Sepenggal Kisah di Kota Rengat
RanahRiau.com- Pernah dengar kota bernama Rengat? Siapkan sampan dan dayung, karena saya akan membawa Anda menyusuri sebuah kota yang terletak di tepi Sungai Indragiri, Provinsi Riau.
Rengat, kota berpenduduk sekitar 409.431 ribu jiwa ini (BPS Inhu tahun 2015), berkembang sekira abad ke-18 hingga abad ke-19. Berdasarkan sejarah, Rengat didirikan oleh Sultan Indragiri ke-18, yang bernama Sultan Ibrahim.
Sayangnya, silsilah mengenai Kerajaan Indragiri sekarang sudah tidak jelas lagi. Kalau dari riwayat para tetua, pendiri kerajaan Indragiri berasal dari daerah Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia).Satu-satunya penanda silsilah kerajaan adalah nama depan dari warga Rengat. Bagi yang memiliki nama depan Raja, berarti dia keturunan Raja Indragiri. Baik pria atau wanita, bisa memiliki nama depan raja dari garis keturunan ayah (patriarki). Jika wanita bergelar raja menikah dengan lelaki biasa, otomatis gelar putus dan tidak berlanjut pada keturunannya.
Nah, kenapa kota ini dinamakan Rengat? Riwayat turun temurun mengatakan kalau Rengat berasal dari kata Rengit yang artinya nyamuk kecil (lema Rengit terdapat di dalam KBBI). Entah bagaimana pelafalannya berubah menjadi Rengat¸saya pun tak tahu kenapa.
Satu hal yang pasti, 15 tahun hidup di Rengat, kota ini memang selalu dipenuhi oleh nyamuk. Tak peduli pagi, siang, malam, nyamuk selalu berdenging di mana-mana. Jadi tidak heran kalau nyaris di tiap rumah warga, kamar mereka dihiasi dengan kelambu untuk mengurangi serbuan nyamuk.
Soal kenapa banyak nyamuk, bukan berarti warga Rengat malas bersih-bersih lingkungan ya. Karakteristik geografis Rengat memang potensial untuk kembang biak nyamuk. Rengat berada di dataran rendah dengan kelembaban yang cukup tinggi. Kebanyakan lahannya berupa tanah gambut dan rawa-rawa. Apalagi dulu (dekade 1990-an), Rengat sering mengalami banjir. Jadilah nyamuk berkembang cepat dari jentik hingga menjadi pengisap darah yang menyebalkan.
Rengat kota majemuk secara administratif, Rengat adalah Ibu Kota Kabupaten Indragiri Hulu.
Soal kemajemukan, Rengat tidak kalah dengan Yogyakarta. Masyarakat Rengat sangat beragam, ada suku Melayu, Minang, Jawa, Batak, Bugis, Sunda, dan etnik Tionghoa. Di pusat Kota Rengat ada sebuah gereja dan wihara yang cukup besar. Kalau tahun baru China, biasanya ada tarian barongsai di lapangan hijau (sebutan untuk alun-alun Kota Rengat). Teman saya pun sejak kecil sangat beragam. Ada keturunan Jawa, Tionghoa, Batak, sampai Sunda. Toleransi keberagaman, menurut saya inilah salah satu kekuatan Kota Rengat.
Kuliner Kota Rengat tahu buah kedondong? Ya, Rengat dijuluki kota kedondong dengan dodol kedondong sebagai oleh-oleh utamanya. Saking khasnya, di pusat kota rengat ada tugu berhiaskan kedondong. Sayangnya, sekarang produksi kedondong dan dodolnya tidak seperti dulu. Selain dodol, ada juga oleh-oleh keripik pisang.
Kuliner di Rengat sebenarnya perpaduan dari rasa Melayu, Minang, Tionghoa, dan Jawa. Ada roti jala dengan kuah kari, kadang kari diganti dengan rendang. Gulai ikan asam pedas termasuk salah satu kuliner yang khas di Rengat. Ikannya menggunakan patin dari Sungai Indragiri. Rasanya…Hmm… Gurihnya daging ikan dipadukan dengan kuah yang asam segar sekaligus ada sensasi pedasnya.
Untuk penganannya, ada bolu berendam. Bolu ini memang persis seperti namanya. Jadi, bolu yang sudah jadi direndam dalam air gula. Menurut saya, rasanya terlalu manis. Kalau tidak terbiasa, akan terasa aneh di lidah. Bolu berendam ini merupakan penganan wajib di acara-acara resmi kebudayaan Melayu Rengat.
Sumber : Kompasiana
Ditulis : yudikurniawan


Komentar Via Facebook :