Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara, Tetap Eksis di Dunia Pendidikan sampai Saat Ini

Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara, Tetap Eksis di Dunia Pendidikan sampai Saat Ini

RANAHRIAU.COM- Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) sebagai pendekatan yang relevan untuk zaman kini.

KHD memandang pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi sebagai tempat menabur benih kebudayaan yang dinamis, yaitu membentuk manusia seutuhnya: intelektual, emosional, dan moral.

Pendidikan menurut KHD haruslah sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman, menyesuaikan dengan potensi anak dan tantangan kehidupan modern.

Filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus berpijak pada kodrat alam (lingkungan dan budaya tempat anak tumbuh) dan menjawab tantangan kodrat zaman (perkembangan dan perubahan dunia).

Pendidikan harus dilaksanakan dengan prinsip Tri-Kon:

  1. Kontekstual (sesuai kondisi anak dan lingkungannya),
  2. Kontinuitas (menghargai nilai-nilai luhur secara berkelanjutan), dan
  3. Konsentris (berkembang dari diri, keluarga, masyarakat, hingga dunia).

Selain sistem trilogi, dalam Ki Hajar Dewantara menawarkan metode among yang mana hal ini berkaitan dengan kata dasar Mong yang mencakup Momong, Among, dan Ngemong.

Momong dalam bahasa Jawa berarti merawat dengan tulus dan penuh kasih sayang disertai dengan doa dan harapan serta mentransformasi anak agar selalu berada di jalan kebenaran.

Sedangkan Among, termasuk proses walang wuruk berarti pengajaran tentang nilai kebaikan dan keburukan disertai dengan pengenalan hukuman terhadap contoh perilaku di tahap ini sesuai dengan kodratnya.

Sistem among sendiri berlandaskan pada ketiga hal berikut, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha ( Di depan memberikan keteladanan), Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah memberi semangat), dan Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan).

Terakhir, Ngemong adalah suatu proses mendidik agar anak dapat bertanggung jawab dan displin atas perbuatan yang telah dilakukan.

Dalam ketiga sikap itu dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa melalui peran guru di sekolah, orang tua di rumah, dan lingkungan masyarakat mewadahi tumbuh dan kembang perilaku anak dalam meraih impian mereka.

Tugas mereka adalah bukan sekedar mendikte, melainkan menjadi pemandu untuk mendukung pola pikir dan tumbuh kembang anak.

Pembebasan dalam pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara adalah yang diawasi dan dibatasi, maksudnya dengan memberikan teguran dan arahan ketika anak mengambil jalan yang keliru.

SD Silaturahim Islamic Shoool Cibubur tempat ibu Ariesta Aldiatika Prana, S.Kom bertugas adalah sekolah dasar ramah anak yang memberikan kesempatan kepada semua anak, baik reguler maupun anak dengan kebutuhan khusus untuk belajar dan berkarya bersama.

Slogan “Semua Anak adalah Bintang" di SD Silaturahim Islamic School merupakan cerminan nyata dari filosofi Ki Hajar Dewantara yang memandang setiap anak sebagai individu dengan kodrat dan potensinya sendiri.

Penerapan Multiple Intelligences atau Kecerdasan Majemuk di SD Silaturahim juga secara eksplisit mendukung prinsip ini.

Dengan mengidentifikasi kecerdasan dominan dan gaya belajar setiap siswa, para guru dapat merancang strategi pembelajaran yang personal dan efektif, layaknya seorang "pamong" yang menuntun, bukan mendikte.

Pendekatan ini memungkinkan setiap "bintang" untuk bersinar maksimal, sesuai dengan prinsip pendidikan yang berpusat pada anak, di mana kemerdekaan belajar siswa diakui dan didukung penuh.

Selain itu, salah satu program unggulan di SD Silaturahim, yaitu "Project Based on Qur’an" merupakan realisasi dari prinsip-prinsip Ki Hajar Dewantara, khususnya dalam memadukan kebudayaan dengan pengembangan potensi anak.

Lebih dari sekadar hafalan, program ini mendorong siswa untuk menerapkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari dan menciptakan karya nyata.

Ini merefleksikan semboyan Ing Madya Mangun Karsa (membangun kemauan dan inisiatif) di mana siswa secara aktif terlibat dalam proses belajar dan berkarya. 

SD Negeri 6 Tanjung Peranap tempat Bapak Helmiyanto, S.Pd bertugas saat ini yang merupakan Sekolah Dasar tertua di Desa Tanjung Peranap.

Sekolah ini sekarang memiliki 11 orang guru dan 152 orang siswa. Program yang di gerakkan oleh Pak Helmiyanto sendiri yang ni program GELILAS (Gerakan Literasi Kelas) sebagai Guru Penggerak angkatan 9 saat itu.

Program ini dimulai dari kelas 6 yang didasari oleh kekhawatiran beliau terhadap kondisi siswa yang hampir 30 % belum lancar membaca.

Program ini dilaksanakan dengan dasar untuk meningkkat semangat siswa dalam membaca dan melatih semangat siswa dalam membaca.

Sesuai dengan filosofi KHD pendidikan sebagai tuntunan kodrat anak “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu”.

GELILAS bukan memaksa anak membaca, tapi menuntun anak agar menyukai membaca, sesuai tingkat kemampuannya.

Anak dengan belum lancar membaca tidak dipaksa membaca keras di depan umum, melainkan didampingi dalam kelompok kecil sesuai tahapannya.

Selain itu penghormatan terhadap kodrat alam dan zaman, “Pendidikan harus sesuai dengan kodrat alam dan zaman.” Kodrat zaman hari ini menuntut kemampuan literasi sebagai pondasi pembelajaran sepanjang hayat.

GELILAS menjawab kebutuhan zaman dengan cara yang kontekstual dan tidak meninggalkan budaya kelas yang manusiawi. 

SD Negeri 16 Tanjung Peranap tempat Ibu Nursyahlina, S.Si bertugas merupakan Sekolah Dasar yang didirikan sejak tahun 2015 yang sebelumnya merupakan lokal jauh dari SD Negeri 6 Tanjung Peranap tempat Pak Helmiyanto bertugas.

Sekolah ini di dirikan atas dasar akses jauh dari warga Dusun II Bunga Tanjung yang ingin bersekolah di SD Negeri 6 Tanjung Peranap. SD ini memiliki 9 orang Guru dan 63 Siswa.

Adapun program unggulan yang diterapkan di kelas yakni MATAJIKA (Matematika Jadi Asyik dan Kreatif) dimana kegiatan ini di cetus oleh ibu Nursyahlina sendiri sebagai Guru Penggerak Angkatan 11.

Dilakukan dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran Matematika jadi menarik dan asyik dengan memanfaatkan budaya lokal serta penggunaaan IT.

Program MATAJIKA bukan hanya menjadikan matematika lebih menyenangkan dan dekat dengan kehidupan siswa, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai kultural, membangun kreativitas, dan mengasah daya cipta anak sesuai dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara “Anak-anak jangan diajari untuk hanya dapat berpikir, tapi diajari untuk mencipta’. 

Yayasan Brilliant Centre Dumai tempat ibu Sukma Dewi, S.Psi bertugas di mana yayasan ini merupakan yayasan yang melayani terapi secara mandiri untuk anak berkebutuhan khusus.

Yayasan ini berdiri sejak tahun 2021 dengan saat ini peserta terapi atau klien terdiri dari 30 orang dengan memiliki 8 terapis.

Ada pun program andalannya adalah terapi perilaku, terapi sensorial dan terapi berbicara dimana ke 3 program ini menjadi unggulan dengan setiap anak akan mendapatkan terapi ini dan para terapis memiliki karaketeristik momong dalam mendidik anak dimana para terapis mendidik dengan tulus dan penuh kasih sayang sesuai dengan ajaran dari KH Dewantara.

Selain itu, Yayasan Brilliant Centre melakukan kerja sama dengan orang tua dan guru atau kepala sekolah di mana anak-anak bersekolah karena kami meyakini dan sejalan dengan ajaran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan harus menawarkan sistem Trilogi yang berperan membina dan mendidik anak dengan melibatkan peran orang tua, masyarakat dan sekolah.

Serta kami juga menekankan dalam pencapaian kognitif yang baik harus melakukan terapis sensorial dan ini juga merupakan hal yang sejalan dengan Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga proses memanusiakan manusia.

Opini ini menyoroti pentingnya pendidikan yang holistik, yang tidak hanya mengembangkan kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik siswa.

Ini juga senanda dengan filsuf Jean Piaget: Teori perkembangan kognitif Piaget menekankan pentingnya tahap sensorimotor pada masa awal perkembangan anak.

Anak belajar melalui interaksi fisik dengan lingkungannya, dan pengalaman sensorik serta motorik ini menjadi dasar perkembangan kognitif.

Penulis: Kelompok 1(Ariesta Aldiatika P, Helmiyanto, Nursyahlina, Sukma Dewi), 
Filosofi Pendidikan, Pedagogik, Sekolah Pasca Sarjana Unilak, Universitas Lancang Kuning, 2025.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :