Dulu Mengkritik dari Luar, Kini Duduk di Dalam: Rocky Gerung dan Ujian Kekuasaan
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Terpilihnya Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden membuka sebuah paradoks politik yang menarik. Selama bertahun-tahun, Rocky dikenal sebagai intelektual yang lantang mengkritik kekuasaan dari luar pagar pemerintahan.
Kini ia masuk ke dalam lingkar kekuasaan sebagai pemberi nasihat kepada Presiden. Dari perspektif sosialis, persoalannya bukan semata-mata apakah Rocky masih kritis atau tidak, melainkan apakah kritik tersebut tetap memiliki keberpihakan kepada rakyat yang selama ini berada di bawah tekanan struktur ekonomi dan politik.
Masuknya seorang pengkritik ke dalam kekuasaan tidak otomatis berarti pengkhianatan terhadap gagasan. Namun, sejarah politik menunjukkan bahwa kekuasaan memiliki kemampuan luar biasa untuk menjinakkan kritik. Karena itu, Rocky kini menghadapi ujian yang jauh lebih berat dibanding ketika ia berdiri di luar Istana. Kritik bukan lagi sekadar keberanian berbicara di hadapan kamera, tetapi keberanian menyampaikan keberatan ketika sebuah kebijakan pemerintah berpotensi memperlebar ketimpangan, merugikan buruh, menekan petani, menyisihkan nelayan, atau semakin mengonsentrasikan sumber daya ekonomi pada kelompok bermodal besar.
Dalam perspektif sosialis, ukuran seorang intelektual bukan hanya seberapa tajam ia mengkritik pemerintah, tetapi kepada siapa kritik itu berpihak. Negara tidak pernah berdiri di ruang kosong. Di balik kebijakan ekonomi selalu ada distribusi kepentingan: ada yang memperoleh keuntungan, ada yang menanggung biaya. Karena itu, pertanyaan yang harus terus dibawa Rocky ke ruang kekuasaan sederhana tetapi fundamental: siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, siapa yang memiliki modal, dan siapa yang hanya memiliki tenaga untuk bertahan hidup?
Jika Rocky benar-benar ingin mempertahankan gagasan radical break, maka perubahan yang dimaksud tidak boleh berhenti pada retorika, pergantian pejabat, atau perubahan gaya komunikasi kekuasaan. Perubahan radikal harus menyentuh kehidupan material rakyat: upah buruh, harga pangan, tanah petani, ruang hidup nelayan, pekerjaan layak, pendidikan, kesehatan, perumahan, serta distribusi kekayaan. Rakyat tidak hidup dari jargon politik. Rakyat hidup dari upah, hasil panen, dagangan kecil, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, publik tidak perlu tergesa-gesa memuja ataupun menghakimi Rocky Gerung setelah masuk ke lingkar kekuasaan. Biarkan rekam jejaknya berbicara. Catat gagasannya, perhatikan nasihatnya, kemudian lihat kebijakan apa yang lahir dan kelompok sosial mana yang memperoleh manfaat. Sebab ujian terbesar seorang pengkritik kekuasaan bukan ketika ia bebas menyerang dari luar, melainkan ketika ia berada di dalam dan tetap mampu mengatakan “tidak” ketika kepentingan rakyat berhadapan dengan kepentingan kekuasaan dan modal. Rocky kini berada di dalam Istana. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia mampu mengkritik kekuasaan, tetapi apakah ia mampu membawa suara rakyat ke dalam ruang tempat keputusan dibuat.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S. IP, Penggagas Rumah Dialektika, aktif dalam berbagai Organisasi Sosial Kemasyarakatan.


Komentar Via Facebook :