PEMAPHU Ledakkan Protes di Siak: Bupati kehilangan Arah, Kepercayaan rakyat Ambruk!
Foto: Ist
SIAK, RANAHRIAU.COM- Forum Pemuda dan Mahasiswa (F-PEMAPHU) menggelar aksi terbuka dan lantang di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Siak, Kamis (5/2), sebagai bentuk perlawanan terhadap pola kepemimpinan Bupati Siak yang dinilai semakin jauh dari kepentingan rakyat.
Dalam aksi tersebut, F-PEMAPHU menegaskan bahwa krisis terbesar yang sedang dihadapi Kabupaten Siak bukan sekadar persoalan kebijakan, melainkan krisis kepercayaan publik. Bupati Siak dinilai kehilangan legitimasi moral, karena lebih sibuk membangun narasi keberpihakan pada rakyat, sementara kebijakan yang lahir justru menguntungkan lingkaran kekuasaan dan keluarga dekat.
Spanduk-spanduk bernada keras dan orasi tajam menggema, menandai kemarahan publik yang selama ini terpendam.
Koordinator aksi, Aryansyah, dengan tegas menyampaikan:
“Rakyat Siak tidak lapar kata-kata. Rakyat muak dengan pidato. Yang kami lihat hari ini adalah kepemimpinan yang gemar mengklaim bekerja untuk rakyat, tapi praktiknya hanya mengamankan kepentingan kroni. Ini pengkhianatan terhadap mandat rakyat.”
Tuntutan Tegas F-PEMAPHU: Tidak Ada Tawar-Menawar
F-PEMAPHU menyampaikan tuntutan yang bersifat mendesak dan wajib ditindaklanjuti, bukan sekadar dicatat sebagai formalitas:
Hentikan segera segala praktik kebijakan yang mengarah pada konflik kepentingan, terutama yang menguntungkan keluarga dan kroni kekuasaan.
Buka secara transparan seluruh data kebijakan strategis, agar publik dapat menilai siapa sebenarnya yang diuntungkan.
Stop menggunakan nama rakyat sebagai tameng politik, jika keputusan yang diambil tidak lahir dari kebutuhan masyarakat luas.
Buka ruang dialog publik yang nyata dan bermakna, bukan sekadar konferensi pers satu arah atau pernyataan elitis.
Lakukan reformasi total dalam proses pengambilan keputusan, agar pemerintahan berjalan akuntabel, transparan, dan berpihak pada rakyat kecil — bukan elite kekuasaan.
Aksi Damai, Pesan Mengguncang
Aksi berlangsung tertib di bawah pengamanan aparat. Namun, F-PEMAPHU menegaskan bahwa ketertiban tidak boleh ditafsirkan sebagai kelembutan sikap.
“Kami damai dalam cara, tapi keras dalam pesan. Diam adalah kemewahan yang tidak lagi kami miliki,” tegas Aryansyah.
Menutup aksi dan siaran pers ini, F-PEMAPHU menyampaikan pernyataan pamungkas: “Kami berdiri di sini bukan demi panggung politik. Kami hadir sebagai alarm bagi kekuasaan yang mulai tuli terhadap suara rakyat. Jika pemerintah terus menutup mata, maka perlawanan moral akan semakin membesar.”


Komentar Via Facebook :