Memahami dan Menghayati Bahasa Moral
Ranahriau.com- Tak ada bahasa yang mampu menyampaikan sentimen akan diri dan orang lain dengan lebih lugas dan menusuk daripada “bahasa moral”. Tak ada bahasa yang mampu menundukkan dan melumpuhkan diri dan orang lain dalam sekejap daripada bahasa moral. Dengannya, orang menyatakan penyesalan, menuduh dan melemparkan tanggung jawab, menggugat dan mengetuk kesadaran, membungkam diri dan orang lain dalam kebekuan rasa bersalah dan gejolak penyesalan. Puncaknya, dalam keheningan yang diciptakannya di ujung penyesalan itu, setiap bahasa moral menciptakan dua kondisi yang bertolak belakang: mendorong reaksi berkelanjutan atas tuduhan yang disulutnya dengan tuduhan baru, dan dengan demikian, mengabadikan lingkaran balas dendam, atau memutusnya dengan penyerahan, penyesalan, konsiliasi, penundukan, atau ketidakacuhan.
Itu karena bahasa moral adalah ekspresi paling transparan dari kemarahan. Hanya bahasa moral yang mampu mengekspresikan secara ekspresif sentimen kemarahan dalam bentuknya yang langsung dan murni. Bahasa logis dan bahasa hasrat tak dapat meledakkan kemarahan—hanya bahasa moral yang memiliki privilese sebagai bahasa yang memiliki kekuatan eksplosif. Bahasa logis tak menangkap kerumitan sentimen, lapisan-lapisan nuansa dan kepekatan sensitivitasnya, karena ia adalah bahasa kategori—seorang Spinozis, karenanya, tidak akan pernah merasakan kerumitan rasa bersalah seorang Yahudi di depan Tembok Ratapan, sebab Tuhan Spinoza adalah Tuhan akal budi yang sejalan dengan cita-cita kesepadanan dan keanggunan geometri. Bahasa logis akan menganggap bahasa moral sebagai ekspresi terdegradasi dari kekacauan sentimen yang bertolak belakang dan saling menegasikan, yang cacat karena ketidakmampuannya keluar dari jebakan rasa bersalah. Di sisi lain, bahasa hasrat tak mampu mengekspresikan kemarahan dengan lepas kecuali dengan kerumitan yang lain: medium puitik, bila ekspresi itu berlangsung melalui ruang antara kemarahan dan ketakberdayaan mengungkapkan kemarahan—tangisan, melalui tubuh atau kata-kata, adalah bentuk paling sublim dari medium ini—atau medium non-puitik yang berurusan langsung dengan tubuh:mengekspresikan kemarahan dengan gerakan tubuh dan kegilaan tingkah fisik yang tak terduga—seorang seniman yang mengekspresikan kemarahannya atas Lapindo dengan melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur beracun adalah contoh singular dari bahasa ini.
Namun bahasa moral tetaplah bahasa yang paling efektif, karena dengan menuduh, ia melumpuhkan; dengan menyalahkan, ia menularkan rasa bersalah; dengan mengecam, ia mengubah relasi yang netral menjadi relasi yang dibebani sentimen-sentimen moral. Efektivitas ini tidak muncul karena struktur internal bahasa moral yang langsung, menohok, dan menunjuk ke muka si tertuduh, tapi karena relasi tak setara yang menjadi prakondisi bagi setiap kondisi moral apa pun: superioritas satu pihak atas pihak lain, atau satu bagian diri atas bagian ‘diri’ yang lain. Hanya seorang yang merasa atau ditempatkan sebagai superior yang bisa memberikan teguran dengan efektif; dalam hal ini, superioritas tidak berkaitan sama sekali dengan kualitas fisik, tetapi distruktur oleh prakondisi dan pengandaian-pengandaian moral: seorang dengan posisi moral yang lebih tinggi, meski secara fisik lemah, akan efektif melibatkan orang lain dalam relasi moral yang kelihatan “niscaya” dan “absolut”. Ketidaksetaraan itu, meski pada dasarnya ilusif dan dapat dipertanyakan, diterima secara kontradiktif sebagai bagian dari “keniscayaan sosial” yang harus dihormati bila seseorang ingin diterima di lingkungan tersebut.
Problem utama dari bahasa moral bukanlah apakah individu dapat menjadi tuan absolut atas moralitasnya sendiri, seperti dalam cita-cita Kantian, bukan pula apakah komunitaslah, dan bukan individu, yang mesti menjadi fondasi moral apapun, tetapi bagaimana bahasa moral tetap dan terus menjadi bahasa yang efektif untuk membuat orang berkutat dalam lingkaran reaksi dan kontra-reaksi untuk menundukkan mereka, pada gilirannya, dalam kepatuhan kolektif dengan tanpa sadar.
Untuk membuat tunduk, untuk membungkam lawan-lawan bicaranya, bahasa moral cukup menyentuh rasa bersalah orang yang didakwanya, sentimen yang menjebak langsung yang bersangkutan dalam oposisi kepolosan dan egoisme: ‘Bila kau tak merasa bersalah, itu karena kau entah terlalu polos dan naif atau kau terlalu egois!’. Kepolosan menghalangi bahasa moral untuk dimengerti, karena ia terlalu sederhana untuk memahami “kerumitan” bahasa moral yang dipandang lebih tinggi, namun kecerdasan yang berlebih menyepelekan bahasa moral menjadi sesuatu yang kelewat sederhana. Rasa bersalah dimunculkannya dari jebakan ini, dan dengan merujuk pada sesuatu yang tampak sebagai hukum-hukum moral tertinggi, bahasa moral menyulut rasa bersalah yang bersangkutan dengan tidak adanya pilihan lain selain ketundukan.
Padahal, bukankah dalam ketersediaan satu-satunya ketundukan sebagai efek dari bahasa moral, bahasa moral adalah egoisme tersendiri, dalam bentuknya yang lain? Dan dengan menutup ruang abu-abu dalam wilayah serba mungkin antara kepatuhan dan negosiasi, antara kepatuhan dan penerimaan bersyarat dan bahkan resistensi, bukankah bahasa moral menjadikan rasa bersalah target sekaligus sarana bagi efektivitasnya? Atas nama anti-egoisme, bahasa moral dapat menjadi egoisme itu sendiri yang berhasil bekerja dengan mentransposisikan egoismenya kepada “egoisme” si tertuduh.
Kebencian para pemikir kecurigaan terhadap bahasa moral meletak dalam konteks ini, ketika bahasa moral menciptakan suatu mekanisme yang rumit dari permainan transposisi antara si bersalah dan yang menuduh bersalah, yang bagi mereka merupakan permainan penuh muslihat dari hasrat-hasrat primitif akan kekuasaan yang mendalangi dan menggerakkan struktur volkanik orde moral masyarakat. Namun, Nietzsche yang tetap hingga kini merepresentasikan posisi paling ekstrem dari kecurigaan terhadap bahasa moral, tetap tidak berhasil keluar dari jebakan ini dengan anjurannya untuk melampaui bahasa moral dengan bahasa moral yang lain yang didasarkan pada ressentiment dan egoisme yang lebih superior, maksimalisasi dari egoisme budak menuju egoisme tuan.
Solusi Nietzschean mengatasi persoalan bahasa moral dengan bahasa supramoral, menciptakan suatu ketegangan tanpa henti antara berbagai ekspresi sikap moral yang satu sama lain saling menegasikan, di mana si “budak” menanggapi si tuan dengan berlaku sebagai “tuan” dan si tuan, tak terima atas status barunya sebagai objek pembudakan oleh si tuan baru, mengafirmasi dirinya sebagai tuan atas segala tuan. Efek dari situasi ini adalah individualisme yang berkelanjutan, rentetan aksi-reaksi yang tetap mengunci kita dalam bola panas sentimen, dan pada gilirannya ketidakberhasilan untuk mencari jalan keluar dari kepekatan bahasa moral itu sendiri.
Jalan itu dibuka oleh jalan diskursif, jalan yang memungkinkan kedua pihak yang bersitegang dalam suasana moral keluar dari kepekatan rasa tertuduh dan ketakberterimaan atas tuduhan itu, dan menetralkan ranah di mana keduanya berpijak dari beban moral. Melalui diskursivitas, muncul suatu netralisasi ruang di mana suatu persoalan dibebaskan dari moralisasi atau demoralisasinya, dan terciptalah suatu kemungkinan negasi dalam bentuknya yang lebih diskursif, di mana suatu persoalan, suatu gagasan, atau suatu sentimen direspons dan diekspresikan tidak untuk memunculkan rasa bersalah, melainkan menantang posisi diskursif pihak lain. Dalam hal ini bahasa diskursif sinonim dengan bahasa politis, karena dengan menantang posisi diskursif, ia menantang posisi politis dan menciptakan suatu relasi baru kesetaraan.Bahasa diskursif, namun demikian, bukanlah bahasa logis—ia melibatkan dan mentransformasikan sentimen-sentimen. Memurnikan bahasa diskursif agar dapat menjadi bahasa logis mensyaratkan terbuangnya sentimen sebagai elemen yang sah, dan di situ bahasa diskursif menjadi tidak peka dengan persoalan moral, tidak memiliki sensitivitas akan getaran-getaran sentimen manusiawi; bahasa logis yang dibersihkan sepenuhnya dari sentimen adalah nama lain dari kematian diskursivitas. Bahasa diskursif tidak anti terhadap persoalan moral, namun ia mengubah bahasa moral dari kebuntuan moralisasi/demoralisasi, dan dengan demikian mengubah persoalan moral menjadi persoalan yang dapat dipecahkan secara struktural. Bahasa diskursif yang tak murni, demikian kita dapat menyebutnya, dengan demikian tidak menghilangkan sama sekali rasa bersalah, namun mengubah rasa bersalah menjadi bahasa emansipatif bagi si subjek tertuduh: terbebas dari statusnya sebagai objek moral, ia adalah subjek pengucap yang memiliki suaranya, yang menantang suara diskursif kita, sebagaimana kita terbebas dari status sebagai pemilik otoritas moral yang berpretensi memiliki satu-satunya suara. Diskursivitas adalah antidot bagi rasa bersalah dan melokalisasinya, untuk membuka situasi heterogen di mana yang tak bersuara dapat bersuara dan yang tertuduh menjadi juru bicara atas pengalamannya sendiri.
Itu karena bahasa moral adalah ekspresi paling transparan dari kemarahan. Hanya bahasa moral yang mampu mengekspresikan secara ekspresif sentimen kemarahan dalam bentuknya yang langsung dan murni. Bahasa logis dan bahasa hasrat tak dapat meledakkan kemarahan—hanya bahasa moral yang memiliki privilese sebagai bahasa yang memiliki kekuatan eksplosif. Bahasa logis tak menangkap kerumitan sentimen, lapisan-lapisan nuansa dan kepekatan sensitivitasnya, karena ia adalah bahasa kategori—seorang Spinozis, karenanya, tidak akan pernah merasakan kerumitan rasa bersalah seorang Yahudi di depan Tembok Ratapan, sebab Tuhan Spinoza adalah Tuhan akal budi yang sejalan dengan cita-cita kesepadanan dan keanggunan geometri. Bahasa logis akan menganggap bahasa moral sebagai ekspresi terdegradasi dari kekacauan sentimen yang bertolak belakang dan saling menegasikan, yang cacat karena ketidakmampuannya keluar dari jebakan rasa bersalah. Di sisi lain, bahasa hasrat tak mampu mengekspresikan kemarahan dengan lepas kecuali dengan kerumitan yang lain: medium puitik, bila ekspresi itu berlangsung melalui ruang antara kemarahan dan ketakberdayaan mengungkapkan kemarahan—tangisan, melalui tubuh atau kata-kata, adalah bentuk paling sublim dari medium ini—atau medium non-puitik yang berurusan langsung dengan tubuh:mengekspresikan kemarahan dengan gerakan tubuh dan kegilaan tingkah fisik yang tak terduga—seorang seniman yang mengekspresikan kemarahannya atas Lapindo dengan melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur beracun adalah contoh singular dari bahasa ini.
Namun bahasa moral tetaplah bahasa yang paling efektif, karena dengan menuduh, ia melumpuhkan; dengan menyalahkan, ia menularkan rasa bersalah; dengan mengecam, ia mengubah relasi yang netral menjadi relasi yang dibebani sentimen-sentimen moral. Efektivitas ini tidak muncul karena struktur internal bahasa moral yang langsung, menohok, dan menunjuk ke muka si tertuduh, tapi karena relasi tak setara yang menjadi prakondisi bagi setiap kondisi moral apa pun: superioritas satu pihak atas pihak lain, atau satu bagian diri atas bagian ‘diri’ yang lain. Hanya seorang yang merasa atau ditempatkan sebagai superior yang bisa memberikan teguran dengan efektif; dalam hal ini, superioritas tidak berkaitan sama sekali dengan kualitas fisik, tetapi distruktur oleh prakondisi dan pengandaian-pengandaian moral: seorang dengan posisi moral yang lebih tinggi, meski secara fisik lemah, akan efektif melibatkan orang lain dalam relasi moral yang kelihatan “niscaya” dan “absolut”. Ketidaksetaraan itu, meski pada dasarnya ilusif dan dapat dipertanyakan, diterima secara kontradiktif sebagai bagian dari “keniscayaan sosial” yang harus dihormati bila seseorang ingin diterima di lingkungan tersebut.
Problem utama dari bahasa moral bukanlah apakah individu dapat menjadi tuan absolut atas moralitasnya sendiri, seperti dalam cita-cita Kantian, bukan pula apakah komunitaslah, dan bukan individu, yang mesti menjadi fondasi moral apapun, tetapi bagaimana bahasa moral tetap dan terus menjadi bahasa yang efektif untuk membuat orang berkutat dalam lingkaran reaksi dan kontra-reaksi untuk menundukkan mereka, pada gilirannya, dalam kepatuhan kolektif dengan tanpa sadar.
Untuk membuat tunduk, untuk membungkam lawan-lawan bicaranya, bahasa moral cukup menyentuh rasa bersalah orang yang didakwanya, sentimen yang menjebak langsung yang bersangkutan dalam oposisi kepolosan dan egoisme: ‘Bila kau tak merasa bersalah, itu karena kau entah terlalu polos dan naif atau kau terlalu egois!’. Kepolosan menghalangi bahasa moral untuk dimengerti, karena ia terlalu sederhana untuk memahami “kerumitan” bahasa moral yang dipandang lebih tinggi, namun kecerdasan yang berlebih menyepelekan bahasa moral menjadi sesuatu yang kelewat sederhana. Rasa bersalah dimunculkannya dari jebakan ini, dan dengan merujuk pada sesuatu yang tampak sebagai hukum-hukum moral tertinggi, bahasa moral menyulut rasa bersalah yang bersangkutan dengan tidak adanya pilihan lain selain ketundukan.
Padahal, bukankah dalam ketersediaan satu-satunya ketundukan sebagai efek dari bahasa moral, bahasa moral adalah egoisme tersendiri, dalam bentuknya yang lain? Dan dengan menutup ruang abu-abu dalam wilayah serba mungkin antara kepatuhan dan negosiasi, antara kepatuhan dan penerimaan bersyarat dan bahkan resistensi, bukankah bahasa moral menjadikan rasa bersalah target sekaligus sarana bagi efektivitasnya? Atas nama anti-egoisme, bahasa moral dapat menjadi egoisme itu sendiri yang berhasil bekerja dengan mentransposisikan egoismenya kepada “egoisme” si tertuduh.
Kebencian para pemikir kecurigaan terhadap bahasa moral meletak dalam konteks ini, ketika bahasa moral menciptakan suatu mekanisme yang rumit dari permainan transposisi antara si bersalah dan yang menuduh bersalah, yang bagi mereka merupakan permainan penuh muslihat dari hasrat-hasrat primitif akan kekuasaan yang mendalangi dan menggerakkan struktur volkanik orde moral masyarakat. Namun, Nietzsche yang tetap hingga kini merepresentasikan posisi paling ekstrem dari kecurigaan terhadap bahasa moral, tetap tidak berhasil keluar dari jebakan ini dengan anjurannya untuk melampaui bahasa moral dengan bahasa moral yang lain yang didasarkan pada ressentiment dan egoisme yang lebih superior, maksimalisasi dari egoisme budak menuju egoisme tuan.
Solusi Nietzschean mengatasi persoalan bahasa moral dengan bahasa supramoral, menciptakan suatu ketegangan tanpa henti antara berbagai ekspresi sikap moral yang satu sama lain saling menegasikan, di mana si “budak” menanggapi si tuan dengan berlaku sebagai “tuan” dan si tuan, tak terima atas status barunya sebagai objek pembudakan oleh si tuan baru, mengafirmasi dirinya sebagai tuan atas segala tuan. Efek dari situasi ini adalah individualisme yang berkelanjutan, rentetan aksi-reaksi yang tetap mengunci kita dalam bola panas sentimen, dan pada gilirannya ketidakberhasilan untuk mencari jalan keluar dari kepekatan bahasa moral itu sendiri.
Jalan itu dibuka oleh jalan diskursif, jalan yang memungkinkan kedua pihak yang bersitegang dalam suasana moral keluar dari kepekatan rasa tertuduh dan ketakberterimaan atas tuduhan itu, dan menetralkan ranah di mana keduanya berpijak dari beban moral. Melalui diskursivitas, muncul suatu netralisasi ruang di mana suatu persoalan dibebaskan dari moralisasi atau demoralisasinya, dan terciptalah suatu kemungkinan negasi dalam bentuknya yang lebih diskursif, di mana suatu persoalan, suatu gagasan, atau suatu sentimen direspons dan diekspresikan tidak untuk memunculkan rasa bersalah, melainkan menantang posisi diskursif pihak lain. Dalam hal ini bahasa diskursif sinonim dengan bahasa politis, karena dengan menantang posisi diskursif, ia menantang posisi politis dan menciptakan suatu relasi baru kesetaraan.Bahasa diskursif, namun demikian, bukanlah bahasa logis—ia melibatkan dan mentransformasikan sentimen-sentimen. Memurnikan bahasa diskursif agar dapat menjadi bahasa logis mensyaratkan terbuangnya sentimen sebagai elemen yang sah, dan di situ bahasa diskursif menjadi tidak peka dengan persoalan moral, tidak memiliki sensitivitas akan getaran-getaran sentimen manusiawi; bahasa logis yang dibersihkan sepenuhnya dari sentimen adalah nama lain dari kematian diskursivitas. Bahasa diskursif tidak anti terhadap persoalan moral, namun ia mengubah bahasa moral dari kebuntuan moralisasi/demoralisasi, dan dengan demikian mengubah persoalan moral menjadi persoalan yang dapat dipecahkan secara struktural. Bahasa diskursif yang tak murni, demikian kita dapat menyebutnya, dengan demikian tidak menghilangkan sama sekali rasa bersalah, namun mengubah rasa bersalah menjadi bahasa emansipatif bagi si subjek tertuduh: terbebas dari statusnya sebagai objek moral, ia adalah subjek pengucap yang memiliki suaranya, yang menantang suara diskursif kita, sebagaimana kita terbebas dari status sebagai pemilik otoritas moral yang berpretensi memiliki satu-satunya suara. Diskursivitas adalah antidot bagi rasa bersalah dan melokalisasinya, untuk membuka situasi heterogen di mana yang tak bersuara dapat bersuara dan yang tertuduh menjadi juru bicara atas pengalamannya sendiri.
Penulis, Muhammad Fayyadl, Pria kelahiran Oktober 1985 ini sejak kecil menghabiskan masa pendidikan di pesantren, mulai Pesantren Nurul Jadid di Kecamatan Paiton, Probolinggo, Pesantren Nurul Qur’an di Kecamatan Kraksaan, Probolinggo, sampai Pesantren Annuqayah di Kabupaten Sumenep, Madura. Dia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogykarta, dan menyelesaikan gelar master di Université de Paris VIII (Vincennes-Saint-Denis), Jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan, Prancis. Sejak sekolah menengah atas, dia sudah rajin menulis di koran. Dia kini telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Derrida (2005) dan Teologi Negatif Ibn ‘Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan (2012). Selain sebagai pengasuh dan pengajar di Pesantren Nurul Jadid, saat ini Fayyadl—panggilan akrabnya—juga bergiat di Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Beberapa tulisan progresif yang menyuarakan ketidakadilan dan ketertindasan rakyat bisa ditemukan diberbagai situs web, antara lain, Islam Bergerak (www.islambergerak.com), Literasi.co (www.literasi.co), Indoprogress (www.indoprogress.com), dan Daulat Hijau (www.daulathijau.org).


Komentar Via Facebook :