OJK Buka Fakta Mengerikan di Baliknya
Rp7 Triliun Raib! Indonesia jadi Negara dengan Penipuan Digital Terbanyak di Dunia
Foto: Ist
JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Sejak November 2024 hingga Oktober 2025, masyarakat Indonesia kehilangan uang hingga Rp7 triliun akibat berbagai modus scam dan penipuan keuangan digital.
Data mengerikan ini dirilis langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC) — lembaga yang dibentuk untuk memerangi kejahatan finansial online yang makin menggila.
“Total kerugian masyarakat sudah mencapai Rp7 triliun, dan jumlahnya terus bertambah setiap hari,” ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, di Purwokerto, Sabtu (18/10/2025).
Ledakan Laporan: 300 Ribu Kasus Scam Masuk ke OJK!
Sejak dibentuk pada 22 November 2024, IASC mencatat hampir 300 ribu laporan penipuan, mayoritas berasal dari transaksi belanja daring dan investasi bodong. Modus klasik tetap jadi jebakan maut:
Harga barang super murah di toko online, Barang pertama datang sesuai pesanan,Tapi setelah korban transfer uang dalam jumlah besar — barang lenyap, pelaku kabur, dan uang tak kembali.
“Korban biasanya terlena karena harga yang terlalu menggiurkan. Setelah percaya dan setor besar, baru sadar sudah ditipu,” jelas Friderica yang akrab disapa Kiki.
Tiga Modus Penipuan Paling Mematikan
OJK mencatat, tiga jenis penipuan digital paling merugikan publik antara lain:
π» Belanja Online Fiktif: 53.928 kasus – kerugian Rp988 miliar.
π Penipuan Mengatasnamakan Pihak Lain (Fake Call): 31.298 kasus – kerugian Rp1,31 triliun.
π° Investasi Bodong: 19.850 kasus – kerugian Rp1,09 triliun.
Indonesia, Peringkat 1 Dunia untuk Scam Digital
Ironis tapi nyata: Indonesia kini jadi juara dunia penipuan digital. Dalam laporan IASC, tercatat 274.722 laporan scam hanya dalam 10 bulan terakhir — atau rata-rata 874 laporan setiap hari!
Bandingkan:
π²πΎ Malaysia: 253.553 laporan
π¨π¦ Kanada: 138.197 laporan
ππ° Hong Kong: 65.240 laporan
πΈπ¬ Singapura: 51.501 laporan
Lebih parahnya, Indonesia unggul dalam jumlah kasus, namun kerugian di Hong Kong mencapai Rp27 triliun — menandakan skala kejahatan lintas negara kini menyatu lewat dunia digital.
Era Baru Penipuan: AI Jadi Senjata Utama Scammer
Kini, para pelaku penipuan tak lagi butuh tipu daya klasik. Mereka sudah pakai AI. Teknologi deepfake memungkinkan scammer meniru wajah dan suara orang yang dikenal korban — dari rekan kerja, keluarga, bahkan pasangan. “Pelaku berpura-pura jadi orang dekat korban. Wajah dan suara dibuat mirip dengan bantuan AI. Ini yang bikin masyarakat makin sulit membedakan mana asli dan palsu,” ujar Kiki.
Bayangkan, Anda menerima video call dari seseorang yang terlihat seperti sahabat Anda — padahal itu hanya hasil manipulasi AI yang ingin menguras rekening Anda.
OJK Peringatkan: Hati-Hati, Dunia Maya Semakin Berbahaya
OJK mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran investasi cepat untung, link belanja super murah, atau panggilan dari nomor tak dikenal.
Langkah pencegahan terus diperkuat melalui kerja sama antara OJK, kepolisian, dan lembaga internasional, namun gelombang scam digital tampaknya terus tumbuh lebih cepat dari upaya penegakan hukum.
“Kami masih terus bekerja keras agar masyarakat bisa lebih terlindungi. Tapi kuncinya tetap satu: jangan tergiur dan selalu waspada,” tegas Friderica.
Indonesia kini berada di garis depan perang digital terbesar abad ini — perang melawan penipuan yang tak lagi punya wajah, tapi punya kecerdasan buatan. Uang Rp7 triliun sudah melayang. Pertanyaannya: siapa korban berikutnya?


Komentar Via Facebook :