Baliho Ultah Jokowi Bikin Gerindra Solo Meradang, Walkot Respati Pilih Jawab: "Siap Salah"
Foto: Ist, Sumber : Net
SOLO, RANAHRIAU.COM- Pemasangan baliho raksasa ucapan ulang tahun ke-65 untuk mantan Presiden Joko Widodo di sejumlah ruas jalan utama Kota Solo memicu riak politik yang tak bisa dianggap sepele. Yang membuat polemik semakin panas, baliho tersebut menggunakan logo Pemerintah Kota Solo dan dipasang di ruang publik dengan dukungan fasilitas pemerintah daerah.
Kemarahan datang dari internal Partai Gerindra sendiri. Ketua DPC Partai Gerindra Kota Solo Ardianto mempertanyakan keputusan Wali Kota Solo Respati Ardi yang juga merupakan kader Gerindra. Menurutnya, Pemkot Solo tidak pernah memasang baliho serupa saat ulang tahun Presiden Prabowo Subianto yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Gerindra. Situasi ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan kader partai mengenai prioritas dan sensitivitas politik pemerintah kota.
Ardianto mengaku heran dengan tujuan pemasangan baliho tersebut. Meski enggan berspekulasi lebih jauh, kritik yang dilontarkannya memperlihatkan adanya ketidaknyamanan di tubuh Gerindra Solo. Di tengah dinamika politik nasional yang masih menyisakan tarik-menarik pengaruh antara kubu Prabowo dan lingkaran Jokowi, pemasangan baliho itu dianggap mengirim pesan politik yang tidak sederhana.
Yang menarik, Respati Ardi tidak memilih jalur pembelaan panjang ataupun argumentasi birokratis. Saat kritik bermunculan, ia justru merespons singkat dengan kalimat yang kemudian menjadi sorotan publik: "Siap salah." Jawaban pendek tersebut menenangkan sebagian pihak, tetapi sekaligus memunculkan tafsir baru. Apakah itu bentuk pengakuan kekeliruan, sikap merendah untuk meredam polemik, atau sekadar cara mengakhiri perdebatan yang mulai memanas?
Terlepas dari niat di balik pemasangan baliho, kontroversi ini menunjukkan bahwa simbol dan gestur politik di ruang publik tidak pernah benar-benar netral. Di Solo, kota yang menjadi tanah kelahiran sekaligus basis politik Jokowi, sebuah baliho ucapan ulang tahun mendadak berubah menjadi arena pertarungan persepsi. Dan ketika seorang wali kota kader Gerindra memilih berkata "siap salah", yang tersisa justru pertanyaan yang belum terjawab: mengapa penghormatan itu diberikan kepada Jokowi, tetapi tidak kepada Presiden Prabowo?


Komentar Via Facebook :