Tak Melayu Hilang di Bumi

Membaca Lancang Kuning, Menulis Masa Depan Melayu

Membaca Lancang Kuning, Menulis Masa Depan Melayu

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Kalimat itu barangkali terlalu sering kita dengar. Namun pada usia Riau yang ke-69, kita perlu bertanya lebih dalam: apa sebenarnya yang harus kita jaga agar Melayu tidak hilang di bumi?

Apakah cukup dengan tanjak dan songket?

Apakah cukup dengan pantun dan tari?

Apakah cukup dengan rumah adat, upacara dan berbagai seremoni budaya?

Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih dalam: ilmu, adab, bahasa, ingatan, marwah dan cara pandang terhadap kehidupan?

Riau bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang tempat sejarah Melayu berlayar bersama sungai, laut dan waktu.

Di atas air, Lancang Kuning menjadi simbol perjalanan dan keberanian. Ia bukan sekadar perahu dalam cerita masa lalu, tetapi metafora tentang sebuah negeri yang terus bergerak mengarungi zaman. Hari ini Lancang Kuning itu adalah Riau.

Pertanyaannya kemudian:

Ke mana hendak kita arahkan lancang ini?

Ke mana haluannya?

Siapa yang memegang kemudinya?

Dan apakah kita masih membawa bekal ilmu, adat dan agama dalam pelayaran panjang menuju masa depan?

Sungai Siak dan Ingatan yang Mengalir

Jika hendak membaca Riau, barangkali kita perlu duduk sejenak di tepian Sungai Siak. Sungai itu bukan hanya aliran air. Ia adalah saksi.

Ia menyaksikan bagaimana peradaban tumbuh, bagaimana manusia berdagang, bagaimana kebudayaan berpindah dari satu kampung ke kampung lain, bagaimana bahasa Melayu menjadi bahasa pergaulan, dan bagaimana ilmu serta gagasan mengalir bersama perjalanan manusia. Tetapi sungai juga mengajarkan satu hal penting:

air selalu bergerak.

Begitu pula zaman.

Riau tidak mungkin menghentikan perubahan.

Teknologi bergerak.

Informasi mengalir tanpa batas.

Kecerdasan buatan berkembang.

Media sosial mengubah cara manusia berkomunikasi.

Anak-anak kita tumbuh dalam dunia yang berbeda dengan dunia orang tua mereka.

Karena itu, yang harus kita lakukan bukan menolak perubahan, melainkan membekali generasi Riau agar mampu mengarungi perubahan tanpa kehilangan identitas. Di sinilah literasi menjadi penting.

Dari Gurindam Dua Belas kepada Generasi Digital

Riau memiliki warisan literasi yang luar biasa. Nama Raja Ali Haji tidak hanya penting bagi sejarah kesusastraan Melayu, tetapi juga bagi perjalanan intelektual bangsa.

Melalui Gurindam Dua Belas, kita menemukan bagaimana kata-kata digunakan untuk mengajarkan manusia tentang iman, akhlak, kehidupan dan tanggung jawab. Salah satu pesannya yang sangat terkenal:

“Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma’rifat.”

Gurindam bukan sekadar puisi.

Ia adalah tunjuk ajar.

Ia menunjukkan bahwa dalam tradisi Melayu, membaca dan menulis tidak pernah benar-benar terpisah dari persoalan adab dan agama. Inilah yang mungkin perlu kita renungkan kembali di zaman digital.

Kita memiliki jutaan informasi, tetapi apakah kita memiliki cukup kebijaksanaan untuk memilih mana yang benar?

Kita memiliki kebebasan berbicara, tetapi apakah kita masih memiliki adab dalam berkata?

Kita mampu membuat tulisan dalam hitungan detik, tetapi apakah tulisan itu mencerdaskan atau justru menyesatkan?

Literasi hari ini tidak cukup hanya mengajarkan anak-anak membaca buku. Literasi harus mengajarkan mereka membaca keadaan, membaca informasi, membaca lingkungan, membaca sejarah, dan membaca dirinya sendiri. Dan setelah mampu membaca, mereka harus berani menulis.

Menulis pengalaman.

Menulis sejarah kampungnya.

Menulis cerita orang tuanya.

Menulis tentang sungai yang mulai berubah.

Menulis tentang permainan tradisional yang mulai hilang.

Menulis tentang bahasa Melayu yang mulai jarang digunakan.

Sebab sesuatu yang tidak ditulis bisa hilang dari ingatan.

Dan sesuatu yang hilang dari ingatan, perlahan-lahan dapat hilang dari identitas.

Tunjuk Ajar Melayu: Ilmu yang Berjalan Bersama Adab

Orang Melayu memiliki tunjuk ajar. Ia adalah kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di dalamnya terdapat nasihat tentang bagaimana manusia harus hidup: menghormati orang tua, menjaga hubungan sesama manusia, menghargai alam, memegang amanah, dan menempatkan diri dalam kehidupan bersama.

Tunjuk ajar mengingatkan kita bahwa orang berilmu bukan hanya orang yang banyak tahu, tetapi orang yang tahu bagaimana menggunakan ilmunya. Inilah yang harus menjadi dasar budaya literasi Riau.

Kita tidak ingin hanya melahirkan generasi yang pintar menjawab soal.

Kita ingin melahirkan generasi yang mampu menjawab persoalan. Generasi yang kritis tetapi santun. Berani tetapi tidak angkuh. Modern tetapi tidak tercerabut dari akar. Terbuka terhadap dunia tetapi tetap mengenal jati dirinya. Karena Melayu adalah marwah. Dan marwah tidak cukup dipajang di spanduk.Marwah harus hidup dalam perilaku.

Adat, Islam dan Marwah Negeri

Dalam kebudayaan Melayu Riau, adat dan Islam memiliki hubungan yang sangat erat.

“Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.”

Ungkapan ini bukan sekadar slogan kebudayaan. Ia adalah cara pandang.

Bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan nilai. Bahwa kecerdasan harus berjalan bersama akhlak.

Bahwa kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab. Bahwa kekuasaan harus berjalan bersama amanah.

Dan bahwa pembangunan harus tetap memperhatikan kemanusiaan dan kelestarian alam.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan Riau, kita tidak boleh hanya berbicara tentang investasi, infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kita juga harus berbicara tentang marwah manusia Riau.

Apakah anak-anak kita mendapatkan pendidikan yang baik?

Apakah masyarakat kecil mendapatkan kesempatan yang adil?

Apakah perpustakaan dan taman bacaan tumbuh sampai ke kampung-kampung?

Apakah masjid dan surau kembali menjadi ruang ilmu?

Apakah sejarah dan budaya Melayu terdokumentasikan?

Apakah sungai dan hutan kita masih mampu diwariskan kepada generasi berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi bagian dari refleksi ulang tahun Riau.

Lancang Kuning Harus Terus Berlayar

69 tahun Riau adalah perjalanan panjang. Tetapi perjalanan itu belum selesai. Lancang Kuning masih harus berlayar. Haluan boleh berubah mengikuti arus zaman. Layar boleh diperbarui oleh teknologi. Tetapi jangan sampai kita kehilangan kompas. Kompas itu adalah agama, adat, ilmu, budaya dan marwah.

Kita boleh menjadi masyarakat digital, tetapi jangan menjadi masyarakat yang kehilangan akar.

Kita boleh menjadi masyarakat modern, tetapi jangan kehilangan adab.

Kita boleh membuka diri terhadap dunia, tetapi jangan lupa dari mana kita berasal.

Dan kita boleh mengejar kemajuan ekonomi, tetapi jangan lupa bahwa tujuan akhir pembangunan adalah kemuliaan dan kesejahteraan manusia.

Pada HUT Riau ke-69 ini, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya:

“Apa yang telah Riau berikan kepada kita?”

Tetapi juga:

“Apa yang akan kita wariskan kepada Riau?”

Apakah kita akan mewariskan sungai yang bersih?

Hutan yang lestari?

Budaya yang hidup?

Bahasa yang tetap digunakan?

Buku-buku yang terus dibaca?

Perpustakaan yang ramai?

Anak-anak yang mencintai ilmu?

Generasi yang mengenal agama sekaligus mampu berpikir kritis?

Dan masyarakat yang menjunjung tinggi marwah serta kemanusiaan?

Jika jawabannya iya, maka sesungguhnya kita sedang meneruskan pelayaran Lancang Kuning. Bukan sekadar membawa nama Riau. Tetapi membawa jiwa Melayu menuju masa depan.

Membaca Riau, Menulis Masa Depan

Maka mari menjadikan HUT ke-69 Riau bukan sekadar seremoni. Mari menjadikannya sebagai momentum untuk membaca Riau lebih dalam.

Membaca sejarahnya.

Membaca sungainya.

Membaca hutannya.

Membaca adatnya.

Membaca karya Raja Ali Haji.

Membaca Gurindam Dua Belas.

Membaca tunjuk ajar Melayu.

Membaca persoalan rakyatnya.

Dan setelah itu, mari kita menulis masa depan Riau dengan tangan kita sendiri. Karena generasi terdahulu telah menulis sejarah. Generasi hari ini mendapat tugas untuk menjaga cerita itu. Dan generasi mendatang berhak mendapatkan cerita yang lebih baik. Lancang Kuning harus terus berlayar. Menyusuri Sungai Siak. Membawa ilmu. Membawa iman. Membawa adat.Membawa budaya. Membawa marwah.

Dan membawa harapan bahwa Riau akan tetap menjadi tanah Melayu yang hidup, bukan hanya dalam simbol, tetapi dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Selamat HUT ke-69 Provinsi Riau.

Tak Melayu hilang di bumi.

Selama bahasa masih dituturkan.

Selama gurindam masih dibaca.

Selama tunjuk ajar masih diajarkan.

Selama masjid dan surau masih menjadi rumah ilmu.

Selama anak-anak masih membuka buku.

Selama sejarah masih dituliskan.

Dan selama generasi Riau masih memiliki keberanian untuk membaca zamannya dan menulis masa depannya.

Riau adalah Lancang Kuning.
Ilmu adalah layarnya.
Adab adalah kompasnya.
Islam adalah suluhnya.
Adat adalah marwahnya.
Dan generasi mudanya adalah pelanjut pelayarannya.

 

Penulis : Abdul Hafhiz AR, S.IP (Ketua Forum Taman Baca Masyarakat Kota Pekanbaru, Penggagas Rumah Dialektika).

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :