Hari Santri 2025: Santri bukan lagi Penonton Sejarah, Kini Penentu Peradaban Dunia!
Foto: Ist
JAKARTA, RANAHRIAU.COM — Bukan sekadar mengenang masa lalu, peringatan Hari Santri 2025 menjadi momentum kebangkitan kaum sarungan untuk kembali menegaskan peran besarnya dalam arah bangsa dan dunia.
Tahun ini, Kementerian Agama menetapkan tema yang menggugah kesadaran kolektif: “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”
Tema itu bukan sekadar slogan — tapi alarm moral bahwa santri bukan lagi hanya penjaga kitab kuning di pesantren, melainkan arsitek masa depan bangsa di tengah gempuran krisis moral dan digitalisasi global.
Melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor 04 Tahun 2025, tema ini menegaskan dua misi besar kaum santri. Pertama, mengawal kemerdekaan Indonesia — bukan hanya secara fisik, tetapi menjaga kemurnian ideologi, moral, dan spiritual bangsa di tengah derasnya pengaruh asing.
Kedua, menuju peradaban dunia — karena santri hari ini tak lagi terpaku di serambi masjid, melainkan sudah berbicara di forum-forum internasional, membawa nilai Islam yang damai, adil, dan berkeadaban.
“Pita Cakrawala”, Simbol Santri Era Baru
Logo resmi Hari Santri 2025 diberi nama “Pita Cakrawala” — lambang kebangkitan santri yang melampaui batas ruang dan waktu.
Bentuk pita yang melengkung ke atas menggambarkan semangat perjuangan yang tak pernah padam, melintasi zaman dari perjuangan kemerdekaan hingga era digital.
Enam warna dalam logo ini pun bukan hiasan kosong:
Hijau: Iman dan kedamaian
Oranye: Semangat perjuangan
Biru: Ilmu pengetahuan
Magenta: Keberanian dan kreativitas
Kuning: Kebijaksanaan
Ungu: Spiritualitas dan keikhlasan
Harmoni warna ini menjadi metafora indah tentang keberagaman Indonesia yang dirangkai dalam satu cita: menjadi bangsa berperadaban dunia.
Santri Bukan Lagi “Pinggiran”
Sejak penetapannya pada 2015, Hari Santri menjadi pengakuan negara terhadap kontribusi nyata para ulama, kiai, dan pesantren dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan.
Namun kini, tantangannya berbeda. Musuh bangsa bukan lagi penjajah bersenjata, melainkan kebodohan, kemiskinan, dan krisis moral.
Santri masa kini dituntut bukan hanya ngaji dan tawadu’, tapi juga melek digital, cerdas sosial, dan tangguh menghadapi arus globalisasi.
Mereka harus bisa membuktikan bahwa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin tetap relevan dalam membangun peradaban modern.
Peringatan Hari Santri 2025 ini pun menjadi panggilan: Bahwa jihad hari ini bukan lagi di medan perang, melainkan di ruang kelas, laboratorium, media sosial, dan ruang publik tempat masa depan bangsa dipertaruhkan.


Komentar Via Facebook :