Dari Lantai Masjid ke Menara Ilmu: Kisah Perjalanan H. Abunawas, Sang Penjaga Cahaya
RANAHRIAU.COM- Di sebuah kamar sederhana di Kangar, Perlis, Malaysia, seorang pria paruh baya menunduk di depan meja kecilnya.
Buku-buku bertumpuk di sekitarnya, diselingi secangkir teh yang mulai dingin. Di layar laptopnya, terbuka halaman tesis bergaya ilmiah. Namun, di balik kata-kata akademik itu, tersimpan perjalanan hidup luar biasa: perjalanan seorang anak desa miskin yang kini menempuh studi doktoral di negeri jiran.
Namanya H. Abunawas, S.Ag., MM.
Akar dari Tanah Pendalian
H. Abunawas lahir pada 3 Juli 1969, di Desa Pendalian, Rokan Hulu, Riau. Sebuah desa kecil yang tenang, diapit perbukitan dan sawah yang luas. Dari tanah sederhana itulah benih keteguhan hati mulai tumbuh.
Tak lama setelah ia mengecap manisnya masa kanak-kanak, kehidupan menempanya dengan keras.
Ibunya wafat ketika ia baru duduk di kelas 1 SD. Sejak itu, Abunawas kecil tumbuh tanpa belaian ibu, akan tetapi ditempa kasih sayang ayah, nenek, dan saudara-saudaranya yang serba pas-pasan.
Dari keluarga petani miskin itu, ia belajar tentang ketulusan hidup. Bahwa meski tubuh boleh lelah di sawah, hati tetap harus tegak di hadapan Tuhan.
“Saya belajar bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru di sanalah ujian kesungguhan dimulai,” ujarnya suatu kali dengan mata berkaca.
Menapaki Jalan Ilmu
Setelah menamatkan SD Negeri 06 Pendalian, ia melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Bangkinang, lalu ke Madrasah Aliyah Muhammadiyah Bangkinang.
Tak hanya belajar, Abunawas juga mengajar anak-anak di sekitar asrama — sekadar berbagi ilmu tajwid atau membantu mereka menghafal doa.
Selepas MA, ia diterima di IAIN Susqa Pekanbaru, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam.
Perjalanan ke kota itu bukan perkara mudah. Enam bulan pertama, hidupnya nyaris tanpa fasilitas: tak punya tempat tinggal tetap, tidur di lantai kos teman, makan seadanya.
Sampai akhirnya Allah membukakan jalan. Ia diterima menjadi gharim (penjaga masjid) di Masjid Ar-Ridha, Jalan Tasyakur, Pekanbaru.
Pagi ia kuliah, siang membersihkan halaman, sore mengajar ngaji, malam menjaga masjid.
“Masjid bukan hanya tempatku bekerja,” katanya suatu ketika, “tapi tempat aku belajar tentang kebersihan hati dan keikhlasan hidup.”
Dari Sapu ke Mimbar, Dari Masjid ke Sekolah
Selesai menjadi gharim, Abunawas bekerja di SD Muhammadiyah 1 Pekanbaru sebagai penjaga sekolah.
Setiap harinya Ia datang paling pagi, membuka gerbang, menyapu halaman, menyiapkan teh untuk guru.
Disela kerja kasarnya, semangat belajarnya tak pernah redup. Ia kuliah dengan tekun hingga akhirnya lulus dan menyandang gelar Sarjana Agama (S.Ag) pada tahun 1995.
Setelah lulus, Abunawas mengabdi di SMK Muhammadiyah 1 Pekanbaru. Di ruang kelas, ia bukan hanya guru, tetapi juga pembimbing akhlak. Ia dikenal disiplin, tegas, namun penuh kasih.
Siswa-siswinya sering berkata, “Pak Abunawas itu keras di lidah, tapi lembut di hati.”
Di luar sekolah, ia aktif di kegiatan olahraga. Ia bahkan pernah menjadi atlet sepak takraw mewakili fakultasnya — membuktikan bahwa semangatnya tak pernah lekang oleh keadaan.
Menembus Dunia Politik dengan Jiwa Gharim
Tahun 1998, ketika semangat reformasi membara, Abunawas ikut bergerak. Ia ikut dalam kelahiran Partai Amanat Nasional (PAN) dan tercatat sebagai anggota nomor 007.
Siapa sangka, dari lantai masjid yang dulu ia pel lantai demi lantai, langkahnya kini menuju kursi parlemen.
Tahun 1999, rakyat mempercayainya menjadi Anggota DPRD Kota Pekanbaru. Ia menjabat dua periode hingga 2009.
Meskipun Begitu ia tak pernah berubah.
Saat teman-teman separtainya sibuk dengan jabatan, Abunawas lebih sering menemui warga, membantu majelis taklim, dan mengajar anak-anak di kampung.
“Saya dulu menyapu masjid,” katanya dengan tenang, “sekarang saya berusaha menyapu kebijakan agar bersih dari kepentingan.”
Menjaga Cahaya Ilmu
Setelah purna dari parlemen, Abunawas kembali ke dunia pendidikan. Ia menempuh Magister Manajemen (MM) di Jakarta, lalu kini melanjutkan Program Doktoral di Universiti Muhammadiyah Antarabangsa Malaysia (UMAM).
Di Malaysia, ia hidup sederhana. Kamar kosnya hanya berukuran 2,5 x 3,5 meter, tapi di situlah lahir tulisan-tulisan akademik yang berisi gagasan besar tentang dakwah dan pendidikan.
Abu Nawas tetap menjaga rutinitas lamanya: bangun sebelum subuh, salat, membaca Al-Qur’an, lalu menulis hingga larut malam.
“Dulu saya penjaga masjid,” ucapnya lirih suatu malam, “sekarang Allah izinkan saya menjaga ilmu. Dan itu kehormatan yang jauh lebih besar.”
Jejak yang Tak Pernah Padam
Kisah hidup H. Abunawas bukan sekadar cerita perjuangan dari miskin menjadi sukses.
Ia adalah cermin tentang arti istiqamah, tentang keteguhan hati yang tak bisa dibeli oleh dunia.
Dari desa Pendalian yang sunyi, ia melangkah ke kota, menembus ruang politik, lalu melangkah lagi menuntut ilmu di negeri orang.
Ia telah kehilangan ibu, melewati kemiskinan, menjadi penjaga masjid, guru, legislator, hingga kini calon doktor.
Namun dalam setiap babak hidupnya, satu hal tak pernah berubah: keikhlasan untuk berbuat dan mengabdi.
"Hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai,” katanya dengan senyum teduh,
“tapi tentang siapa yang paling sabar berjalan di jalan yang benar.”
Kisah H. Abunawas mengingatkan kita bahwa tak ada langkah kecil yang sia-sia bila diiringi niat besar.
Dari sapu di tangan seorang penjaga masjid hingga pena di tangan seorang calon doktor, semuanya adalah bagian dari perjalanan suci: menjaga cahaya ilmu dan iman agar tak pernah padam.


Komentar Via Facebook :