Indonesia masih Impor Singkong, berikut Penjelasan dari BPS
Jakarta, RanahRiau.com- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih mengimpor singkong. Namun, menurut pengusaha, impor itu hanya untuk kebutuhan industri makanan ringan dan pakan ternak.
"Kebanyakan untuk industri, baik pakan ternak maupun pangan. Biasanya untuk industri yang besar-besar. Seperti untuk bikin noodle (mi), atau biskuit, bisa seperti itu. Sama pakan ternak juga banyak," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman, Adhi S Lukman, kepada wartawan, Selasa (23/5/2017).
Dia menjelaskan, saat ini rata-rata produktivitas singkong di Indonesia sebanyak 30 ton/hektar. Pemerintah diharapkan bisa mendorong petani meningkatkan luas tanam singkong.
"Di Indonesia produktivitas singkong paling sekitar 30 ton perhektar, itu rata-rata ya. Kemudian juga tergantung dari pengembangan bibit. Ini juga perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menyesuaikan dengan iklim, kondisi lahan, sehingga menghasilkan produktivitas yang tinggi," kata Adhi.
Saat ini harga singkong di tingkat petani saat ini berkisar Rp 400 - Rp 500/kg. Sementara, menurutnya harga ideal singkong di kelas petani sebesar Rp 700/kg.
"Harusnya sekitar Rp 700 ideal, tidak terlalu mahal tidak terlalu murah juga. Jadi masih untung," pungkas Adhi.
(Detik.com)


Komentar Via Facebook :