Guru Bukan lagi Pusat Kelas, Tapi Pusat Kesadaran

Guru Bukan lagi Pusat Kelas, Tapi Pusat Kesadaran

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Ketika dunia pendidikan masih sibuk mengutak-atik kurikulum dan standar ujian, satu hal besar sering luput dari sorotan: guru sedang mengalami krisis eksistensial.

Di tengah derasnya arus digital, ketika murid bisa belajar apa pun lewat layar dan algoritma, peran guru dipertanyakan: masihkah mereka relevan?. Jawabannya: ya, tapi dengan wajah baru.

Guru masa kini bukan lagi “penyampai ilmu” seperti dalam buku teks zaman dulu. Ia kini dituntut menjadi arsitek makna — perancang pengalaman belajar yang mampu menumbuhkan daya pikir, bukan sekadar daya hafal.

Dari Pengajar ke Pemantik Kesadaran

Pembelajaran mendalam (deep learning) mengubah peta peran guru secara drastis. Dulu, guru adalah pusat pengetahuan. Kini, guru adalah pusat kesadaran.

Guru bukan lagi memberi tahu apa yang harus dipelajari, melainkan memantik pertanyaan: “Mengapa ini penting untuk hidupmu?”

Guru tak lagi menjejali murid dengan data, tapi menuntun mereka membaca dunia — secara kritis, etis, dan reflektif. Itu sebabnya, guru hari ini tak cukup cerdas. Ia harus bijak.

AI Bisa Mengajar, Tapi Tak Bisa Menggugah

Di era kecerdasan buatan, murid bisa belajar bahasa asing lewat aplikasi, memahami sains lewat simulasi, bahkan mengerjakan soal lewat ChatGPT. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dilakukan mesin: membangkitkan makna.

Guru adalah satu-satunya sosok yang bisa menyalakan sense of purpose dalam belajar. Guru juga bukan sekadar mengajar rumus, tetapi menghidupkan nilai-nilai: kejujuran, empati, tanggung jawab. Niai-nilai itulah yang tidak akan pernah bisa diunduh dari internet.

Ekosistem Belajar yang Hidup, Bukan Sekadar Sekolah

Konsep pembelajaran mendalam menuntut kita meninggalkan cara lama: ruang kelas tertutup, guru di depan, murid di barisan. Sekarang, belajar adalah ekosistem, bukan lokasi. Guru menjadi penghubung — antara sekolah dan dunia nyata, antara pelajaran dan kehidupan.

Guru harus bekerja sama dengan orang tua, komunitas, dan bahkan industri untuk menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan berjiwa sosial. Dari sinilah lahir generasi yang bukan hanya pintar di atas kertas, tapi tangguh di kehidupan.

Transformasi Dimulai dari Diri Guru

Masalahnya, tidak semua guru siap berubah. Masih banyak yang nyaman di zona lama: metode ceramah, hafalan, dan penilaian yang kaku. Padahal dunia sudah bergeser.

Guru yang tidak mau belajar, akan tergantikan — bukan oleh AI, tapi oleh relevansi. Karena pembelajaran mendalam hanya bisa lahir dari guru yang juga mendalam: reflektif, terbuka, dan terus bertumbuh.

Dari Ruang Kelas ke Ruang Kesadaran

Pada Akhirnya, Pendidikan masa depan tidak akan ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tapi oleh kualitas hubungan manusia di ruang belajar.

Guru adalah cermin peradaban. Ia bukan sekadar pengajar, tapi penjaga nurani pengetahuan. Jika guru mampu bertransformasi menjadi pusat kesadaran — bukan sekadar pusat kelas — maka pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi yang tidak hanya tahu, tapi mengerti mengapa ia harus tahu. Dan dari sanalah, revolusi pendidikan sejati akan dimulai.

 

Penulis : Deni Oktrina, S. Sos, Mahasiswa S2 Prodi Administrasi Jurusan Ilmu Administrasi UIR

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :