Alarm Gizi! PKK wajibkan Warga Riau Makan Ikan minimal Seminggu Sekali

Alarm Gizi! PKK wajibkan Warga Riau Makan Ikan minimal Seminggu Sekali

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Ada yang berbeda di Car Free Day Jalan Sudirman, Minggu pagi (23/11/2025). Di tengah riuh musik senam dan kerumunan warga yang berpeluh semangat, Pemerintah Provinsi Riau bersama TP PKK dan Dinas Kelautan dan Perikanan turun langsung ke jalan, bukan hanya untuk berpesta olahraga—melainkan menggelorakan satu pesan sederhana namun krusial: makan ikan, atau kita akan kalah dalam perang gizi.

Peringatan Hari Ikan Nasional (Harkannas) 21 November kali ini bukan sekadar seremoni. Di balik senyum ramah dan stan-stan olahan ikan, ada kegelisahan yang ingin disampaikan pemerintah: angka konsumsi ikan masyarakat Riau belum beranjak cukup tinggi, padahal provinsi ini dianugerahi laut dan sungai yang nyaris tak pernah tidur.

Plt Ketua TP PKK Riau, Adrias Hariyanto, menyuarakan hal itu tanpa basa-basi. Ia bahkan mengeluarkan “seruan wajib” yang terdengar seperti alarm dini bagi kualitas generasi mendatang.

“Harus ada program makan ikan. Pokja PKK harus menyuarakan ke seluruh masyarakat. Bahkan wajib makan ikan walau hanya sekali dalam seminggu,” tegasnya di hadapan warga CFD.

Di balik pernyataan itu, terselip kritik tersirat: mengapa masyarakat di daerah kaya ikan masih enggan menjadikan ikan sebagai sumber protein utama? Pertanyaan yang selama ini mungkin berputar-putar tanpa jawaban.

Adrias menegaskan bahwa ikan bukanlah barang mahal apalagi langka. Di Riau, ikan datang dari segala arah: dari pesisir, sungai, parit, hingga pedagang kecil di pasar-pasar kampung.

“Ikan sangat berguna dan penting bagi kesehatan. Sekarang tidak sulit mencari ikan di mana pun kita berada,” ujarnya seakan mengingatkan bahwa masalahnya bukan ketersediaan, melainkan kebiasaan.

Kegiatan Harkannas tahun ini tampil lebih agresif: edukasi dilakukan langsung di tengah masyarakat, disisipkan dalam aktivitas populer, dan ditutup dengan aksi makan ikan bersama. Strategi yang tampak sederhana, tapi sebenarnya menyasar inti persoalan: mengubah budaya makan adalah pekerjaan panjang, dan harus dimulai dengan kedekatan.

“Kita membuat masyarakat paham pentingnya makan ikan. Harus disosialisasikan sehingga mereka tahu, ‘ini loh ikan’,” kata Adrias.

Di balik keramaian CFD, tersirat ambisi besar: menyelamatkan generasi muda dari ancaman stunting, gizi buruk, dan kualitas SDM yang melemah. Pemerintah berharap momentum ini bukan berhenti sebagai simbol, melainkan gerakan yang mengakar.

Jika gerakan ini gagal? Maka kita akan kembali ke ironi lama: hidup di negeri kaya ikan, tapi kalah oleh mi instan.

Namun jika berhasil, Harkannas 2025 mungkin akan dikenang sebagai titik balik ketika Riau mulai membangun generasi lebih sehat, cerdas, dan berkualitas—berawal dari satu langkah sederhana: mengajak masyarakat makan ikan.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :