Golkar Riau di Ujung Perpecahan: Musda tak kunjung Digelar, Beringin mulai Meranggas

Golkar Riau di Ujung Perpecahan: Musda tak kunjung Digelar, Beringin mulai Meranggas

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM– Partai Golkar di Riau saat ini berada dalam pusaran tarik-menarik internal yang bisa berdampak panjang.

Sebuah partai besar yang dulu dikenal solid dengan kader yang militan dan struktur yang kuat, kini mulai terbelah dua hanya karena satu hal yang tak kunjung terselesaikan: Musyawarah Daerah (Musda) yang terus tertunda.

Pengamat politik Riau, James Bond, yang juga merupakan dosen di salah satu perguruan tinggi di Riau, menilai bahwa lambatnya proses Musda ini bisa menjadi pemicu pelemahan partai secara perlahan, Sabtu (02/07/2025). 

“Dulu Golkar itu beringin yang lebat daunnya, akar menghujam dalam, batangnya kokoh. Tapi kalau Musda tak kunjung dibuka, lama-lama ranting patah, daun berguguran. Ini bahaya,” ungkapnya.

Menurut James, kekuatan utama Golkar adalah pada jumlah kader dan jaringan struktur hingga ke akar rumput.

Ketika dua kubu calon ketua DPD I saling mengklaim kekuatan, yang satu dominan di DPD II, satu lagi kuat di sayap dan organisasi pendiri, maka potensi polarisasi kader makin besar.

“Kalau dibiarkan, ini bukan lagi kompetisi sehat, tapi bisa berubah jadi dualisme,” ujarnya.

James juga menyebut Golkar sebagai partai yang selalu menarik untuk diikuti, namun kini justru jadi ‘sayang untuk dilihat’ karena stagnasi Musda yang berkepanjangan.

Ia menilai mantan Gubernur Riau Syamsuar yang selama ini menjaga stabilitas partai tentu ingin Golkar dipimpin oleh kader sejati.

“Wajar kalau Pak Syamsuar menjaga Golkar, karena ia tahu betul siapa yang pernah berproses di dalam, yang bukan sekadar numpang nama,” ucapnya.

Namun, James juga mencatat bahwa karena Golkar adalah partai pemerintah, banyak kader mendorong figur kekuasaan, termasuk orang nomor dua di Riau, untuk maju memimpin.

“Tapi jangan hanya karena jabatan. Golkar itu ada Hymne, ada Panca Bakti, ada nilai-nilai perjuangan."

"Yang ingin pimpin Golkar harus paham betul kegolkaran, bukan hanya sekadar ambisi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Golkar bukanlah partai yang otoriter.

“Uniknya Golkar ini adalah partai pasar bebas. Semua bisa mencalon, semua punya peluang yang sama.

"Tidak ada instruksi tunggal, tidak ada aklamasi tanpa musyawarah. Justru ini yang bikin politik di Golkar menarik, karena lebih hidup,” kata James sambil tertawa kecil.

Kini semua mata tertuju pada Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia. Jika gelanggang Musda dibuka secara terbuka, kompetisi sehat bisa terbangun.

Tapi jika diskresi DPP terlalu dominan dan menutup ruang kontestasi, maka nilai musyawarah yang jadi fondasi Golkar bisa terkikis.

“Kalau gelanggang Musda dibuka, para calon siap bertanding, siap kalah, dan siap menang. Itu baru sehat.

"Silakan bertarung, silakan cari suara dengan cara yang cerdas. Tapi kalau terus ditunda, malah bikin gaduh di dalam,” pungkas James.

Dinamika ini kini menjadi perbincangan hangat di warung kopi hingga forum elite. Pertanyaannya hanya satu: Kapan beringin Riau ini akan kembali rimbun, dan tidak meranggas oleh konflik internal?

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :