Menanti Teori Motivasi Baru

Menanti Teori Motivasi Baru

RanahRiau.com- Krisis ekonomi yang berkepanjangan saat ini menjadikan banyak orang menjadi frustrasi, dan bahkan sudah menjurus kepada kehabisan asa. Ibarat jalan tak berujung, menjadikan banyak pihak merasa kehabisan akal, atas kepulihan perekonomian yang belum terlihat juga. Lalu apa solusinya? Jawabannya agar tidak kehabisan asa, maka faktor motivasilah yang menjadi kunci untuk tetap bisa tangguh dan tetap semangat menghadapi segala permasalahan yang ada saat ini. 

Apakah dalam menghadapi krisis global saat ini, agar selalu ada asa, kita harus selalu bersabar?  Apakah sikap bersabar tersebut adalah bagian dari motivasi dirikah? Ya memang banyak pertanyaan bermunculan, ketika asa mulai menipis dan motivasi tidak bisa mengimbanginya.

Dalam kondisi ekonomi yang stabil saja, faktor motivasi atau sering juga disebut sebagai motivasi kerja adalah faktor yang selalu menjadi perhatian utama bagi pimpinan perusahaan atau lembaga agar kinerja selalu menghasilkan yang terbaik. Apalagi dalam kondisi perekonomian yang  melambat tanpa ujung ini, tentunya faktor motivasi sudah pasti dijadikan andalan utama dalam mencapai kinerja terbaik tersebut, sebab bila aspek motivasi “melempem” maka sudah pasti daya dorong dan daya semangat akan rontok yang disebabkan oleh adanya suatu sikap frustrasi akibat adanya perlambatan perekonomian global yang tak berujung ini.

Motivasi bila kita artikan dalam suatu bentuk definisi yang baku, secara singkatnya adalah semangat atau spirit dalam jiwa atau hati sanubari kita  dalam  mencapai suatu tujuan tertentu. Namun dalam dunia kerja, ada beberapa teori yang sangat populer, dan karena betapa pentingnya aspek motivasi ini sebagai pendorong utama pada jiwa kita agar semuanya tercapai, maka penulis mengajak secara singkat dan praktisnya saja tentang sejumlah teori motivasi yang sampai saat ini selalu dijadikan dasar oleh para akademisi dan juga para pelaku dunia usaha untuk mengelola aspek motivasi ini secara optimal, agar dapat meningkatkan kinerja perusahaan atau lembaga.

Teori-teori motivasi yang cukup popular tersebut adalah Teori Motivasi Maslow, McClelland, McGregor, Hezberg, ERG Aldefer. Namun yang paling banyak dipakai oleh banyak pihak adalah Teori Motivasi Maslow, McClelland, Hezberg. Kalau kita memang mengakui dan menggangap bahwa faktor motivasi itu adalah sangat penting bagi perusahaan dan juga bagi kita pribadi, maka kita perlu cek & recek lagi, apakah teori-teori tersebut memang masih layak pakai atau memang masih valid, sehingga kita nggak salah kaprah dalam menjadikan acuan?

Ada sejumlah pertanyaan yang ada di benak kita semua terkait dengan teori-teori motivasi tersebut. Namun yang dipakai untuk diskusi kali ini adalah pada tiga teori yang paling sering dipakai oleh banyak pihak  yaitu Teori Motivasi Maslow, McClelland, Hezberg. Setelah kita tetapkan bahwa topik bahasan kita pada 3 teori motivasi tersebut, akan timbul beberapa pertanyaan yang kritikal tentunya.

Cakupan pertanyaan tersebut adalah: ketiga teori tersebut apakah tidak terlalu tua untuk kita pakai sebagai bahan acuan kita, sebab kita ketahui bersama bahwa Teori Maslow diterbitkan tahun 1954, Teori McClelland diterbitkan tahun 1961 dan Teori Hezberg dimunculkan pada tahun 1959? Zaman sudah berubah dan saat ini sudah era milenium, tentunya sudah sekitar 50 tahun lebih usia dari ketiga teori tersebut, jadi layakkah kita pakai ketiga teori tersebut dengan zaman sudah berubah jauh? Lebih lanjut lagi, kita bisa pertanyakan pada ketiga teori tersebut, apa yang menjadi subjek penelitian dari teori tersebut, maksudnya apakah hanya mencakup orang Amerika Serikat saja yang dijadikan responden?  Atau hanya profesi tertentu saja yang dijadikan objek penelitian? Biasanya yang pembuat teori-teori ini adalah para pakar yang bermukim di Amerika Serikat, dan tentu dengan kondisi tahun 1950-1960 an dengan kondisi transportasi dan sistem komunikasi yang sangat banyak kendalanya, rasanya sulit ya untuk tetapkan respondennya ada wakilnya dari tiap benua, dengan demikian hasil riset ketiga teori ini tidak semudah itu untuk bisa di generalisasikan, malah bisa kita gugat untuk telaah lebih dalam lagi.

