Menyusun Cerita Best Practice Menggunakan Metode STAR Oleh Revianna

Menyusun Cerita Best Practice Menggunakan Metode STAR Oleh Revianna

Revianna

RANAHRIAU.COM - Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode STAR (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)

Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran

NAMA : REVIANNA
JABATAN : GURU SMAN 1 KUANTAN MUDIK

Situasi:
Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

       Materi hikayat merupakan salah satu pelajaran yang sulit dipahami oleh siswa pada Bahasa Indonesia. Pada umumnya siswa merasa kesulitan memahami isi cerita karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu, seperti kata-kata klise sahibul hikayat, menurut empunya cerita, konon, tiada seberapa lama, hulu balang raja, dan sejenisnya. Sehingga membuat siswa kurang tertarik membaca hikayat ataupun menemukan unsur-unsur instrinsik hikayat.

       Sementara dari segi guru, pembelajaran bahasa Indonesia masih bersifat teoretif dan kurang aplikatif. Kurang berhasilnya pembelajaran disebabkan juga metode yang dirancang kurang mengoptimalkan pengembangan kemampuan siswa dalam hikayat. Selain itu, sarana pendukung berupa buku-buku, sumber informasi yang terbatas dan media yang mendukung pembelajaran bahasa Indonesia.

        Hasil tanda ke lapangan menunjukkan bahwa kondisi prestasi menganalisis unsur hikayat siswa SMA kelas X SMA N 1 Kuantan Mudik belum mencapai tandard yang ditetapkan yakni rata-rata 75. Dalam pembelajaran siswa mengalami kesulitan karena dituntut berpikir kritis. Di sisi lain, berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa sebagai sampel bahwa mereka walaupun sudah mendapat penjelasan teori menganalisis dari guru, tetapi mereka mengalami kesulitan memahami penjelasan kerana di anggap tidak menarik, dan kemudian  Siswa juga tidak berani bertanya artinya siswa pasif hanya mendengarkan penjelasan guru. Akibat dari kesulitan-kesulitan tersebut membuat mereka kurang senang saat pembelajaran menganalisis unsur pembangun hikayat.

Berdasarkan studi literatur dengan mempertimbangkan kondisi siswa dan fasilitas yang dimiliki sekolah, penulis memilih penerapan model pembelajaran inkuiri descovery, dalam mengatasi  rendahnya keterampilan siswa dalam menemukan nilai-nilai pada hikayat.

Di sisi lain Bruce & Bruce(1992) juga menyatakan bahwa inkuiri adalah salah satu strategi yang digunakan dalam kelas yang berorientasi proses. Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa, yang mendorong siswa untuk menyelidiki masalah dan menemukan informasi.

Menurut I Wayan Wendra, dkk. Setelah penerapan pembelajaran berbasis inkuiri pada cerpen, tampak aktivitas siswa dalam belajar sangat aktif dan interaksi siswa dalam pembelajaran telah melakukan interaksi multiarah yakni siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan kelompok yang tampil dan guru. Pembelajaran menganalisis unsur pembangun cerpen berbasis inkuiri bermaterikan teks autentik dan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menganalisis unsur pembangun cerpen.

Dengan adanya permasalahan tersebut maka penulis akan menerapkan metode yang tepat, dan didukung oleh media pembelajaran yang menarik dan inovatif serta diimbangi dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran untuk menentukan nilai-nilai yang terkandung  pada hikayat. Tentunya dengan Metode yang tepat seharusnya dapat memotivasi siswa untuk memiliki kemampuan  menetukan unsur-unsur, dan nilai-nilai pada hikayat baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut akan mengarahkan siswa untuk memiliki kemampuan berpikir kritis.

Sebagai guru Bahasa Indonesia, penulis merasa bertanggungjawab untuk ikut berperan aktif memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Baik memberikan solusi pada siswa, agar memiliki keterampilan dalam menentukan nilai-nilai hikayat maupun unsur-unsur hikayat.

Tantangan : 
Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat; Berdasarkan eksplorasi sumber penyebab masalah melalui observasi, wawancara, dan kajian literatur, ditemukan beberapa hal yang melatarbelakangi rendahnya kemampuan siswa dalam mengidentifikasi nilai-nilai dan isi dalam hikayat, antara lain:

a) Penggunaan bahasa melayu pada hikayat membuat siswa kurang tertarik untuk menemukan unsur-unsur instrinsik hikayat.

b) Lingkungan sekolah tidak terlalu mendukung siswa dalam mengekplorasi kegiatan yang berhubungan dengan sastra.

c) sarana pendukung berupa buku-buku sumber yang terbatas 
Siswa kurang memahami esensi struktur hikayat.

d) Media pembelajaran yang digunakan guru kurang inovatif dan cenderung tidak interaktif.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa, tantangan untuk mengatasi permasalahan rendahnya keterampilan memahami nilai-nilai hikayat muncul.

Aksi :

a) Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini.

b) Pemilihan Model Pembelajaran
Penulis memilih penerapan model pembelajaran inkuiri descovery dimana ada observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hipotesis), pengumpulan data (data gathering) dan menyimpulkan (conclussion) dengan memanfaatkan media pembelajaran teknologi seperti powert point.

Adapun yang melandasi keputusan pemilihan model dan media pembelajaran tersebut karena keunggulan, dan manfaat yang bisa diperoleh setelah penerapan. Seperti diungkapkan Fransiska Faberta Kencana Sari, (2019) bahwa model pembelajaran inquiry memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

1) Menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor siswa secara seimbang, sehingga pembelajaran dengan model Inquiry dianggap jauh lebih bermakna.

2) Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka masing-masing.

3) Sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku karena adaya pengalaman.

4) Membantu siswa menggunakan ingatan dalam mentransfer konsep yang dimilikinya kepada situasi-situasi proses belajar yang baru.

5) Siswa lebih aktif dalam mencari dan mengolah informasi sampai menemukan jawaban atas pertanyaan secara mandiri.

Model pembelajaran discovery-inquiry ini merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan anak dalam meningkatkan kemampuan akademik, terutama dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

Discovery-inquiry learning  menuntun siswa untuk dapat berpikir kritis dan bebas dalam menemukan hal-hal baru. Penerapan model Pembelajaran Inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar membaca siswa.

Adapun langkah pembelajaran (sintak) model pembelajaran inkuiri berbasis proyek adalah sebagai berikut:

1) Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)
Guru memasuki kelas dan melakukan kegiatan persiapan rutin; 

a) Memeriksa kebersihan kelas dan kerapian pakaian dan meja belajar siswa.
b) Guru mengucapkan salam kepada siswa.
c) Guru meminta salah seorang siswa memimpin doa.
d) Guru mengecek kehadiran siswa.
e) Guru menyampaikan hasil yang akan dicapai dari topik ini.

f) Kegiatan Inti (70 Menit)

g) Guru menampilkan powert point pembelajaran tentang hikayat untuk menarik perhatian siswa.

h) Guru meminta siswa untuk memberikan contoh tentang hasil riset sederhana yang diketahui dan guru.

i) Memberikan penguatan terhadap jawaban siswa yang benar tentang hasil riset sederhana.

j) Guru menyampaikan contoh hikayat dan mengingatkan cara mengidentifikasi informasi (masalah, Cara penyelesaian masalah, dan ahsil yang diperoleh).

k) Siswa bergabung dalam kelompok, berdasarkan pembentukan kelompok yang dilakukan guru.

l) Pembentukan kelompok dilakukan berdasarkan hasil tes diagnostik sebelumnya.

m) Siswa mengidentifikasi informasi penting (nilai-nilai, dan unsur ) sebuah hikayat.

o) Menuliskan hasilnya.

p) Guru mendatangi setiap kelompok untuk memantau proses pekerjaan siswa sekaligus

q) Memberikan masukan dan saran perbaikan. (Inquiry)

r) Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil identifikasi informasi yang ditemukan
Kegiatan Penutup (10 Menit)

s) Guru meminta siswa untuk mengutarakan secara lisan pemahaman siswa tentang materi yang sudah.

t) Siswa memberikan kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari

u) Guru menginformasikan kegiatan pembelajaran yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya dan meminta siswa mempelajarinya.

v) Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.

w) Pemilihan Media Pembelajaran

x) Penulis memanfaatkan penggunaan media teknologi informasi yang tersedia di sekolah untuk mendukung penerapan model pembelajaran inkuiri descovery.

Menurut Raihani (2019) , vi Barokah (2021), penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi informasi memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

1) Menciptakan pembelajaran yang menarik karena keterlibatan emosional siswa akan sangat mempengaruhi semangat belajar dan daya ingat terhadap materi yang dipelajarinya

2) Pemanfaatan teknologi informasi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa, yang seharusnya berdampak positif pada prestasi akademik siswa

3) Sebagai alat belajar utama untuk memberikan penguatan belajar awal, merangsang dan memotivasi peserta didik

4) Pendidik menjadi tertantang untuk menggunakan Tekhnologi Informasi dan Komunikasi

5) Tersedianya informasi yang semakin banyak meluas dan seketika

6) Tersajinya informasi dalam berbagai bentuk dalam waktu yang cepat.

7) Fleksibel tidak terbatas ruang dan waktu.

8) Peserta dapat melaksanakan pembelajaran secara mandiri dan online

9) Memudahkan dalam memberikan akses luas terhadap para siswa dan guru;

10) Meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen, pengelolaan, dan administrasi lembaga pendidikan;

11) Meningkatkan profesionalisme pengajar;

12) Meningkatkan mutu dan kualitas Pembelajaran antara guru dan para siswa.

Berikut ini link yang digunakan dalam pembelajaran dengan memanfaatkan media pembelajaran teknologi informasi:

Stimulus hikayat indera bagsawan 
Video Pembelajaran 

https://www.youtube.com/watch?v=0lEeAeIWJr8
https://youtu.be/0lEeAeIWJr8

Peserta didik memperhatikan Tayangan video cerpen https://www.youtube.com/watch?v=SK8i2HEHfgc

Penilaian Hasil Belajar

Penilaian dalam pembelajaran ini dilakukan atas proses, hasil belajar, dan produk. Penilaian proses dilaksanakan melalui observasi dan nilai tugas, sedangkan penilaian hasil belajar dilaksanakan melalui LKPD siswa.

Refleksi Hasil dan dampak 
Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut.

Penerapan model pemebelajaran inquiry berbasis penemuan memanfaatkan media pembelajaran teknologi informasi, memberikan dampak positif bagi siswa. Beberapa dampak positif yang muncul adalah sebagai berikut.

Peningkatan Aktifitas Belajar
Aktivitas belajar adalah kegiatan mengolah pengalaman dan atau praktik dengan cara mendegar, membaca, menulis, mendiskusikan, merefleksikan rangsangan, dan memecahkan masalah.

Aktivitas yang dimaksud disini tentunya yang relevan dengan pembelajaran yang sedang berlangsung. Aktivitas yang relevan dengan pembelajaran adalah mempraktikkan penjelasan guru, melakukan diskusi dan mencatat.

Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa untuk menguasai konsep materi atau memecahkan masalah melalui suatu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial serta berlatih bersikap positif.

Kegiatan-Secara detil, aktivitas positif yang dilakukan siswa dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

1) Kegiatan visual, yang didalamnya membaca, melihat gambar-gambar, mengganti eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.

2) Kegiatan-kegiatan lisan, seperti mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi.

3) Kegiatan-kegiatan mendengarkan, seperti mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, dan  mendengarkan bahan tayang dalam bentuk audio visual.

4) Kegiatan-kegiatan menulis, seperti menuliskan nilai-nilai dalam hikayat.

5) Kegiatan eksplorasi informasi, seperti melakukan browsing di internet untuk mencari dan mengumpulkan bahan
 Kegiatan-kegiatan mental, seperti merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat, hubungan-hubungan, dan membuat keputusan.

6) Kegiatan-kegiatan emosional, seperti minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini terdapat dalam kegiatan pembelajaran karya ilmiah di kelas dan saling melengkapi satu sama lain.

Peningkatan Hasil Belajar
Soediarto (dalam Solihatin, 2013: 6) mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan suatu pengetahuan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti program pembelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.

Menurut Bloom (dalam Solihatin, 2013: 5), membagi hasil belajar ke dalam 3 ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil belajar pada dasarnya merupakan suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat latihan atau pengalaman.

Setelah penerapan model pembelajaran inkuiri berbasis penemuan dengan memanfaatkan media pembelajaran teknologi informasi, berikut ini dipaparkan capaian hasil belajar siswa.
Peserta didik mampu menuliskan nilai-nilai dalam hikayat berupa:
Agama
Sosial
Budaya
Moral
Edukasi

Peserta didik mampu menjelaskan kesesuian nilai-nilai hikayat dengan kehidupan saat ini. Siswa dapat membandingkan nilai dan kebahasaan hikayat dan cerpen.

Keunggulan model yang diterapkan
Keunggulan model inquiry menuntut peserta didik untuk terlibat langsung dengan fenomena dan kasus kehidupan nyata tanpa membekali mereka dengan teori.

Peserta didik dituntut untuk menghasilkan aturan dan teori pemandu berdasarkan pengamatan mereka terhadap kasus dan fenomena nyata tersebut. 

Inquiry menekankan pada proses mencari, sedangkan discovery menekankan pada penemuannya. Jika seseorang menggunakan metode pencarian (berinkuiri), kemungkinan besar akan menemukan, dan suatu penemuan (discovery) adalah hasil dari suatu pencarian.

Penerapan model pemebelajaran inquiry berbasis penemuan memanfaatkan media pembelajaran teknologi informasi, memberikan dampak positif bagi siswa.

Selain itu, juga mempermudah guru dalam mentransfer pengetahuan terkait materi pembelajaran yang sedang didiskusikan. Siswa terlihat belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.Kegiatan pembelajaran seperti ini sebenarnya juga dinilai efektif untuk semua tingkatan di SMk/SMA.

Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran, yang pada akhirnya akan memunculkan kreatifitas dan kerjasama siswa akan terwujud dengan dinamis.

Munculnya dinamika gotong royong seluruh siswa yang merata juga menjadi stimulus bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

Penggunaan media interaktif berbasis teknologi juga memenuhi tuntutan pemeblajaran berbasis TPACK yang saat ini tengah dianjurkan oleh pemerintah.

Rangkaian kegiatan ini membuat siswa lebih aktif, kecakapan kolaboratif, meningkatakn motivasi, membuat siswa mengelola sumber belajar mandiri, dan juga kemampuan mengelola LKPD.

Kendala dalam Pelaksanaan Model
Kendala yang dihadapi dalam implementasi model pembelajaran ini adalah faktor media yang sangat tergantung pada listrik, komputer, dan jaringan internet. Jika salah satu saja dari tiga komponen media pembelajaran itu bermasalah, maka proses pembelajaran akan terhambat.

Sedangkan disisi lain, kegiatan berliterasi siswa juga sangat dituntut dalam pelaksanaan model pembelajaran ini. Siswa dengan literasi rendah, tentu akan kesulitan mengikuti alur pembelajaran, yang dibatasi oleh waktu yang pendek. Disinlah peran guru harus bijak dalam penetapan anggota kelompok. Harus ada siswa yang dinilai memiliki literasi sedang atau tinggi pada tiap kelompok.

Observasi tentang kemampuan siswa ini dapat dilakukan melalui tes diagnostik sebelum pertemuan pertama dilaksanakan. Selain itu, kondisi siswa yang tidak memiliki perangkat android/laptop dan kuota internet di rumah, juag menjadi kendala dalam tindak lanjut pembelajaran di luar kelas.

Sebab, model pembelajaran ini tidak hanya menuntut siswa belajar di dalam kelas, namun juga ada tindak lanjut yang dilakukan siswa perkelompok di luar kelas dalam kurun waktu tertentu. Kemudian masalah-masalah yang tidak terduga lain muncul ketika proses pembelajaran berlangsung.

Respon siswa terhadap penerapan model

Respon positif siswa terkait pelaksanaan model pembelajaran ini dikelas, baik selama proses pembelajaran maupun setelah pembelajaran. Selama proses pembelajaran, respons siswa dapat dilihat dari antusiasme siswa mengikuti tahapan pembelajaran, sampai pada ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam skenario pembelajaran. Pada tahap refleksi perwakilan siswa menyatakan sangat tertarik dengan pembelajaran seperti itu, karena dianggap tidak membosankan dan banyak menemukan hal baru. Setelah pembelajaran selesai, beberapa siswa bertanya pada guru tentang apa yang akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya. Bahkan ada siswa yang mempertanyakan materi selanjutnya (teks yang berbeda), apakah akan dilakukan seperti kegiatan pembelajaran yang saat ini tengah mereka lakukan. Hal tersebut menggambarkan bahwa pemilihan media pembelajaran berbasis teknologi dengan dukungan fasilitas komputer dan internet (unlimited) memberikan energi tambahan bagi siswa untuk belajar. Terlebih jika model pembelajaran yang diterapkan dapat mengeksplorasi rasa ingin tahu siswa dan mengakomodir kemampuan mereka dalam menemukan jawaban atas masalah yang tengah didiskusikan.


Rencana tindak lanjut
Berdasarkan hasil kegiatan akhir (meninjau kambali kemampuan terhadap materi pembelajaran). Kegiatan tindak lanjut dapat dilaksanakan di luar jam pembelajaran, sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia. Pada prinsipnya kegiatan tindak lanjut untuk mengoptimalkan hasil belajar yang baik dalam bentuk pengayaan dan remedial. Serta memberikan motivasi literasi pada siswa dengan gerakan pojok buku yang disediakan pada setiap kelas. Diharapkan siswa dapat membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran. 

Simpulan

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa:

Penerapan model pemebelajaran Descovery inkuiri berbasis penemuan memanfaatkan media pembelajaran teknologi, memberikan dampak positif bagi siswa. Hal ini karena dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, selain juga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Keunggulan model pemebelajaran decovery inkuiri berbasis penemuan memanfaatkan media pembelajaran teknologi antara lain; a) dapat membuat siswa belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. B) Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran, yang pada akhirnya akan memunculkan kreatifitas dan kerjasama siswa akan terwujud dengan dinamis.

Kendala yang dihadapi dalam implementasi model pembelajaran ini adalah faktor media yang sangat tergantung pada listrik, komputer, dan jaringan internet. Jika salah satu saja dari tiga komponen media pembelajaran itu bermasalah, maka proses pembelajaran akan terhambat. Selain itu tuntutan lain yang dibutuhkan adalah tingkat berliterasi siswa minimal pada kategori “sedang”.
Respon siswa terhadap pembelajaran  positif terkait pelaksanaan model pembelajaran ini dikelas, , baik selama proses pembelajaran maupun setelah pembelajaran.

Editor : Eki Maidedi
Komentar Via Facebook :