10 Tahun Tsunami Aceh

Kenangan Seorang Fotografer Melihat Kengerian di Aceh Pasca Tsunami

Kenangan Seorang Fotografer Melihat Kengerian di Aceh Pasca Tsunami

Jakarta - Tanggal 26 Desember pada 10 tahun yang lalu, tsunami meluluhlantakkan wilayah Aceh. Banyak yang tersapu, mulai dari bangunan-bangunan hingga manusianya. Ratusan ribu jiwa melayang terhisap dalam air bah yang mendadak muncul dari samudera.

“Semuanya luluh lantak. Rata-rata keadaannya sama, sampai 7 hari setelah tsunami , pemerintah sudah enggak ada, sudah enggak berfungsi. Kayak daerah enggak bertuan,” kata Dita Alangkara, seorang wartawan foto yang bekerja untuk Associated Press, yang meliput saat kejadian.

Dia mengunjungi tiga kota yang terdampak yakni Banda Aceh, Meulaboh, dan Calang sepanjang 28 Desember. Sepanjang pengamatannya, kota Serambi Mekah itu seperti sebuah kota mati. Mayat-mayat masih dibiarkan bergelimpangan dalam arti yang sesungguhnya.

“Enggak ada yang punya inisiatif, mayat-mayat masih bergelimpangan. Seminggu (setelah kejadian) masih enggak diapa-apain. Beneran bergelimpangan di mana-mana, enggak ada yang pindahin karena semua orang masih syok,” ucapnya.

“Semuanya hancur luar dalam. Bencana itu luar biasa sekali,” kata dia sambal menarik nafas dalam-dalam.

Dita yang sudah terbiasa meliput ke berbagai lokasi bencana itu berujar saat itu manajemen bencana di tanah air memang masih belum terlalu baik. Bantuan juga sulit diberikan. Apalagi akses transportasi, komunikasi juga terputus.

Para relawan dari dalam dan luar negeri banyak yang tergerak menolong. Namun para LSM dan SAR juga tak bisa langsung masuk ke lokasi bencana karena jalan yang rusak.

“Ke Banda Aceh sih waktu itu pesawat masih ada, tapi banyak daerah-daerah di luar Banda yang terisolasi, seperti Meulaboh. Jalannya putus, pesawat juga enggak ada. Belakangan baru ada Susi Air dan SMAC. Saya numpang helicopter ke Meulaboh,” kata pria berkacamata itu.

Yang lebih parah, menurutnya, adalah kota Calang yang merupakan ibukota Kabupaten Aceh Jaya. Saat itu Calang masih jadi kota baru hasil pemekaran. “Kantor bupatinya, kantor-kantor pemerintahan daerah hancur semua. Saya lupa berapa jiwa, tapi sebagian besar penduduknya lewat sudah,” kenangnya.

Dita turun ke lokasi pada hari kedua setelah bencana dan sempat shock melihat ratusan ribu jasad manusia bergelimpangan di jalan-jalan.

Dita sempat menyaksikan para penyintas yang menyimpan trauma. Namun, saat dia datang kembali ke Aceh dalam beberapa kesempatan, dia melihat luka itu perlahan-lahan sudah mulai sembuh. Pemerintah, yang dulu sempat tidak berfungsi, juga sudah mulai berbenah dalam hal manajemen bencana.

“Saya punya beberapa teman waktu itu, mereka ada yang kehilangan istrinya, anaknya. Tapi sudah 10 tahun, waktu yang cukup lama untuk mereka bisa move on. Seperti kotanya sendiri, mereka juga sudah mulai balik ke kehidupan normal,” tuturnya.

Editor : Ahnof
Komentar Via Facebook :