Dalam ketiga teori tersebut nanti bisa kita pertanyakan, sejauh mana mereka mengemukakan bahwa faktor-faktor motivasi tersebut ada kaitannya dengan pendalaman dan pengamalan atas nilai-nilai dari agama yang responden anut? Kalau nanti dalam telaah, yang kita temukan seandainya bahwa yang dijadikan dalam ketiga teori motivasi tersebut adalah hanya menyangkut aspek manusiawi semata tanpa dikaitkan dengan aspek kejiwaan yang berkaitan dengan kadar kaya batin atau sering disebut kaya hati, tentunya terasa “naif” bila benar itu yang terjadi pada ketiga teori tersebut ya?

Kita mulai dengan teori yang pertama adalah teori motivasi Maslow. Abraham Maslow (1954) mengembangkan teori motivasi manusia yang tujuannya menjelaskan segala jenis keperluan manusia dan mengurutkannya menurut tingkat prioritas manusia dalam pemenuhannya. Maslow membedakan D-needs  atau dificiency needs yang muncul dari kebutuhan pangan, tidur, rasa aman, dan lain-lain, serta B-needs atau being needs  seperti keinginan untuk memenuhi potensi diri. Kita baru dapat memenuhi B-needs jika D-needs sudah terpenuhi. Jadi harus berurutan menurut Maslow.

Lima tingkatan motivasi dari Teori Maslow tersebut adalah pertama, kebutuhan yang bersifat fisiologis. Kebutuhan ini terlihat dalam tiga hal pokok, sandang, pangan dan papan. Kedua, kebutuhan keamanan dan keselamatan kerja (safety needs), keperluan ini mengarah kepada rasa keamanan, ketentraman dan jaminan seseorang dalam hidup dan juga terkait pada kedudukannya, jabatannya, wewenangnya dan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Ketiga, kebutuhan sosial (social needs), kebutuhan akan kasih sayang dan bersahabat (kerja sama) dalam kelompok kerja atau antar kelompok. Keempat, kebutuhan akan prestasi (esteem needs), kebutuhan akan kedudukan dan promosi di bidang kepegawaian. Kelima, kebutuhan aktualisasi diri (self actualization) yaitu kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada kegiatan peningkatan citra dan cita diri seseorang. 

Menurut Maslow bahwa hakikatnya seorang manusia akan melalui tingkatan motivasi secara berurutan dari nomor 1 sampai dengan 5. Timbul pertanyaan, dengan adanya kompleksitas kehidupan saat ini, mungkihkah bisa terjadi adalah tingkatan motivasi seseorang bergeser 360 derajat yaitu dimulai dari nomor 5 terlebih dahulu dan mundur menuju nomor 1 secara berurutan? Ya bisa saja terjadi. Dengan demikian Teori Maslow ini bisa digugat dengan kacamata situasi saat ini.

Kita lanjutkan pada teori yang kedua yaitu teori  Herzberg, juga dikenal sebagai teori motivasi Herzberg atau teori hygiene-motivator. Teori ini dikembangkan oleh Frederick Irving Herzberg (1923-2000), seorang psikolog asal Amerika Serikat. 

Literaturnya Herzberg meformulasikan opini tentang “satisfiers” and “dissatisfiers “ dan dari hipotesa yang berjudul Mental Health is Not the Opposite of MentalIllness, Herzberg menarik dasar hipotesa untuk penelitian yang  dipublikasikan pada tahun1959 dengan judul The Motivation to Work, di mana penelitian tersebut menghasilkan teori yang dikenal dengan “Motivation–Hygiene”. 

Frederick Herzberg menyatakan bahwa ada faktor-faktor tertentu di tempat kerja yang menyebabkan kepuasan kerja, sementara pada bagian lain ada pula faktor lain yang menyebabkan ketidakpuasan. Dengan kata lain kepuasan dan ketidakpuasan kerja berhubungan satu sama lain. Faktor-faktor tertentu di tempat kerja tersebut oleh Frederick Herzberg diidentifikasi sebagai hygiene factors (faktor kesehatan) dan motivation factors (faktor pemuas).

Selanjutnya kita masuk ke bahasan yang ketiga yaitu teori McClelland. Di dalam bukunya The Achieving Society (1961) McClelland merumuskan bahwa motivasi manusia dibagi ke dalam tiga kebutuhan utama, yaitu: Kebutuhan untuk berprestasi (Need for achievement/n-Ach), kebutuhan untuk berkuasa (Need for power/n-Pow) dan kebutuhan untuk berafiliasi (Need for affiliation /n-Aff). Pokok penting dari masing-masing kebutuhan berbeda untuk tiap-tiap individu dan juga tergantung pada latar belakang budaya masing-masing orang.

Dari uraian di atas, ketiga teori tersebut adalah teori yang paling populer digunakan oleh para peneliti di dunia akademis di seluruh dunia dan bahkan di dunia kerja juga dijadikan acuan untuk meningkatkan motivasi kerja dalam kaitan peningkatan produktivitas. Namun apa pun ceritanya, rasanya ketiga teori tersebut tidak mampu lagi menjawab kondisi dan situasi saat ini, kenapa begitu? Kita coba beberkan di bawah ini.

Kelemahan pertama adalah, dari tahun dilahirkannya ke tiga teori tersebut, di mana dimunculkan dalam periode 1950 sampai dengan 1960 an. Artinya kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri, di mana dasar pembuatan teori berdasarkan kondisi dan situasi di tahun 1950–1960 an, lalu apakah dasar-dasar yang dijadikan pemikiran utama pada ke tiga teori tersebut, masih sesuaikah dengan situasi kita saat ini yang sudah masuk pada tahun 2017 atau sekitar 50 tahun ke depan sejak ke 3 teori itu dilahirkan? Tentu jawabannya dengan berbagai kompleksitas kehidupan yang bertambah dan perkembangan dunia keilmuan dalam puluhan tahun, maka diperlukan suatu teori yang baru dan bisa menjawab situasi saat ini.

Kelemahan kedua adalah, ketiga teori tersebut  dilakukan pada objek responden yang berada di Amerika Serikat. Sementara itu kita tahu, bahwa sistem ekonomi politik di Amerika Serikat menganut paham liberalisme, yaitu menyamakan kedudukan manusia sama dengan mesin sebagai bagian dari alat produksi. Jika begitu, bisakah kita pakai teorinya untuk masyarakat Jepang yang menganut pola ekonomi politiknya pakai pola Heterodoks yaitu menggabungkan aspek budaya dengan agama?  Atau bisakah ketiga teori tersebut diterapkan  pada negara Denmark yang pada dasanya pakai pola negara kesejahteraan? Ya pasti jawabannya, tidak sesuai ya.

Kelemahan ketiga adalah dalam ketiga teori tersebut tidak memasukan aspek rohani dalam aspek motivasi tersebut. Jadi ketiga teori tersebut terlalu condong pada duniawi. Sesungguhnya dalam proses hidup dan kehidupan ini justru sumber motivasi diri itu bersumber dari hati sanubari, dan akan terbukti dasyat dampaknya bila seseorang mendasarkan sumber motivasi dirinya, juga berasal dari aspek rohani dan tentu akan menganggap dan berpandangan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan didunia ini adalah bagian dari ibadah.

Kelemahan keempat adalah dari ketiga teori tersebut, bahwa manusia itu akan termotivasi bila didasari dengan aspek transaksional, dan hal itu akan berjalan sukses, bilamana transaksional itu bisa terjadi keseimbangan dan saling memuaskan para pihak. Padahal dalam hidup ini, tidaklah selamanya hanya mencari materi semata, dan ada suatu bentuk rasa syukur dari setiap manusia bilamana ada nikmat Allah itu sendiri, dan hal itu tidak perlu ada imbalan.

Jadi perlukah kita tunggu atau kita buat teori motivasi yang baru?  Jawabannya untuk keperluan dunia akademisi tentu perlu ”pengkinian teori”, namun untuk bidang kehidupan kita, jawabannya adalah tidak perlu. Mengapa? Sebab dalam menjalani hidup ini, kita tidak perlulah banyak berteori ya. Yang paling penting tingkatkan “iman dan takwa”, dan hal itu akan selalu menjadikan diri kita selalu termotivasi untuk bersemangat dalam hal apapun. Dengan dasar apapun yang kita lakukan adalah dengan niat ibadah, tentunya motivasi itu tidak pernah jauh dan tidak pernah terpisah dengan jiwa kita. Tetaplah semangat dan jangan terlalu dipusingkan dengan banyak teori.

“Life will always have a different plan for you. If you don’t give up, you will eventually get to your destination. But towards the end of your life, you may look back and realize that it was never really about the destination; it was the journey that counted.” King Samuel Benson

Sumber 
Penulis : Dr H Irvandi Gustari (Direktur Utama PT Bank Riau Kepri)
Diposting : Riaupos.co



Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :