Hari Sarjana Nasional 2025: Banyak Gelar, Sedikit Integritas?

Hari Sarjana Nasional 2025: Banyak Gelar, Sedikit Integritas?

RANAHRIAU.COM- Hari Sarjana Nasional seharusnya menjadi momen syukur atas lahirnya generasi terdidik yang siap membawa bangsa ini ke arah lebih maju.

Namun, di balik toga dan ijazah yang dibanggakan, ada pertanyaan pedas yang layak kita lontarkan: apakah semua sarjana hari ini benar-benar sarjana sejati, atau sekadar pemilik selembar kertas ijazah?

Inflasi Gelar, Krisis Kualitas

Hari ini Indonesia melahirkan ratusan ribu sarjana setiap tahun. Kampus tumbuh di mana-mana, bahkan sampai ke pelosok desa.

Namun, jumlah tidak otomatis berarti kualitas. Banyak sarjana keluar dari kampus hanya dengan gelar, bukan dengan kemampuan. Mereka cerdas di atas kertas, tapi gagap menghadapi realitas.

Ironisnya, sebagian bahkan rela menempuh jalan pintas: membeli skripsi, memalsukan sertifikat, hingga menggunakan ijazah bodong. Inikah wajah sarjana Indonesia yang dirayakan setiap Tahun?

Sarjana di Persimpangan Moral

Lebih dari sekadar kompetensi akademik, seorang sarjana seharusnya menjadi teladan moral dan integritas.

Sayangnya, realitas jauh panggang dari api. Tidak sedikit sarjana yang justru terjerat kasus korupsi, penyalahgunaan jabatan, bahkan ikut menyuburkan praktik curang di masyarakat.

Lantas, untuk apa gelar itu jika justru menambah panjang daftar “penjahat berdasi”? Apakah benar gelar sarjana hanya jadi status sosial, bukan tanggung jawab intelektual?

Hari Perayaan atau Hari Kontemplasi?

Hari Sarjana Nasional 2025 mestinya jangan sekadar dirayakan dengan seremoni, potong tumpeng, atau foto berjejer toga.

Hari ini harusnya jadi cermin besar untuk menatap wajah pendidikan kita: apakah sarjana yang kita hasilkan benar-benar siap memimpin perubahan, atau sekadar produk massal industri pendidikan?

Jika tidak ada koreksi serius, Hari Sarjana hanya akan jadi panggung kemunafikan: merayakan kebanggaan yang rapuh, menutup-nutupi fakta bahwa bangsa ini sedang krisis integritas.

Penutup: Sarjana Harus Berani Berbenah

Seorang sarjana bukan hanya “orang berijazah”, tapi orang yang siap menanggung tanggung jawab intelektual dan moral.

Di tengah banjir informasi dan degradasi etika publik, bangsa ini butuh sarjana yang berani jujur, berpihak pada kebenaran, dan sanggup menolak kompromi integritas.

Maka, pada Hari Sarjana Nasional 2025 ini, mari berhenti berbangga pada gelar. Mari mulai bertanya: apa yang sudah kita lakukan sebagai sarjana untuk bangsa ini?

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat huruf di belakang nama kita—tetapi sejauh mana kita menyalakan api perubahan.

 

Penulis : Abdul Hafiz AR, Pimred ranahriau.com

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :