Wajah dunia Pendidikan dan Dunia Kerja Indonesia dimasa Pandemi

Wajah dunia Pendidikan dan Dunia Kerja Indonesia dimasa Pandemi

Penerapan dan pemberlakuan Pasar Bebas (Globalisasi) dan Revolusi Industri 4.0 terakhir dengan Pandemi Covid-19, mengakibatkan cepatnya perubahan teknologi, inovasi produk yang terus menerus terjadi, hilangnya sekat antar negara dan juga pergeseran budaya serta generasi.

RANAHRIAU.COM-Dinamika perkembangan teknologi informasi yang cepat dan pesat menjadikan perubahan pada semua dimensi dan tatanan kehidupan di dunia, termasuk didalamnya adalah sektor pendidikan serta aktivitas usaha dan industri. Hal ini memiliki konsekwensi dan adanya tuntutan untuk melakukan adaptasi terhadap perkembangan dan perubahan tersebut agar tetap dapat bertahan dan survive.

Perubahan kondisi (ekonomi) baik lokal, nasional dan global secara langsung akan berpengaruh terhadap dunia pendidikan, misalnya pergeseran struktur ekonomi dari agraris ke industri dan jasa.  Pergeseran itu secara kait mengkait akan berpengaruh pula terhadap kebutuhan tenaga kerja, baik menyangkut kualitas maupun kuantitas. 

Kondisi tersebut mengharuskan perusahaan-perusahaan di dunia melakukan adaptasi terhadap semakin pendeknya siklus desain bisnis dan produk yang secara langsung berhubungan dengan kesesuaian kualitas sumber daya manusia dengan tuntutan kompetensi dunia kerja diberbagai bidang. 

Satu diantara upaya adaptasi yang menjadi keniscayaan dan mutlak untuk dilakukan dalam menghadapi perkembangan dunia yang dinamis tersebut adalah program peningkatan kapasitas (capacity building) SDM. Peningkatan dan pengembangan kapasitas serta kompetensi SDM melalui pendidikan dan pelatihan memiliki peran penting dan strategis dalam menyiapkan SDM untuk dapat bekerja dan berusaha dengan baik dan profesional mengikuti perubahan yang terjadi.

Dari data dan fakta yang mengemuka, output dunia pendidikan (lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi) tidak dapat mengimbangi tuntutan perkembangan dunia usaha dan industri tersebut, sehingga angka pengangguran Indonesia semakin meningkat. Setiap tahun terus terjadi kesenjangan antara Dunia Pendidikan (supply side) sebagai pabrik tenaga kerja baru dengan ketersediaan lapangan kerja ataupun kemampuan untuk diterima di Dunia Kerja sebagai demand side.

Bersadarkan data BPS, pada 2018 angka pengangguran di Indonesia tercatat sebesar 7.000.691 orang atau 5,34% dari jumlah angkatan kerja. Jumlah itu menurun tipis dibanding tingkat pengangguran terbuka pada 2017 sebesar 7.040.323 orang atau 5,5% dari total angkatan kerja. Jumlah pengangguran pada 2017 juga hanya menurun sedikit dibandingkan angka 2016 yang sebanyak 7.031.775 orang, atau 5,61% dari total angkatan. Hal yang sama berturut-turut bisa ditemukan jika menelusuri tingkat pengangguran selama 6 tahun terakhir.

Kondisi ini dipertegas oleh Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebagaimana di kutif dari Kompas.com, beliau menjelaskan tingkat pengangguran terbuka diproyeksi akan meningkat 4 juta hingga 5,5 juta di tahun 2020 akibat dampak pandemi virus corona.

Lambannya laju penurunan jumlah pengangguran diikuti dengan selalu bertambahnya jumlah angkatan kerja berlatar belakang pendidikan SMA - SMK dan Perguruan Tinggi (PT) yang menganggur, sehingga angka pengangguran terus naik sepanjang 2012 – 2018.

Berdasarkan catatan INDEF, jumlah penganggur lulusan SMA-SMK naik dari kisaran 1 juta orang pada 2012 menjadi sekitar 1,7 juta orang pada 2018. Sementara itu, penganggur lulusan PT (Pergurusan Tinggi) meningkat dari sekitar 400.000 orang menjadi 700.000 orang. Sedangkan daya serap lapangan kerja (demand) sebesar 37% yang artinya masih terlalu jauh di bawah dibandingkan dari mesin produksi Dunia Pendidikan (supply).  

Dari data di atas, sudah sangat jelas Indonesia mempunyai permasalahan yang tidak ringan dalam mengatasi pengangguran, utamanya yang bergelar sarjana. Bila tidak segera diatasi, angka ini bukannya semakin turun tapi akan melonjak naik.  Apalagi bila mengingat tiap tahun Dunia Pendidikan pasti ada kelulusan, apatah lagi ada dua gelombang wisuda di tiap Perguruan Tinggi (PT), maka tinggal mengalikan saja jumlah tersebut dengan jumlah PT di Indonesia. 

Dari gambaran data dan fakta tersebut tergambar permasalahan bahwa pertumbuhan lapangan kerja dari waktu ke waktu tidak sebanding dengan pertambahan jumlah lulusan pendidikan yang mencari atau membutuhkan pekerjaan, di sisi lain banyak lulusan pendidikan yang menganggur dikarenakan tidak dapat menciptakan pekerjaan sendiri maupun karena tidak terserap oleh lapangan kerja yang tersedia.  

Pada sisi lain terdapat pula sejumlah lapangan kerja yang sulit dipenuhi oleh angkatan kerja yang ada.  Hal ini berkaitan erat dengan adanya kesenjangan antara jenis pengetahuan akademik maupun keahlian atau keterampilan yang dimiliki lulusan pendidikan dan kemampuan kerja yang dibutuhkan oleh dunia kerja. 

Jika kita mencoba menelisik lebih jauh beberapa penyebab kesenjangan tersebut antara lain, dari sisi demand (dunia usaha dan industri) terdapat keluhan dunia kerja terhadap kualifikasi lulusan yang tidak sesuai dikarenakan disain sistem pendidikan yang tidak relevan dengan kebutuhan dunia kerja, adanya anggapan dunia usaha dan industri terhadap rendahnya produktivitas tenaga kerja.

Disamping itu mis-informasi disebabkan jumlah lowongan pekerjaan yang selalu muncul melalui media massa atau sumber informasi lainnya, faktor aksesibilitas (kesulitan daerah tertinggal untuk bisa mendapatkan tenaga kerja dengan kualifikasi yang dipersyaratkan), rendahnya penciptaan usaha baru dan kemampuan berwirausaha, belum optimalnya informasi pasar kerja yang dinamis dan up-to- date, serta kurang adanya komunikasi antara pasar kerja (sisi permintaan/demand) dengan dunia pendidikan (sisi pasokan/supply).

Sedangkan beberapa penyebab kesenjangan dari sisi supply, antara lain internal dunia pendidikan (sarana prasarana, fasilitator, dan sistem pembelajaran) yang belum responsif atau selalu terlambat menyikapi perubahan pasar kerja. Adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kualifikasi yang diperlukan oleh dunia kerja.

Jumlah lulusan yang terus meningkat tidak dibarengi dengan penyiapan lulusan ke dunia kerja misalnya kemampuan wirausaha dan softskill lainnya. Pada sebagian lokasi/wilayah, pemenuhan kebutuhan tenaga kerja belum tersuplai oleh lulusan pendidikan di wilayah tersebut yang mengindikasikan kekurangmerataan.

Sebenarnya pemerintah telah berupaya keras untuk mengatasi kesenjangan antara supply (dunia pendidikan sebagai pemasok tenaga kerja) dan demand (dunia usaha dan industri), berbagai kebijakan berupa regulasi dan program juga telah dilakukan. Namun pada praktik dan realita, kebijakan dan program yang dibuat masih belum dapat menjawab dan mengatasi kesenjangan yang ada. Bahkan tak jarang justru menimbulkan persoalan baru dan semakin rumit (complicated).

Penerbitan regulasi berupa adanya peraturan perundang-undangan yang masing-masing dibuat oleh kementerian pendidikan, kementerian ketenagakerjaan, maupun kementerian teknis lainnya (Kemenperindag, Kementerian ESDM, Kementerian PUPR, dll), dalam praktiknya bukan hanya tumpang tindih (over lapping) namun juga kebanyakan tidak sejalan. Sebagai contoh pada urusan sertifikasi kompetensi, idealnya cukup berpedoman dan mengikuti apa yang menjadi peran dan fungsi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). Dunia pendidikan maupun kementerian terkait komit dan konsisten mempedomani BNSP, tetapi secara faktual ini belum terjadi.

Penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja (Link & Match) merupakan suatu upaya komprehensif untuk mensinkronkan pendidikan nasional dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga terjadi keselarasan dalam pelaksanaannya. Pemerintah terutama dunia pendidikan (dalam hal ini Kemendikbud) dan Kemenakertrans, harus segera menyatukan gerak langkah dan berjalan seiring dalam kerangka mengatasi kesenjangan antara sisi supplai dan demand, khususnya penyediaan sumber daya manusia yang kompeten, profesional dan berdaya saing.

Proyeksi kebutuhan kedepan terhadap kompetensi yang dibutuhkan dari dunia kerja dan jumlahnya pada setiap lokasi di Indonesia diperlukan untuk mendisain sistem pendidikan yang meliputi kualitas pendidik, sarana prasarana dan sistem pembelajarannya
Sumber Daya Manusia yang kompeten sangat diperlukan, yaitu SDM yang memiliki kompetensi tertentu yang meliputi aspek pengetahuan (knowledge, science), keterampilan (skill, technology), dan sikap perilaku (attitude) yang dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan pekerjaan. Tersedianya sumber daya manusia berkualitas yang memiliki kompetensi menjadi prasyarat utama guna meningkatkan daya saing dunia usaha dan perekonomian nasional.

Organisasi bisnis perusahaan memandang SDM sebagai human capital, dimana kompetensi dan daya saing SDM merupakan aset organisasi untuk mendorong eksistensi organisasi dalam lingkungan bisnis yang kompetitif. Berhasil tidaknya suatu organisasi perusahaan dalam menciptakan keunggulan bersaing sangat tergantung pada kualitas SDM.


Penulis : MUHAMMAD HERWAN, Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Provinsi Riau

 

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT :