan diri dalam konteks individu dan sosial inilah yang menjadikannya sebagai pemimpin hebat. Pemimpin yang hebat akan selalu terbuka dan sungguh-sungguh mendengar masukan, saran, dan kritik, bahkan sepedas apa pun kritik itu, karena ia sadar bahwa itulah menu lezat yang pasti akan tersaji di ruang hidupnya sebagai pemimpin negara demokrasi, agar tidak lalai, terlena, dan menjadi tiran atau otoriter. Kisah-kisah para nabi dan rasul di dalam Alquran selalu menggambarkan seorang nabi atau rasul yang memberi peringatan terhadap para penguasa yang berlaku zalim. Zalim terhadap dirinya sendiri karena memperturutkan egonya, dan zalim terhadap rakyatnya dengan model tiran dan otoriternya.

Mengelola Kritik


Sebagai menu lezat dalam negara demokrasi, kritik atau yang sejenisnya mestinya tidak ditolak mentah-mentah atau ditanggapi secara paranoid oleh pemimpin. Justru dengan semakin banyak kritikan membuktikan ada kepedulian atau perhatian terhadap pemimpin. Semakin banyak dikritik, pemimpin akan semakin mawas diri dan menyadari bahwa tanggung jawab pemimpin memang berat. Ia sadar ada amanah begitu besar yang tengah dipikul di pundaknya. Amanah yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di dunia, tapi juga di akhirat. Kritik akan semakin membuat pemimpin tahu kekurangan dan kelemahannya, sehingga memicunya untuk segera melakukan perubahan. Itu satu sisi. Pada sisi lain, para pengkritiknya sendiri sebenarnya adalah rakyatnya sendiri, orang-orang yang memilihnya, atau tidak memilihnya tetapi ingin agar siapa pun pemimpinnya harus merasa memiliki tanggung jawab yang tidak main-main.

Pemimpin yang hebat akan menerima segala kritik dan mengelolanya menjadi sebuah kebijakan yang baik buat semuanya. Kritik ia jadikan sebagai bagian penting dalam hidupnya. Karena, tidak ada kemajuan dan perbaikan tanpa kritik. Pemimpin juga manusia. Dengan demikian, pemimpin rentan bertindak salah atau keliru. Dengan kritik, pemimpin akan tergerak untuk memperbaiki. Lebih daripada itu, pemimpin akan menjawab kritik dengan bukti nyata, kinerja yang bagus, dan kerja yang serius, tanpa perlu membalas kritikan dengan kritikan balik, karena seringnya tak ada ujung alias menjadi debat kusir.

Pasca ditandatanganinya Perdamaian Hudaibiyah antara Nabi dengan Quraisy Mekkah, kaum muslimin sangat kecewa dengan hasilnya, karena di dalamnya ada pasal yang menyebutkan bahwa tahun ini kaum muslimin tidak boleh menginjakkan kaki di Mekkah, padahal mereka sangat menginginkannya. Kekecewaan itu lantas mereka lampiaskan dengan menolak perintah Nabi yang menyuruh mereka untuk menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut, menandai tidak jadinya mereka masuk Mekkah, tapi pulang ke Madinah. Dengan kesal, karena perintahnya tidak dipatuhi, beliau masuk tenda menemui Ummu Salamah, mengadu. Ummu Salamah bertanya kepada beliau, “Apakah engkau marah dengan mereka? Anda jangan seperti itu. Lebih baik engkau temui mereka, lalu di hadapan mereka engkau sembelih hewan kurban, dan mencukur rambut.” Beliau pun melaksanakan kritik dan saran istrinya itu. Ketika melihat beliau menyembelih kurban dan mencukur rambut, para sahabat serentak ikut menyembelih dan mencukur rambut mereka.

Demikianlah sosok pemimpin hebat; selalu menjawab kekecewaan publik yang dieskpresikan dalam bentuk kritik, protes, dan ketidakpatuhan, dengan perbaikan kinerja dan kesungguhan dalam bertindak. Itulah jawaban ril, bukan sekadar retorika, apologia, atau politik pencitraan minus aksi nyata.



Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP
Pengamat Sosial
Alumni Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau, Wartawan RanahRiau.com
Berdomisili di Pekanbaru
kritik dan saran bisa disampaikan ke :putramelayu.enterprise@gmail.com
085263905088

 

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :