Opini Presentasi Kelompok 5, Narasi Teori Filsafat dalam Materi Bab 5
RANAHRIAU.COM- Filsafat merupakan akar dari segala cabang ilmu, termasuk pendidikan (Barella Yusawinur et al., 2024). Dalam konteks materi presentasi yang dibahas dalam Bab 5.
Hubungan filsafat dengan aspek aspek pendidikan, kita memahami bahwa filsafat pendidikan tidak hanya menyentuh aspek teoretis, tetapi juga memberi arah pada nilai, cara pandang, serta pendekatan dalam praktik pendidikan.
Filsafat mengajarkan kita untuk tidak sekadar “mengajar” dalam artian mentransfer ilmu, tetapi juga untuk memanusiakan manusia dalam proses belajar (Christiana, 2013).
Tokoh seperti John Dewey, misalnya, memandang bahwa pendidikan adalah rekonstruksi pengalaman yang berkesinambungan, di mana peserta didik tidak pasif, melainkan menjadi agen aktif yang membangun pemahamannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungan (Hasbullah, 2020).
Pendekatan ini kemudian dikenal sebagai progresivisme, yang menekankan pentingnya pengalaman konkret, pemecahan masalah, serta kerja sama dalam proses belajar.
Filsafat ini sangat relevan dengan konteks pendidikan modern yang berorientasi pada keterampilan abad 21.
Sementara itu, Socrates melalui metode dialektika, menekankan pentingnya bertanya, berpikir kritis, dan menyelami makna (Alvi & Pratama, 2024).
Ia percaya bahwa pengetahuan sejati lahir dari pertanyaan-pertanyaan mendalam, bukan sekadar menerima jawaban. Filosof ini mengajarkan bahwa pendidikan adalah perjalanan menuju kesadaran diri.
Implikasi Filsafat dalam Dunia Pendidikan
A. Di SMKN 1 Tapung
Dalam praktik pendidikan di SMKN 1 Tapung, filosofi pendidikan sangat terasa urgensinya terutama dalam menghadapi dinamika karakter dan latar belakang peserta didik.
Sekolah ini berada di wilayah dengan keberagaman ekonomi dan sosial yang cukup tinggi.
Banyak siswa datang dari keluarga petani, buruh harian, bahkan ada yang harus bekerja sepulang sekolah.
Di sinilah filsafat pendidikan membantu kami para pendidik dan pembimbing untuk memandang siswa bukan sebagai objek pembelajaran semata, melainkan sebagai subjek yang hidup, berpikir, dan memiliki harapan.
Pendekatan progresivisme John Dewey terasa nyata ketika kami menerapkan pembelajaran berbasis proyek (PBL) dan praktik kerja industri (Prakerin).
Di situ siswa belajar tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga nilai tanggung jawab, etika kerja, kerja sama, dan menyelesaikan masalah nyata.
Bahkan di ruang bimbingan konseling, kami menerapkan pendekatan dialogis seperti yang diajarkan Socrates: bertanya, menggali, dan mengarahkan siswa menemukan sendiri makna dari tantangan hidup dan pendidikan mereka.
Saya sebagai guru BK di SMKN 1 Tapung melihat, bahwa pendidikan karakter tidak bisa dibangun hanya dengan ceramah atau himbauan moral.
Ia tumbuh melalui pendekatan yang manusiawi dan reflektif dengan memahami siapa siswa itu, dari mana ia datang, dan ke mana ia ingin melangkah.
Kami menemukan bahwa pendekatan filsafat naturalisme Rousseau, yang menekankan bahwa setiap siswa memiliki potensi alami yang harus dikembangkan sesuai kodratnya, menjadi relevan untuk menangani siswa-siswa dengan minat non-akademik tapi unggul di keterampilan praktis.
Opini reflektif saya sebagai pendidik di SMKN 1 Tapung adalah bahwa filsafat pendidikan tidak harus hadir dalam bentuk teori yang berat tapi ia hidup saat seorang guru memilih untuk tidak memarahi siswa yang telat, tetapi duduk dan mendengarnya terlebih dahulu.
Ia hadir saat guru memberi kesempatan kedua bagi siswa yang gagal, karena percaya bahwa belajar adalah proses.
Di SMK, yang sering dilabeli sebagai "sekolah pinggiran", justru nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan pendidikan diuji.
Filsafatlah yang menjaga kami tetap berpijak, bahwa setiap anak siapapun dia berhak tumbuh dan dihargai.
B. Pelaksanaan Program di UPT SD Negri 026 Kota Garo
Filsafat bukanlah teori abstrak belaka, melainkan harus diterjemahkan ke dalam program konkret yang dapat diterapkan dalam praktik pendidikan di sekolah.
1. Program “Anak sebagai Subjek Pembelajar Aktif”
Di jenjang sekolah dasar, peserta didik harus dipandang sebagai individu yang memiliki potensi bawaan dan hak untuk berkembang secara utuh.
- Pojok Baca” (Reading Corner)
Setiap kelas menyediakan sudut baca dengan menyediakan sudut ruangan di kelas yang diisi dengan barbagai buku bacaan menarik dan penting.
Alat peraga, buku cerita ilmiah, dan media lainnya. Program ini bertujuan meningkatkan minat baca siswa, meningkatkan kemampuan literasi siswa, menambah wawasan,dan membiasakan siswa membaca setiap hari.
Siswa diberi waktu untuk membaca, eksplorasi mandiri untuk mengamati, dan bertanya.
Dikelola oleh siswa dan berkaitan dengan program satu anak satu tanggungjawab. Teori Piaget, Teori Perkembangan Kognitif, Menjelaskan bahwa pembelajaran terjadi melalui proses adaptasi (asimilasi dan akomodasi) dan berlangsung melalui tahap-tahap perkembangan.
Kemudian Teori Pemrosesan Informasi, menggambarkan bagaimana manusia menerima, menyimpan, dan mengambil informasi.
- Proyek Aku Bisa (Project-Based Learning Sederhana)
Siswa memilih topik sederhana ( yang sudah berjalan seperti menanam sayuran, membuat poster daur ulang, mengembangkan hidroponik) dan belajar mandiri atau berkelompok.
Kegiatan pembelajaran ini mengajak siswa untuk pentingnya menjaga lingkungan, hidup sehat dan mengembangkan karakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Menekankan bahwa siswa adalah subjek yang bisa merancang dan menyelesaikan masalah nyata, menanamkan nilai-nilai gotong royong, tanggungjawab, kreatif dan peduli terhadap lingkungan.
Kemudian mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan budidaya tananman dan mengembangkan ketrampilan dalam bertani.
Dewey (Teori Konstruktivisme) menekankan bahwa pembelajaran harus berbasis pengalaman nyata.
Ia percaya bahwa siswa belajar melalui interaksi aktif dengan lingkungan.
2. Program “Belajar Melalui Pengalaman”
Pengetahuan dibangun secara aktif oleh siswa melalui pengalaman langsung, bukan sekadar ceramah atau hafalan.
- Diskusi Kelompok Mini
Siswa didorong berdiskusi untuk menyampaikan pemahaman mereka tentang fenomena yang disampaikan guru dalam pembelajaran.
Siswa tidak hanya menjawab pertanyaan benar atau salah. Di kelas dibentuk kelompok berdasarkan tempat duduk yang dekat.
Dari 28 siswa kelas 5 terbentuk 7 kelompok yang terdiri 4 anggotanya. Guru mengajukan pertanyaan terbuka kepada kelompok, Kemudian di rumah juga berdasarkan alamat tempat tinggal yang berdekatan dibentuk kelompok belajar.
Kelompok ini di fungsikan untuk meyeleaikan tugas kelompok maupun diskusi kelompok yang dibawa ke rumah.
Dalam bukunya Émile, Rousseau menekankan pentingnya pendidikan yang berpusat pada anak dan pengalaman langsung. Ia percaya bahwa anak belajar lebih baik melalui eksplorasi dunia mereka sendiri.
3. Program “Sekolah Bernilai"
Pendidikan di UPT SD Negeri 026 Kota Garo berorientasi pada pembentukan karakter sejak dini.
Nilai-nilai seperti kejujuran, kerja sama, tanggung jawab, cinta lingkungan, dan religiusitas ditanamkan melalui pembelajaran sehari-hari.
“Jumat Karakter” yaitu setiap hari Jumat diisi dengan aktivitas reflektif, seperti menulis jurnal syukur, meghafal surat pendek, memimpin doa, senandung religi, berbagi cerita inspiratif, pembentuk karakter.
Semua siswa dikelopokan berdasarkan agamanya yaitu islam dan Kristen dipandu oleh guru piket. Siswa merefleksikan nilai-nilai apa yang dipelajari dalam kehidupan.
Khusus untuk hari Rabu, latihan kepemimpinan dilakukan oleh kakak kelas 6 yang aktif dalam ektrakurikuler pramuka. Dalam apel pagi siswa kelas 1 sampai kelas 6 diberikan materi kepramukaan.
- “Satu Anak, Satu Tanggung Jawab”
Setiap siswa diberi tanggung jawab kecil: memimpin doa, merawat tanaman, menjaga kebersihan sudut kelas.
Membangun rasa memiliki dan tanggung jawab sejak dini. Dilakukan secara bergilir didasarkan pada jadwal piket yang dibuat.
Misal hari Senin di pimpin oleh ketua kelas dan anggota piket memakai tanda yang digantung di leher sebagai duta kebersihan.
Tugasnya memimpin kebersihan kelas hari itu, memastikan yang masuk daftar piket melaksankan tanggungjawab dan melaporkan kejadian harian kepada guru kelas.
Siswa memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi minat dan keinginan mereka dalam belajar. Maslow (Teori Humanistik) menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi secara berjenjang, mulai dari kebutuhan dasar (makan, minum) hingga aktualisasi diri.
C. Di SMP Negeri 37 PEKANBARU
Scaffolding Vygotsky merupakan suatu konsep atau metode yang digunakan dalam perkembangan anak dengan bantuan orang berpengalaman atau temannya (Simanjuntak et al., 2024).
Teori sosiokultural yang dikembangkan oleh Vygotsky menyoroti pentingnya interaksi sosial dan konteks budaya, serta konsep zona perkembangan proksimal di mana pembelajaran paling efektif terjadi ketika individu dibantu oleh orang yang lebih kompeten (Witasari, 2024).
Sehingga Pengetahuan tidak ditransfer secara langsung, tapi dibangun melalui dialog dan kerja sama.
Program Aku bisa mengaji di SMP Negeri 37 Pekanbaru
- Berawal dari kegelisahan melihat banyaknya murid yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik saat kegiatan pagi Imtaq, muncul dorongan kuat untuk merancang program pembinaan yang lebih terstruktur dan kolaboratif.
- Dalam program "Aku Bisa Mengaji", banyak siswa berada pada tahap belajar awal atau sedang (belum mahir mengaji). Maka, belajar akan lebih efektif jika dilakukan bersama teman yang lebih mahir (tutor sebaya/guru/penghafal Al-Qur'an).
- Kolaborasi terjadi saat siswa belajar bersama dalam kelompok kecil, saling menyimak dan mengoreksi.
- Siswa yang belum bisa membaca surat pendek atau tajwid tertentu akan berada dalam ZPD (Zona Perkembangan Proksimal) dan butuh bantuan sesaat dari orang lain agar bisa belajar lebih baik.
- Tanpa scaffolding, siswa bisa frustasi, sebaliknya dengan scaffolding (misalnya: pendampingan oleh guru, video contoh, latihan bersama), mereka beranjak ke level berikutnya secara bertahap.
