CORE: Impor Migas dari AS Berisiko bebani Subsidi dan Tekan Stabilitas Energi
Foto: Ist, Sumber : Net
JAKARTA, RANAHRIAU.COM– Center of Reform on Economics (CORE) memperingatkan potensi pembengkakan subsidi energi akibat kewajiban impor minyak dan gas dari Amerika Serikat sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (Agreement of Reciprocal Trade/ART) yang diteken pekan lalu.
Ekonom energi CORE, Muhammad Ishak Razak, menilai keputusan tersebut membawa konsekuensi biaya logistik yang signifikan. Jarak pengiriman dari Teluk Meksiko ke Indonesia disebut 3–4 kali lebih jauh dibandingkan dari Timur Tengah. “Konsekuensinya, biaya transportasi akan lebih mahal dan landed cost energi menjadi lebih tinggi,” ujar Ishak.
Dilema Subsidi atau Inflasi
Dengan biaya yang meningkat, pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan:menanggung selisih harga melalui subsidi tambahan atau meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Jika pemerintah memilih menahan harga domestik, maka beban subsidi energi berpotensi membengkak. Sebaliknya, jika harga dinaikkan, risiko inflasi dan tekanan terhadap daya beli masyarakat menjadi konsekuensi yang harus dihadapi. Dalam konteks fiskal yang sudah ketat, ruang subsidi tambahan dinilai tidak terlalu longgar.
Risiko Ketahanan Pasokan
Selain aspek biaya, CORE juga menyoroti risiko waktu tempuh pengiriman. Minyak dari AS diperkirakan memerlukan 30–45 hari perjalanan laut, jauh lebih lama dibanding pasokan dari Timur Tengah yang rata-rata tiba dalam 10–15 hari.
Durasi pengiriman yang panjang meningkatkan kerentanan terhadap gangguan cuaca, hambatan logistik, maupun risiko geopolitik di jalur pelayaran. “Semakin lama waktu tempuh, semakin besar eksposur terhadap gangguan pasokan,” jelas Ishak.
Hilangnya Fleksibilitas Pasar
CORE juga menilai komitmen pembelian dalam volume besar dan jangka panjang dapat mengurangi fleksibilitas Indonesia dalam memanfaatkan pasar spot yang lebih murah atau pemasok yang lebih dekat, seperti pasar energi Singapura.
Dalam kondisi harga energi global yang fluktuatif, fleksibilitas pembelian dinilai penting untuk menjaga efisiensi biaya dan stabilitas pasokan. “Jika kita terikat kontrak jangka panjang dalam jumlah besar, ruang manuver untuk mencari harga yang lebih kompetitif akan menyempit,” kata Ishak.
Implikasi Strategis
Peringatan CORE ini menambah daftar kekhawatiran terhadap implikasi ekonomi ART, terutama di sektor energi yang memiliki dampak langsung terhadap inflasi, subsidi APBN, dan ketahanan energi nasional.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah komitmen dagang tersebut sebanding dengan risiko fiskal dan logistik yang harus ditanggung?


Komentar Via Facebook :