Yayasan Pelatihan Tari Laksemana

Riuh Zapin Nusantara 2025: Saat Riau Menyalakan kembali Obor Budayanya

Riuh Zapin Nusantara 2025: Saat Riau Menyalakan kembali Obor Budayanya

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Yayasan Pelatihan Tari Laksemana kembali membuktikan bahwa denyut budaya Melayu tak pernah padam.

Dalam dua hari yang penuh gema langkah dan helai syair, Riuh Zapin Nusantara 2025 sukses mengguncang Panggung Anjung Seni Idrus Tintin pada 21–22 November 2025, menjadi simpul besar tempat para pewaris gerak, ritme, dan ruh Melayu kembali berjumpa.

Di hadapan wartawan, Ketua Yayasan sekaligus penggagas acara, Datin Sri Dunni Sriwani, menegaskan filosofi yang menjadi nafas festival tahun ini.

“Zapin adalah napas budaya kita. Ia bukan sekadar tarian, melainkan cerita yang hidup, syair yang mengalun, dan jiwa yang mengarungi zaman,” ujarnya.

Pandangan ini, kata Datin Dunni, menjadi fondasi penyelenggaraan festival tahun ini—bahwa zapin bukan warisan statis, melainkan energi hidup yang harus terus dirawat.

Tradisi Bertemu Inovasi, Lokal Berjumpa Global

Riuh Zapin Nusantara 2025 hadir bukan sebagai panggung hiburan semata. Datin Dunni menegaskan bahwa festival ini dirancang sebagai forum besar seni pertunjukan, tempat tradisi dan kreativitas bersalaman tanpa saling meniadakan.

Acara ini melanjutkan rangkaian besar festival zapin yang pernah memahat sejarah di Riau: Temu Indonesia (2011), Temu Zapin ASEAN (2012), hingga Riau Zapin Festival (2020).

Tahun ini, Anjungan Seni Idrus Tintin kembali menjadi rumah bagi ragam ekspresi zapin dari penjuru negeri—mulai dari Negeri Jiran Malaysia, Sumatera Utara, serta 6 kabupaten/kota yang ada diriau. 

Semua hadir dengan satu bahasa yang sama: bahasa gerak yang diwariskan generasi demi generasi.

Riau: Titik Api Tradisi yang Tak Pernah Padam

Di tanah kelahirannya, zapin disokong kuat oleh enam kabupaten yang dikenal sebagai penjaga garda depan kearifan lokal budaya Melayu: Siak, Bengkalis, Rokan Hilir, Pelalawan, Kepulauan Meranti, dan Indragiri Hilir.

Mereka bukan sekadar peserta; mereka adalah pewaris sekaligus penjaga karakter budaya yang telah membentuk wajah Riau selama berabad-abad.

Membangun Masa Depan Lewat Warisan

“Zapin adalah warisan kita. Mari kita jaga, rawat, dan hidupkan bersama,” lanjut Datin Dunni. Festival ini, menurutnya, bukan nostalgia masa lampau, tetapi komitmen kolektif untuk menjadikan zapin kembali relevan, hidup, dan bermartabat di tengah arus modernitas.

Riuh Zapin Nusantara 2025 menjadi momentum ketika budaya tak lagi hanya dikenang, tetapi diaktifkan kembali sebagai kekuatan masa depan.

Festival ini menjadi ruang bagi masyarakat, pelaku seni, dan generasi muda untuk memahami bahwa seni bukan hanya tontonan, melainkan nadi yang menyatukan dan menghidupkan peradaban.

Didukung Banyak Pihak, Dibangun dengan Semangat Kolaboratif

Datin Dunni juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang menopang terselenggaranya acara ini, mulai dari PT. Riau Petroleum (Perseroda), Pemerintah Provinsi Riau serta Dinas Pariwisata Provinsi Riau

Dengan dukungan tersebut, Laksemana tak hanya menyelenggarakan festival tetapi terus memupuk lahirnya karya-karya besar, ruang apresiasi bagi seniman muda untuk menari bukan semata menampilkan gerak, tetapi menghidupkan kembali jiwa budaya di bumi Melayu.

Riuh Zapin Nusantara 2025 menjadi bukti: ketika tradisi diberi tempat, ketika kolaborasi diberi ruang, dan ketika budaya diperlakukan sebagai masa depan Riau bukan hanya menjaga identitasnya, tetapi juga menyalakan kembali obor peradabannya.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :