Beberapa Ormas di Riau Diberikan Pemahaman 4 Pilar

Beberapa Ormas di Riau Diberikan Pemahaman 4 Pilar

PEKANBARU, RanahRiau.com - Mengangkat tema Penanaman Nilai Berbangsa Dan Bernegara, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD/MPR) RI asal Riau, Intsiawati Ayus SH MH menggelar kegiatan sosialisasi 4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, di gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Rabu (9/3/16).

Ratusan peserta yang hadir, merupakan himpunan dari beberapa lembaga kemasyarakatan di Riau, diantaranya Pemuda Pancasila, Forum Pemuda Rumbai Bersatu (FPRB), Ikatan Pelajar Mahasiswa Pekanbaru (IPEMARU), Ikatan Pemuda Pekanbaru (IPP),  Institut Pengembangan Sumberdaya Riau (IPSR).

Ketua IPEMARU, Zulkarnaini, memberikan pandangan mengenai pemahaman UUD 1945 pada era saat ini. Menurut dia, masih banyak dari pemuda yang belum membaca habis isi dari UUD 1945. Oleh sebab itulah banyak orang yang tidak mengerti makna dari UUD 1945 itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

"Mengenai NKRI, saya melihat Kota Pekanbaru dihuni berbagai agama suku dan budaya. Dengan bersanding eloknya keanekaragaman itu, saya rasa Pekanbaru Kota yang aman," ujarnya.

Sementara itu, Ketua IPP, Yusfar, beranggapan jika nilai-nilai berkehidupan berbangsa dan bernegara, khsusunya Riau, yang dikenal berbudaya melayu dengan nuansa islam, betul-betul mengutamakan sifat mengalah.

"Saya juga berharap agar para pemuda tidak masa bodoh dalam ajang Pilkada dengan bersikap Golput. Karena pemuda itu merupakan tiang tonggak suatu Negara," ujarnya.

Pandangan selanjutnya, dikemukakan oleh ketua FPRB, Ali Syahbana. Rasa Nasionalisme saat ini sudah mulai pudar. Indonesia terbebas dari penjajahan Negara luar namun kini dijajah oleh bangsa sendiri. Sebagai contoh, Ia menyebut Provinsi Riau dipimpin oleh 3 Gubernur yang berakhir dengan status terdakwa, tersangka, atas kasus korupsi.

"Kami berharap ini dijadikan pelajaran yang sangat berharga sekali," katanya.

Dalam acara itu, dibuka juga sesi dialog tanya jawab. Salah seorang Mahasiswa asal Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Pekanbaru, bertanya apa sebab burung Garuda dijadikan lambang Negara. Padahal kata dia, burung tersebut tidak pernah ada. Sehingga Indonesia terkesan Negara khayalan.

"Saya tidak mengetahui secara lengkap sejarah awal kenapa Garuda menjadi lambang Negara, itu tidak asal pilih saja. Tapi saya berikan pemahaman dasar, yakni melalui sayembara yang dilakukan para proklamator dan tokoh pendiri bangsa. Jadi secara histori, falsafah Garuda mengartikan sosok yang kuat. Karena proses pemilihannya melalui tahapan yang panjang," jawab Intsiawati.

Seluruh peserta yang hadir, dibekali dengan buku materi Sosialisasi 4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. (Nof)

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :