Anak Kelas IV Takut Bertanya, Mungkin Cara Mengajar Kita yang Perlu Dibenahi

Anak Kelas IV Takut Bertanya, Mungkin Cara Mengajar Kita yang Perlu Dibenahi

RANAHRIAU.COM- Suruh anak kelas IV berdiri dan bicara di depan kelas, lalu perhatikan wajahnya. Suaranya mengecil, matanya mencari lantai, jarinya memilin ujung baju. Pemandangan ini begitu sering kita lihat sampai kita menganggapnya wajar. Ada anak yang berani, ada yang pemalu, sudah dari sananya.

Saya kurang yakin begitu. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, rasa gugup itu sering datang dari cara kita mengajar. Anak diminta menghafal pengertian wawancara, menyalin contoh daftar pertanyaan, lalu mengerjakan soal tentang kalimat tanya. Semuanya tentang wawancara, tetapi tak seorang pun benar-benar mewawancarai. Rasanya seperti belajar berenang dari buku panduan tanpa pernah menyentuh air.

Kami menemukan hal itu di SD Muhammadiyah 1 Pekanbaru. Siswa kelas IV tampak gugup saat diminta berbicara, dan sama gugupnya ketika disuruh menulis laporan sederhana. Pada Oktober 2026, kami mencoba cara lain lewat proyek bernama “Wartawan Cilik”. Pesertanya 28 siswa dan narasumbernya tiga orang: penjaga sekolah, kepala sekolah, dan seorang guru PAI.

Prosesnya tidak rumit. Guru melempar satu pertanyaan ke kelas: siapa saja orang yang berjasa di sekolah kita dan apa yang mereka kerjakan? Dari situ, anak-anak menyusun pertanyaan dalam kelompok memakai 5W+1H, lalu membagi tugas sebagai pewawancara, pencatat, dan pendokumentasi. Sebelum bertemu tokoh sungguhan, mereka berlatih bermain peran di kelas. Baru setelah itu, wawancara dilakukan secara singkat dan didampingi guru. Sesudahnya, mereka menulis laporan, presentasi di depan kelas, dan menceritakan bagian mana yang mudah dan mana yang sulit.

Hasilnya, 23 dari 28 siswa (82,1 persen) tampak lebih berani bertanya dan menyampaikan hasil wawancara. Lima siswa (17,9 persen) masih gugup dan malu. Angka kedua ini sengaja tidak saya sembunyikan karena di situlah pelajarannya. Keberanian tumbuh dengan kecepatan yang berbeda-beda. Satu proyek tidak mengubah kelas menjadi panggung anak-anak percaya diri. Kelima anak itu tetap butuh pendampingan, meskipun hasil mereka sudah menunjukkan kemajuan. Studi lain di kelas IV juga mencatat bahwa anak yang malu lebih tenang kalau ada teman sekelompok di sampingnya. Pembagian peran dalam proyek kami tampaknya bekerja dengan cara serupa.

Ada hal lain yang membuat saya terkejut, yaitu soal menulis. Laporan wawancara siswa terasa lebih hidup karena mereka menulis dari sesuatu yang baru saja dialami. Mereka tahu apa yang dikatakan penjaga sekolah karena merekalah yang bertanya. Tidak ada lagi keharusan mengarang dari contoh teks. Berbicara dan menulis ternyata saling menopang: pengalaman bercakap dengan narasumber menjadi bahan untuk laporan.

Lalu, ada soal adab. Sebelum bertanya, anak-anak belajar mengucap salam, meminta izin, dan di akhir mengucapkan terima kasih. Mereka duduk berhadapan dengan penjaga sekolah, orang yang tiap pagi membuka gerbang, tetapi jarang ditanyai apa pun. Menghargai pekerjaan orang lain jadi sesuatu yang dilakukan, bukan sekadar dihafal. Bagi sekolah yang berusaha menanamkan adab dan akhlak dalam berkomunikasi, hal ini penting.

Saya perlu jujur soal batasnya. Ini studi kasus pada satu kelas dengan waktu yang singkat. Hasilnya tidak bisa begitu saja berlaku untuk sekolah lain, dan saya tidak ingin menjualnya sebagai resep ajaib. Perlu penelitian lanjutan dengan kelas pembanding sebelum ada yang berani mengklaim lebih jauh.

Namun, pertanyaannya tetap layak kita ajukan. Berapa banyak pelajaran bahasa di sekolah kita yang berhenti di tahap “tahu”? Anak hafal definisi wawancara, tetapi belum pernah menunggu jawaban dari orang sungguhan sambil mencatat dengan tangan yang sedikit gemetar.

Bagi guru yang ingin mencoba, kuncinya ada pada persiapan. Beri latihan sebelum anak bertemu narasumber, sediakan kerangka laporan, dan jangan lupakan anak-anak yang masih malu setelah proyek selesai. Mereka tidak tertinggal. Mereka hanya sedang berjalan dengan langkahnya sendiri.

 

 

Profil Penulis: Yoanda Eka Putera, S.Pd. adalah mahasiswa Pascasarjana Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang. Email: yoandaeaka@gmail.com

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :