UMRI Peringatkan Bahaya AI tanpa Etika: Teknologi Bisa jadi Dewa Baru yang Menghancurkan Manusia!

UMRI Peringatkan Bahaya AI tanpa Etika: Teknologi Bisa jadi Dewa Baru yang Menghancurkan Manusia!

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Di tengah euforia dunia terhadap kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) justru menyalakan alarm bahaya.

Dalam Seminar Internasional bertajuk “Future Leaders for the Era of AI: Innovation, Ethics, and Impact” yang digelar Fakultas Studi Islam (FSI) pada Kamis (23/10/2025), kampus ini menggugat arah perkembangan AI yang dianggap mulai keluar dari nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

Rektor UMRI, Dr. H. Saidul Amin, M.A., berbicara tegas di hadapan ratusan peserta lintas negara. Ia memperingatkan bahwa AI bukan sekadar alat bantu manusia, tapi berpotensi menjadi “dewa baru” yang mengendalikan peradaban bila tak dikawal etika.

“AI bisa membawa kemajuan luar biasa, namun juga berpotensi menimbulkan kehancuran jika tidak dikawal dengan tanggung jawab moral. Karena itu, dibutuhkan kesadaran spiritual agar teknologi ini tetap berpihak pada kemanusiaan,” tegas Saidul Amin dengan nada penuh penekanan.

Menurutnya, dunia saat ini terlalu sibuk mengejar inovasi dan efisiensi, tapi lupa menanamkan nilai moral pada algoritma yang mereka ciptakan. “Kita bisa menciptakan mesin yang berpikir, tapi apakah kita masih berpikir sebagai manusia?” ujarnya menggigit.

AI: Antara Mukjizat dan Malapetaka

Seminar internasional ini menghadirkan tokoh-tokoh akademik lintas negara, termasuk Prof. Dr. Mohammad bin Ismail, Deputy Vice Chancellor Universiti Malaysia Kelantan (UMK), dan Dr. Aramudin, M.Pd. dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Diskusi mengerucut pada satu kesimpulan tajam: tanpa panduan moral dan spiritual, AI bisa berubah dari mukjizat teknologi menjadi malapetaka kemanusiaan.

Rektor Saidul Amin menyebut, perguruan tinggi harus menjadi “benteng moral” yang memastikan teknologi tetap berpihak pada manusia, bukan menggantikannya.

“Kita tidak hanya perlu mencetak lulusan yang cerdas, tapi juga yang bijaksana. Pemimpin masa depan harus mampu menuntun teknologi agar menjadi sarana kebaikan, bukan instrumen dominasi,” katanya.

Kolaborasi UMRI dan UMK: Melahirkan Generasi ‘Etical Tech Leaders’

Dekan Fakultas Studi Islam, Dr. Santoso, M.Si., menyebut seminar ini bagian dari kolaborasi internasional antara UMRI dan Universiti Malaysia Kelantan (UMK).

Kegiatan berlangsung 23–25 Oktober 2025, dengan fokus menyiapkan ethical tech leaders — pemimpin yang tidak sekadar menguasai AI, tapi juga mengendalikannya dengan nilai-nilai keislaman.

“Mahasiswa harus sadar, AI bukan hanya soal kecanggihan, tapi soal tanggung jawab. Kami ingin melahirkan generasi yang berani melawan arus ketika teknologi mulai melanggar batas moral,” ujarnya tajam.

Selain seminar, kerja sama ini mencakup riset lintas negara, pertukaran dosen, serta pengembangan kurikulum “AI dan Etika Islam”.

Pesan dari Pekanbaru untuk Dunia: Jangan Biarkan Mesin Mengatur Nurani

Seminar ini menjadi lebih dari sekadar forum ilmiah — ia berubah menjadi seruan global dari Pekanbaru untuk dunia: jangan biarkan mesin mengambil alih nurani manusia.

Di akhir sesi, Rektor UMRI menutup dengan pesan menggigit: “Teknologi boleh menguasai dunia, tapi hanya manusia bermoral yang bisa menyelamatkannya.”

UMRI menegaskan posisinya bukan sebagai penolak AI, tetapi sebagai pengingat keras bahwa kecerdasan buatan tanpa nilai agama hanyalah kehampaan yang canggih — dan itu, kata mereka, jauh lebih berbahaya dari kebodohan.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :