Riau Pesisir, Marwah Melayu yang Tak Boleh Pudar
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Apabila menyebut Riau pesisir, maka yang terbayang bukan hanya hamparan laut yang membelah Selat Malaka. Di sanalah angin membawa jejak tamadun Melayu, ombak mengantarkan kisah para saudagar, ulama, dan cendekiawan, sementara sungai-sungai menjadi nadi kehidupan yang menghubungkan kampung dengan dunia. Riau pesisir adalah wajah Melayu yang sesungguhnya, tempat adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah tumbuh dan menjadi pegangan hidup masyarakat.
Sejak dahulu, bumi pesisir telah melahirkan kerajaan-kerajaan besar yang disegani. Dari Siak Sri Indrapura hingga kerajaan-kerajaan Melayu lainnya, lahir pemimpin yang bukan hanya membangun kekuasaan, tetapi juga menjaga marwah bangsa. Dari tanah inilah lahir karya-karya sastra, hikayat, gurindam, syair, serta nilai-nilai kehidupan yang hingga kini masih menjadi pedoman orang Melayu.
Namun, zaman telah berubah. Modernisasi datang membawa berbagai kemajuan, tetapi di saat yang sama perlahan mengikis ingatan generasi muda terhadap akar budayanya. Banyak anak Melayu lebih mengenal budaya luar daripada sejarah negerinya sendiri. Padahal orang tua-tua Melayu telah lama berpesan, "Hilang bahasa, hilanglah bangsa; hilang adat, hilanglah marwah."
Karena itu, membangun Riau pesisir tidak cukup hanya dengan pelabuhan yang megah, jalan yang lebar, atau kawasan industri yang berkembang. Yang lebih penting adalah membangun manusianya. Membangun jiwa yang mengenal sejarah, mencintai budaya, serta bangga menjadi bagian dari tamadun Melayu. Di sinilah literasi memegang peranan penting.
Taman bacaan masyarakat, perpustakaan desa, rumah-rumah literasi, hingga balai adat harus menjadi tempat anak-anak Melayu mengenal jati dirinya. Mereka perlu membaca kisah Raja Kecik, Sultan Syarif Kasim II, Raja Ali Haji, dan para tokoh Melayu lainnya agar tumbuh rasa bangga terhadap warisan leluhur. Sebab membaca bukan sekadar menambah ilmu, tetapi juga menjaga ingatan kolektif sebuah bangsa.
Riau pesisir memiliki kekayaan yang tidak ternilai. Lautnya kaya, hutannya subur, budayanya luhur, dan masyarakatnya menjunjung tinggi adab. Jika seluruh potensi itu dipadukan dengan pendidikan dan gerakan literasi, bukan mustahil Riau kembali menjadi pusat tamadun Melayu di Asia Tenggara.
Orang Melayu percaya, negeri akan tegak apabila adat dijunjung, ilmu dipelihara, dan akhlak diutamakan. Maka menjaga Riau pesisir bukan hanya menjaga wilayah, tetapi menjaga marwah. Sebab apabila marwah itu hilang, yang tersisa hanyalah nama tanpa makna.
Sebagaimana petuah Melayu mengingatkan:
"Kalau hendak melihat bangsa yang mulia, lihatlah bagaimana ia memelihara sejarah dan budayanya. Sebab akar yang kukuh akan melahirkan pohon yang teguh menghadapi segala musim."
Semoga Riau pesisir tetap menjadi serambi tamadun Melayu yang memancarkan cahaya ilmu, adab, dan peradaban untuk Indonesia dan dunia.
Penulis: Abdul Hafhiz AR, S.IP, Ketua Forum Taman Baca Masyarakat Kota Pekanbaru
IU


Komentar Via Facebook :