Disangka Horor Biasa, Kuyank Justru bangkitkan Kebanggaan budaya Banjar

Disangka Horor Biasa, Kuyank Justru bangkitkan Kebanggaan budaya Banjar

Foto: Ist

Film ‘Kuyank’ Bangkitkan Spirit Budaya Banjar, Bioskop XXI Mall SKA Pekanbaru Dipenuhi Antusiasme Warga

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Studio 3 XXI Mall SKA Pekanbaru dipenuhi gelombang antusiasme saat film Kuyank diputar lebih awal dalam agenda nonton duluan yang digelar Produser Johansyah Umberan bersama warga Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Riau dan penggiat media sosial, Rabu (7/1/2026).

Sejak lampu bioskop diredupkan, penonton tampak larut dalam alur cerita film yang memadukan horor, humor, dan kearifan lokal Banjar. Tawa dan ketegangan silih berganti, menciptakan suasana hangat sekaligus emosional, tanda bahwa film ini berhasil menyentuh penontonnya.

Kuyank tak sekadar menyajikan horor, tetapi menghadirkan visual budaya Banjar yang kental, mulai dari tradisi tutuha bahari hingga nilai-nilai hidup masyarakat Banjar yang sarat makna.

Balutan humor membuat film ini terasa ringan, akrab, dan mudah diterima lintas generasi.

Produser Kuyank, Johansyah Umberan, menyebut pemutaran perdana ini sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada komunitas Banjar serta pegiat media yang selama ini konsisten mendukung karya film berbasis budaya daerah.

“Film ini lahir dari kegelisahan dan cinta terhadap budaya Banjar. Kami ingin masyarakat melihat bahwa kearifan lokal bisa dikemas menarik dan bersaing di layar lebar nasional,” ujarnya.

Sambutan hangat juga datang dari Wakil Sekretaris Umum PP KBB Sa’Dunia, Indrawansyah Syarkowi. Ia menilai Kuyank sebagai karya penting bagi pelestarian budaya Banjar, khususnya bagi generasi muda.

“Alhamdulillah, Kuyank mampu membangkitkan memori kita terhadap tradisi tutuha bahari dan budaya keseharian masyarakat Banjar. Ini sangat berarti, terutama untuk anak-anak muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya,” ungkap Indrawansyah.

Menurutnya, kekuatan film ini terletak pada keseimbangan cerita. Unsur horor tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi pintu masuk bagi pesan budaya dan nilai moral.

“Kemasan horor yang diselingi humor membuat penonton yang awalnya takut justru menikmati cerita. Bahkan ada yang sempat ragu datang karena mengira film ini murni horor, ternyata justru kaya akan visual dan pesan budaya Banjar,” katanya.

Lebih jauh, Indrawansyah menegaskan bahwa Kuyank menyimpan pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

“Nasihatnya sangat jelas: jangan gegabah dalam mengambil keputusan, kedepankan komunikasi agar tidak berujung penyesalan,” tegasnya.

Atas nama KBB, ia menyampaikan dukungan penuh terhadap perjuangan Johansyah Umberan dan tim dalam menjadikan film sebagai media edukasi budaya.

“Kami berharap Kuyank sukses seperti Saranjana. Film ini bukan hanya tontonan, tetapi juga sarana menyatukan Bubuhan Banjar di mana pun berada,” ujarnya.

Ia pun mengajak masyarakat Banjar di seluruh Indonesia untuk memberikan dukungan nyata dengan meramaikan bioskop.

“Catat tanggalnya, 29 Januari 2026. Mari Bubuhan Banjar di mana pun berada, serbu bioskop di kota masing-masing dan saksikan Kuyank,” ajaknya.

Usai pemutaran, acara ditutup dengan sesi foto bersama sutradara dan salah satu pemeran yang memerankan tokoh mertua Rusmiati.

Momen tersebut menjadi simbol dukungan komunitas terhadap film budaya Banjar yang siap unjuk gigi dan bersaing di panggung perfilman nasional saat tayang serentak pada 29 Januari 2026.
 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :