UMK Binaan Pinbas MUI Riau dapat Pelatihan Seputar Strategi Dagang
Foto: Ist
UMK Binaan PINBAS MUI Riau “Dikunci” di Ruang Latih: Dibedah Masalah Keuangan hingga Strategi Dagang yang Selama Ini Diabaikan
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM— Di tengah kerasnya persaingan pasar dan derasnya UMK gulung tikar karena salah urus keuangan, ratusan pelaku usaha binaan PINBAS MUI Riau berkumpul di Auditorium MUI Provinsi Riau, Jumat (05/12/2025).
Mereka datang bukan sekadar duduk manis mendengar teori, tetapi untuk dibongkar satu per satu titik lemah usaha mereka oleh tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Islam Riau (UIR).
Acara dibuka oleh Ketua Harian MUI Riau, Drs. Afrizal DS, yang langsung menohok urgensi kolaborasi antara lembaga keagamaan dan perguruan tinggi.
“Pelayanan ke umat tidak cukup hanya dengan ceramah. UMK harus diperkuat dari akarnya,” ujarnya, mengingatkan bahwa ekonomi umat tak akan bergerak kalau pelaku usahanya sendiri tersandung masalah elementer seperti pembukuan.
Afrizal pun memamerkan sederet capaian MUI Riau, mulai dari Juara 3 MUI se-Indonesia penerima piagam ISO hingga Juara 1 LPPOM sebagai bukti bahwa organisasi ini tidak ingin terjebak dalam ritualisme seremonial.
“MUI harus hadir sebagai pelayan umat, mitra pemerintah, dan pemberi fatwa yang relevan dengan realitas,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PINBAS MUI Riau Idris, SKM, memberi peringatan keras agar pelatihan seperti ini tidak berhenti sebagai dokumentasi di kamera.
“UMKM harus pulang membawa ilmu yang dipakai, bukan sekadar sertifikat,” katanya.
Lalu sesi inti dimulai dan di sinilah kenyataan pahit UMK dibuka habis-habisan.
Keuangan Amburadul: “Berbisnis Tanpa Data Sama dengan Jalan Tanpa Kompas”
Materi pertama dari Dina Hidayat, S.E., M.Si., langsung mengenai jantung persoalan. Ia menyebut bahwa banyak UMK terjerembap bukan karena produk jelek, tetapi karena keuangan amburadul.
Kas pribadi dan kas usaha tercampur, tidak ada laporan keuangan, bahkan pencatatan harian pun tidak dilakukan.
“Pelaku UMK tidak bisa lagi berbisnis tanpa data. Pembukuan adalah kompas agar usaha tidak berjalan tanpa arah,” tegasnya—sebuah tamparan halus bagi peserta yang selama ini hanya mengandalkan ingatan dan kalkulator mental.
Pemasaran yang Stagnan: “Menunggu Pelanggan Datang Itu Strategi Bunuh Diri”
Pemateri kedua, Dr. Hj. Ellyan Sastraningsih, S.E., M.Si., mengajak peserta keluar dari ‘zona nyaman’ yang sebenarnya jebakan.
Ia mengurai strategi diversifikasi produk, pemasaran digital yang selama ini setengah hati dijalankan, hingga teknik penjualan berbasis komunitas.
“Menunggu pelanggan datang bukan langkah taktis. UMK harus berani mendatangi pasar dengan cara-cara baru,” serunya, menegaskan bahwa era pasif sudah tamat.
Dalam sesi diskusi, peserta curhat tentang harga pokok produksi yang tak jelas rumusnya, promosi yang minim, dan arus kas yang mudah jebol.
Kedua pemateri kemudian memberi solusi yang bisa langsung dicoba tanpa menunggu proposal pemerintah.
Kolaborasi yang Tak Boleh Terputus
Kegiatan ditutup dengan komitmen memperkuat sinergi antara PINBAS MUI Riau dan UIR.
Program pendampingan lanjutan akan diluncurkan agar UMK binaan bukan sekadar jadi penonton dalam arena pasar, tetapi naik kelas dan lebih gesit membaca kebutuhan konsumen.
Satu pesan yang menggaung sepanjang kegiatan: UMK tak akan kuat kalau fondasinya rapuh. Dan hari itu, fondasi itu sedang diperbaiki, pelan, tapi pasti.


Komentar Via Facebook :