Puisi tentang Fitrah: Dara, karya Grace Gultom
Dara
Oleh: Grace Gultom
Hai Dara, pemabuk duniawi.
Jejakmu merambat di relung yang kujaga,
menyisakan gelisah yang gugur tanpa kupahami.
Luruh bagai darah di taman bunga,
diserap paksa oleh kelopak mawar yang tak memilih musimnya.
Hai Dara, si perias sukma.
Kau kuterima sebagai gangguan , mengacak sunyi,
seakan keseimbangan ini telah utuh.
Aku lupa menghitung berapa kali tanganku membuka celah,
mengundang lebah asing mengendap di putik,
lalu pergi tanpa pernah belajar tinggal.
Kaulah penggiling lara,
tempat luka punya alamat selain diriku.
Kusandarkan retak pada bayangmu,
kutitipkan tetes pada ragamu,
seolah kau ladang yang rela ditanami apa saja,
tanpa punya hak untuk menolak.
Sampai waktu mengembalikan semua,
aku berdiri di antara sisa-sisa tuduhanku padamu,
sadar yang pecah bukan karena kau datang,
hilang bukan karena kau ambil,
tapi karena aku tak pernah benar-benar menjaga,
tak pernah mengakui sebagai milikku.
Dan sejak itu, Dara,
aku belajar menutup celah,
menarik kembali tangan yang mudah menguasai,
merawat sesuatu yang tak tampak,
yang diam-diam menolak disentuh,
kecuali dalam keadaan suci.
Jambi, 20 Maret 2026
]Grace Gultom, atau dikenal dengan nama pena Tomato Candy, adalah penyair pemula asal Kuala Tungkal, Jambi. Ia mulai aktif menulis puisi di media sosial dan mengikuti berbagai event puisi daring sejak pertengahan 2024.
Sejumlah karyanya telah terhimpun dalam beberapa antologi bersama yang diterbitkan secara terbatas. Menulis menjadi ruang baginya untuk menyimpan, merapikan, sekaligus menghadapi hal-hal yang kerap tak selesai.
Melalui komunitas literasi yang diikutinya, ia terus mengasah kata dan keberanian untuk menemukan suaranya sendiri dalam puisi. Kenal lebih dekat melalui Instagram: @nurel.gultom


Komentar Via Facebook :