Edisi Kebhinekaan
Sejuta cinta untuk Indonesia
Saya terlahir sebagai seorang anak TNI, Ayah saya bertugas di salah satu kesatuan TNI yg ada di Pekanbaru. Sementara Ibu saya seorang Kepala Sekolah di salah satu Sekolah Dasar.
Ketika saya kecil, saya tinggal bertetangga dengan sahabat2 Ayah saya yg juga TNI, yang beberapa di antaranya berasal dari daerah Timur (Ambon), Saya biasa menyapa beliau-beliau dengan panggilan Om (ada Om Salampesi, Om Maitimu, Om Oper, Om Lahasan, dan banyak lagi yang saya lupa nama beliau).
Ayah saya berkisah, bahwa pada tahun 1965 mereka diberangkatkan dari Surabaya menuju Dumai dengan misi mengamankan NKRI dari berbagai pemberontakan di dalam Negeri. Dalam ingatan saya, kami hidup rukun dan damai dalam ikatan silaturahim, walaupun kami berbeda suku dan keyakinan.
Saling menghormati dan menghargai menjadi kunci bagi kami untuk saling hormat menghormati, saling menghargai dan mengasihi satu dan yg lainnya. Ikatan itu hadir secara alami dalam kehidupan keseharian kami.
Teman-teman kecil saya yang tidak se-iman setiap hari minggu mengikuti sekolah minggu dengan pakaian yang bagus. Dan kami yang muslim tidak sedikitpun merasa terganggu dengan kegiatan keagamaan mereka.
Begitu juga sebaliknya, ketika setiap waktu Magrib tiba, kami yang muslim berangkat mengaji ke rumah Pak Sanhaji (seorang TNI yg berasal dari Kalimantan Selatan), teman-teman kami yg beda keyakinan akan dengan senang mengikuti kami dan terkadang menunggui kami hingga selesai mengaji.
Hingga saat saya dewasa, kami tetap bersahabat, saling menghormati, menyayangi dan saling menghargai, tanpa sedikitpun kami melihat bahwa sesungguhnya kami berbeda dalam keyakinan, bahwa sesungguhnya kami berbeda dalam suku.
sesungguhnya kami berbeda dalam pilihan idiologi ke partaian. Lalu sekarang.??? Kita semua terperengah dengan adanya pembagunan retorika yang mengusung kebencian atas salah satu keyakinan.
Setahu saya, negara ini dibangun dari rasa cinta yg merangkum seluruh kebhinekaan yang ada. Negara ini dibangun dengan semangat yang didasari satu rasa, satu suara yang bertujuan untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang bermartabat dan dihormati.
Sebagai seorang anak bangsa, kita boleh prihatin dan mengutuk keras akan pembangunan opini yang coba dibangun untuk membenci keyakinan dan pilihan pada ideologi tertentu (dlm hal ini PAN), namun hal ini tentunya tidak boleh mencabik cabik rasa kebhinekaan yang sudah kita miliki sejak lama.
Untuk itu, mari bergandeng tangan, berpegangan erat pada satu Bangsa, Bangsa Indonesia !!
Salam hormat saya atas nama Sejuta Cinta untuk Indonesia.
Ade Hartati Rahmat, MPd
Anggota DPRD Riau / Fraksi PAN.


Komentar Via Facebook :