Liberasi, Humanisasi dan Transendensi gerakan Amar Makruf nahi mungkar
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM - Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi dakwah yang telah mencapai pelosok negeri ini terlahir dari sebuah kegundahan seorang anak muda yang jatuh cinta dengan ilmu pengetahuan, Muhammad Darwis namanya. Pemuda yang begitu gemar belajar, dan terus belajar sepanjang hayatnya. Akal dan ilmu pengetahuan mendorongnya untuk rela berjibaku untuk terus menebar manfaat bagi sesama.
Beranjak dari kegelisahan Muhammad Darwis yang kemudian berganti nama menjadi Ki Ahmad Dahlan mentransformasi ilmunya dengan syiar yang membawa perubahan. Dalam Film Sang Pencerah yang diluncurkan pada 2010 disutradarai Hanung Bramantyo, Ki Ahmad Dahlan menggambarkan agama melalui alunan biola yang indah kemudian menafsirkan pemahaman bahwa orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, tentram, damai, dan cerah. Karena hakikat agama itu seperti musik, mengayomi, menyelimuti dan jika tak mempelajarinya dengan benar, itu akan membuat resah lingkungan.
Wujud dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Ki Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 tepatnya 18 November 1912 M berhimpun bersama menggagas sebuah persyarikatan Muhammadiyah. Kata ”Muhammadiyah” secara bahasa berarti ”pengikut Nabi Muhammad”. Penggunaan kata ”Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menghubungkan dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad yang tak selalu indah dan penuh pengorbanan demi kemaslahatan umatnya.
Muhammadiyah lahir ditengah majelis ilmu diruang yang kecil dengan landasan amar makruf nahi mungkar menebar manfaat di seluruh segi kehidupan. Gerakan amar makruf nahi mungkar Muhammadiyah tidak hanya tentang hubungan dengan sang pencipta. Gerakan Muhammadiyah dapat diartikan sebagai Liberasi, Humanisasi, dan Transendensi.
Menurut KBBI Liberasi adalah proses membebaskan seseorang dari kontrol atau kendali orang lain. Proses syiar Muhammadiyah bergerak membebaskan manusia dalam ketertindasan, keterbelakangan dan kebodohan. pemikiran Ki Ahmad Dahlan berupaya membebaskan masyarakat dari bentuk kezaliman dengan hadir ditengah masyarakat kecil yang terbelenggu dalam kebodohan, hingga tak tau bagaimana untuk dapat keluar dari lingkaran belenggu tersebut. Sehingga masyarakat yang pada awalnya asing dengan kehadiran Muhammadiyah, menerima Muhammadiyah sebagai kajian kultural yang mencerahkan.
Dalam upaya tersebut Muhammadiyah terus bergerak dengan bidang pendidikan, kesehatan dan berbagai bidang sosial kemasyarakatan untuk menjangkau masyarakat dengan bingkai humanisasi. Dengan tujuan memanusiakan manusia agar dapat keluar dalam tirani penjajahan ditanah merdeka ini, baik dari bangsa asing maupun dari bangsa sendiri.
Transendensi nilai-nilai gerakan Muhammadiyah dengan gaya Islam yang moderat bertujuan menuju jalan rahmatan Lil Alamin. Penuh ketaatan dan ketaqwaan yang berlandaskan Al-Qur'an dan sunnah, membentuk pribadi unggul untuk modal utama dalam menjalankan amanah sebagai Khalifah di muka bumi.
Pergerakan yang dinamis itu mengantarkan Muhammadiyah pada usia 107 tahun. Usia yang lebih satu dari satu abad ini terus bertransformasi bergerak menjadi salah satu kekuatan besar yang selalu konsisten berkontribusi dalam mencerdaskan bangsa. Landasan teologi Al-Maun menjadi dasar gerak dakwah dan amal usaha Muhammadiyah, semoga dapat terus menjadi pengingat agar Sang Surya terus menerangi peradaban dan mencerahkan bangsa.
Selamat milad Muhammadiyah 107. Tetaplah bersinar Sang Surya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
(Penulis Arma Winarni bekerja di Manajemen dan Tenaga Pengajar di Bimbingan belajar Salsabila Private. Alumni STKIP Aisyiyah jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ketua Bidang Organisasi PD Nasyiatul Aisyiyah Kota Pekanbaru, Wakil Ketua FTBM Prov Riau)


Komentar Via Facebook :