- Kolaborasi menumbuhkan kepercayaan diri dan nilai karakter islami
- Mendukung Program Sekolah dan Pembelajaran Berdiferensiasi
1. Kolaborasi & scaffolding membuat program “Aku Bisa Mengaji” inklusif: bisa menjangkau siswa dengan kemampuan berbeda-beda.
2. Guru bisa menyusun kelompok berdasarkan kemampuan baca Qur’an, dan menyesuaikan scaffolding-nya:
Level 1: Belum bisa Iqra → pendampingan penuh
Level 2: Iqra akhir → teman baca bergiliran
Level 3: Sudah bisa → jadi tutor sebaya
- Seiring dengan program Bapak Walikota “ Pekanbaru Cinta Al-Qur’an
* Adanya Pelatihan bagi guru terkait Tahsin dan Tajwid, yang sebelumnya guru secara mandiri di bimbing oleh guru agama yang ada di sekolah melaksanakan kegiatan Tahsin 1 bulan sekali, di akhir bulan Februari memperoleh pelatihan di kantor walikota Bersama Trainer hafidz Al-Qur’an, dilanjutkan dengan kunjungan Trainer di sekolah selama bulan Ramadhan tahun 2025.
* Guru, murid dan trainer saling berkolaborasi mulai dari Pembukaan, Pelafalan ( Baca Tiru), Pengajaran ( pendalaman tajwid dan hafalan), Penilaian dan Penutup ( review, pesan hikmah).
- Efisien dan mudah diterapkan
Guru tidak harus mengajari semua siswa satu per satu, cukup membentuk kelompok dan mengatur pola interaksi & scaffolding antar anggota. Bisa dilakukan di luar jam pelajaran atau saat time block keagamaan. Dalam hal ini peran penting Walikelas dalam memantau perkembangan murid sangat berperan.
Masih banyak program di sekolah kami yang keren, banyak prestasi anak kami baik dalam bidang Akademik maupun Non Akademik, tetapi prestasi tersebut hanya akan sampai di dunia. Harapan kami melalui program Aku bisa Mengaji, menjadi strategi pemberdayaan siswa untuk saling bantu dan tumbuh bersama secara sosial, akademik, dan spiritual.
REFERENSI
Alvi, S. N. U. T. P. I. C. N. A. M., & Pratama. (2024). Gerakan Socrates Mauetika Techne. Praxis: Jurnal Filsafat Terapan, 1(April), 1–12. https://doi.org/10.11111/praxis.xxxxxxx
Barella Yusawinur, Fergina Ana, Marjuni Andi, & Achruh Andi. (2024). Eksplorasi Definisi Filsafat Pendidikan Menurut Para Ahli: Suatu Tinjauan Literatur. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 7(2), 4042–4047.
Christiana, E. (2013). Pendidikan yang Memanusiakan Manusia. Humaniora, 4(1), 398. https://doi.org/10.21512/humaniora.v4i1.3450
Hasbullah. (2020). Pemikiran Kritis John Dewey Tentang Pendidikan (Dalam Perspektif Kajian Filosofis). Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam, 10(1), 1–21.
Simanjuntak, N. T., Katuuk, D. A., & Kapahang, G. L. (2024). EFEKTIVITAS PENERAPAN SCAFFOLDING VYGOTSKY DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK SD INPRES KAKASKASEN TIGA, TOMOHON. PSIKOPEDIA, 5(2), 119-132. https://doi.org/10.53682/pj.v5i2.9165.
Witasari, R. (2024). Belajar dan Pembelajaran dari perspektif Teori kognitif, behaviorisme Konstruktivisme dan sosiokultural. BASICA, 3(2), 257-268. DOI: https://doi.org/10.37680/basica.v3i2.5764
Penulis : Kelompok 5, Yeni Pamungkas Sejati, Puji Susatyo, Eva Nurhasanah, Febri Suzanni


Komentar Via Facebook :